Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
DATANGNYA musibah bencana alam tidak bisa ditolak. Namun, bencana sesungguhnya dapat dicegah atau sekurang-kurangnya diminimalkan dampak dan akibatnya. Pada titik itu, langkah mitigasi dan antisipasi menjadi kunci. Sialnya, bangsa ini masih saja memelihara kegagapan dalam dua hal tersebut.
Padahal, bencana tak henti menyapa negeri ini. Datang silih berganti. Pada satu waktu, seperti saat ini dan beberapa waktu terakhir, mungkin bencana hidrometeorologi basah yang paling mendominasi catatan kejadian bencana di Tanah Air. Namun, untuk waktu yang lain, boleh jadi bencana geologi dan bencana kekeringan yang akan mendapat 'giliran' mendominasi.
Artinya, potensi bencana selalu ada. Ancaman bencana terus mengintai. Akan tetapi, apa yang kita dan negara ini selalu lakukan? Lebih sering lupa ketimbang waspada. Kebanyakan alpa daripada bersiaga.
Selalu lupa bahwa Indonesia secara geografis teramat rawan dengan bencana. Pun, selalu alpa untuk menjadikan kejadian-kejadian bencana sebelumnya sebagai pelajaran mahapenting untuk terus-menerus menguatkan antisipasi dan mitigasi bencana.
Bencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah daerah belakangan ini menjadi bukti bahwa kita seperti tidak pernah serius mengantisipasi bencana. Akibatnya fatal. Tidak hanya menimbulkan kerugian material, tapi juga merenggut korban jiwa.
Kejadian tanah longsor di Pekalongan, Jawa Tengah, misalnya, menyebabkan 20 orang tewas tertimbun oleh material longsor. Di Bali, delapan orang meninggal dunia akibat terjangan bencana tanah longsor. Pun, banjir di pantai utara Jawa Tengah mengakibatkan ribuan rumah terendam dan jalur transportasi lumpuh.
Padahal, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) jauh-jauh hari telah memprediksi cuaca yang bakal berlangsung ekstrem di sejumlah wilayah. Dengan fakta masih banyaknya korban dari bencana-bencana belakangan ini, itu menunjukkan bahwa proyeksi cuaca BMKG yang dikeluarkan lebih dini tidak dijadikan basis untuk melakukan mitigasi.
Tingkat kewaspadaan dan perilaku cuek terhadap peringatan bencana yang masih tinggi membuat saban bencana datang selalu memakan korban jiwa. Sesungguhnya, teknologi prakiraan cuaca sudah makin canggih. Akurasi atas prediksi yang dihasilkan juga telah kian presisi. Prakiraan cuaca pun kini ditopang pemodelan berbasis dampak.
Namun, secanggih apa pun teknologi prakiraan cuaca yang dipakai bakal percuma bila sikap cuek dan nirwaspada masih dibiarkan menggelayuti pemangku kebijakan, utamanya pemerintah daerah sebagai otoritas pengambil kebijakan di wilayah masing-masing. Apesnya, itulah yang tergambar dari situasi bencana yang terjadi akhir-akhir ini.
Kelak, tidak bisa tidak, 'rezim' cuek terhadap mitigasi bencana harus diakhiri. Hentikan kebiasaan lama. Bertindak lambat, instan, dan parsial dalam menangani bencana harus jadi kamus usang yang ditinggalkan. Pemerintah, khususnya pemda, mesti melipatgandakan keseriusan dan tidak boleh sekali pun lalai dalam hal antisipasi dan mitigasi bencana.
Bagaimanapun, pemda punya tanggung jawab besar untuk memperhatikan kondisi peralatan dan infrastruktur kebencanaan serta memantau secara rutin wilayah dengan risiko tinggi bencana. Pada saat bersamaan, mereka harus lebih peduli dengan informasi, peringatan dini, dan instruksi yang berasal dari otoritas berwenang, baik BMKG maupun BNPB.
Kita semua tentu prihatin, sedih, atas bencana yang beruntun terjadi. Namun, keprihatinan, kesedihan, tidak akan berarti apa-apa tanpa evaluasi menyeluruh. Hal itu amat penting supaya masyarakat tidak melulu menjadi korban dari sikap kesiagaan bencana yang tak jelas, samar-samar, dan kerap berhenti sebatas wacana.
PROGRAM Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia adalah oase bagi jutaan rakyat untuk mengakses layanan kesehatan.
PEMBAHASAN revisi Undang-Undang Pemilu kembali menghadirkan satu isu strategis, yakni ambang batas parlemen.
RUANG digital yang semula digadang-gadang sebagai wahana belajar dan berkreasi bagi generasi muda kini berubah menjadi medan yang semakin berbahaya bagi anak-anak.
FANDI Ramadhan adalah potret dari petaka yang disebabkan oleh narkoba.
Para awardee ini dibiayai miliaran rupiah untuk mendapatkan kemewahan bersekolah ke luar negeri agar mereka pulang sebagai agen perubahan yang ikut membereskan ketidakidealan tersebut.
DUNIA sedang menyaksikan titik balik luar biasa dalam lanskap perdagangan internasional.
Pemerintah perlu memastikan harmonisasi regulasi, mempercepat layanan perizinan, serta memperkuat lembaga pengawas mutu agar tidak terjadi kasus penolakan produk di pelabuhan tujuan.
IRAN menutup sementara Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan dengan negara adidaya Amerika Serikat.
SEPERTI pada 2022 dan 2024, juga pada banyak tahun sebelumnya, perbedaan jatuhnya 1 Ramadan kembali terjadi di Indonesia dan sejumlah negara lain.
KENAIKAN harga bahan pokok menjelang Ramadan kembali terulang. Polanya nyaris seragam dari tahun ke tahun.
SUDAH lebih dari dumedia a dekade, Hari Raya Imlek berdiri tegak sebagai simbol kematangan Republik dalam merawat keberagaman.
BADAN Pusat Statistik (BPS), awal Februari lalu, baru saja merilis angka pertumbuhan ekonomi yang dapat dicapai Indonesia sepanjang 2025, yakni 5,11% secara tahunan.
DI antara puing-puing yang perlahan berganti struktur permanen, tersimpan doa ribuan warga terdampak bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
SWASEMBADA pangan dan energi, itu dua janji Prabowo Subianto saat membacakan pidato pelantikannya sebagai presiden pada 2024 lalu.
INGGINYA tingkat kepuasan masyarakat merupakan hal yang diidam-idamkan pemimpin.
LONJAKAN harga emas dunia seharusnya menjadi kabar baik bagi Indonesia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved