Headline

SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

Membalikkan Kepercayaan

03/3/2025 05:00

PASAR keuangan dalam negeri terjerembap sepanjang Februari 2025 lalu. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) rontok ke level terendah sejak kejatuhan terakhir pada saat pandemi covid-19. IHSG ambruk sekitar 8% selama Februari ke level 6.270,60 pada Jumat (28/2).

Kapitalisasi di pasar bursa juga terus tergerus dan tinggal menyisakan Rp10.880 triliun pada akhir pekan lalu. Pada pekan sebelumnya, kapitalisasi pasar bursa masih senilai Rp11.786 triliun. Sepanjang hari di akhir pekan kemarin, investor asing bahkan sampai mencetak net sell sebesar Rp2,91 triliun.

Dengan banyaknya investor asing yang keluar, rupiah pun ikut terjungkal. Pada Jumat (28/2), pergerakan rupiah ditutup di level Rp16.596 per dolar Amerika Serikat (AS). Angka itu tidak hanya anjlok 0,86% dari hari sebelumnya, tapi juga merupakan level terburuk rupiah sejak era reformasi. Indonesia terakhir mencatat kurs rupiah Rp16.650 per dolar AS pada 17 Juni 1998 silam.

Betul bahwa melemahnya indeks saham di pasar dalam negeri ini salah satunya akibat terseret oleh pasar saham global maupun regional yang terus mengalami tekanan. Bursa di Asia sepanjang bulan lalu terpantau berada di jalur merah. Indeks saham Jepang Nikkei N225, contohnya, ambruk 2,88%. Begitu pula bursa Hong Kong, Hang Seng, melemah 2,93% dan indeks Korea Selatan Kospi merosot 3,39%.

Tidak salah pula bila ada faktor dari program ekonomi Presiden AS Donald Trump terutama dengan kebijakan tarifnya yang masih memanas serta kebijakan bank sentral AS, The Fed, yang menahan suku bunga untuk waktu lama (higher for longer). Kedua faktor itu membuat investor cenderung 'meninggalkan' emerging market termasuk Indonesia.

Ketidakpastian global, suka tidak suka, masih menjadi faktor terkuat yang memengaruhi pasar domestik. Belum lagi ada keputusan Morgan Stanley yang menurunkan peringkat indeks MSCI Indonesia dari equal-weight menjadi underweight. Semua variabel itu saling berhimpun, yang pada akhirnya menyebabkan pergerakan saham dan rupiah lesu darah.

Namun, bila hanya faktor-faktor tadi, yang kebanyakan berasal dari eksternal yang menjadi penyebab, mengapa pasar Indonesia mengalami kejatuhan yang lebih dalam ketimbang negara-negara lain? Apakah koreksi yang terjadi atas indeks dan rupiah kita masih bisa dikategorikan lumrah dan normal? Sejujurnya mesti kita katakan koreksinya sudah tidak sehat.

Dari sini kita bisa berhipotesis bahwa ada faktor lain yang membuat pasar finansial kita rontok hingga titik terendahnya belakangan ini. Kiranya, kondisi keterpurukan pasar saham dan rupiah saat ini mesti menjadi alarm serius bahwa ada yang mulai ragu-ragu terhadap sejumlah kebijakan yang ada belakangan.

Tak berlebihan bila banyak pakar menyebut bahwa problem utama, selain soal ketidakpastian global, yang mendorong kejatuhan bursa akhir-akhir ini ialah trust atau kepercayaan kepada pemerintah dengan kebijakan-kebijakan yang mereka buat. Investor ragu apakah kebijakan yang dirilis pemerintah mampu menjadi katalis positif bagi perekonomian atau justru sebaliknya, menambah risiko baru bagi stabilitas keuangan.

Pembentukan Badan Pembiayaan Investasi (BPI) Danantara, contohnya. Ia dibentuk tepat ketika bursa sedang berjuang menahan tekanan yang cukup berat. Danantara dengan semua proyeksi positifnya, sejatinya diharapkan mampu menjadi salah satu penahan tekanan itu. Namun, harapan tersebut terkoreksi karena pasar ternyata masih menyimpan keraguan terhadap efektivitas dan transparansi pengelolaan Danantara.

Kebijakan distribusi elpiji 3 kilogram yang sempat heboh tempo hari, juga tak membuat investor nyaman memandang Indonesia. Ditambah dengan masih maraknya kasus korupsi, termasuk korupsi yang baru saja terkuak yang diduga dilakukan oleh petinggi anak perusahaan PT Pertamina, maka bukan perkara mudah untuk membalikkan kepercayaan pasar itu.

Bisnis keuangan adalah bisnis kepercayaan. Sedikit saja kepercayaan pelaku pasar terusik, pasar finansial bisa seketika terguncang. Pemerintah semestinya tahu betul soal tersebut. Karena itu, segeralah cari jalan keluar untuk mengembalikan kepercayaan pasar sebelum pergerakan bursa dan rupiah kita terperosok lebih dalam. Jangan selalu menggerutu dengan menyebut ada yang memainkan keadaan. Itu tidak bijak.

 



Berita Lainnya
  • Menambal Defisit tanpa Bebani Rakyat

    28/2/2026 05:00

    PROGRAM Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia adalah oase bagi jutaan rakyat untuk mengakses layanan kesehatan.

  • Menata Ulang Efektivitas Demokrasi

    27/2/2026 05:00

    PEMBAHASAN revisi Undang-Undang Pemilu kembali menghadirkan satu isu strategis, yakni ambang batas parlemen.

  • Krisis Ruang Digital Anak

    26/2/2026 05:00

    RUANG digital yang semula digadang-gadang sebagai wahana belajar dan berkreasi bagi generasi muda kini berubah menjadi medan yang semakin berbahaya bagi anak-anak.

  • Ungkap Otak Sindikat Narkoba

    25/2/2026 05:00

    FANDI Ramadhan adalah potret dari petaka yang disebabkan oleh narkoba.

  • Menagih Imbal Hasil Investasi Pendidikan

    24/2/2026 05:00

    Para awardee ini dibiayai miliaran rupiah untuk mendapatkan kemewahan bersekolah ke luar negeri agar mereka pulang sebagai agen perubahan yang ikut membereskan ketidakidealan tersebut.

  • Sigap Membaca Perubahan Amerika

    23/2/2026 05:00

    DUNIA sedang menyaksikan titik balik luar biasa dalam lanskap perdagangan internasional.

  • Hasil Gemilang Negosiasi Dagang

    21/2/2026 05:00

    Pemerintah perlu memastikan harmonisasi regulasi, mempercepat layanan perizinan, serta memperkuat lembaga pengawas mutu agar tidak terjadi kasus penolakan produk di pelabuhan tujuan.

  • Memitigasi Penutupan Selat Hormuz

    20/2/2026 05:00

    IRAN menutup sementara Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan dengan negara adidaya Amerika Serikat.

  • Ramadan Mempersatukan

    19/2/2026 05:00

    SEPERTI pada 2022 dan 2024, juga pada banyak tahun sebelumnya, perbedaan jatuhnya 1 Ramadan kembali terjadi di Indonesia dan sejumlah negara lain.

  • Kendalikan Harga Segera

    18/2/2026 05:00

    KENAIKAN harga bahan pokok menjelang Ramadan kembali terulang. Polanya nyaris seragam dari tahun ke tahun.

  • Imlek dan Ramadan Merajut Tenun Kebangsaan

    17/2/2026 05:00

    SUDAH lebih dari dumedia a dekade, Hari Raya Imlek berdiri tegak sebagai simbol kematangan Republik dalam merawat keberagaman.

  • Meneror Penggarong Uang Negara

    16/2/2026 05:00

    BADAN Pusat Statistik (BPS), awal Februari lalu, baru saja merilis angka pertumbuhan ekonomi yang dapat dicapai Indonesia sepanjang 2025, yakni 5,11% secara tahunan.

  • Percepat Rekonstruksi, Pulihkan Harapan

    14/2/2026 05:00

    DI antara puing-puing yang perlahan berganti struktur permanen, tersimpan doa ribuan warga terdampak bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

  • Swasembada Energi semata demi Rakyat

    13/2/2026 05:00

    SWASEMBADA pangan dan energi, itu dua janji Prabowo Subianto saat membacakan pidato pelantikannya sebagai presiden pada 2024 lalu.

  • Makin Puas, makin Tancap Gas

    12/2/2026 05:00

    INGGINYA tingkat kepuasan masyarakat merupakan hal yang diidam-idamkan pemimpin.

  • Mewujudkan Kedaulatan Emas

    11/2/2026 05:00

    LONJAKAN harga emas dunia seharusnya menjadi kabar baik bagi Indonesia.