Headline

Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.

Asia Pasifik Jadi Pusat Pengujian AI Global, Kaspersky Ingatkan Evolusi Ancaman Siber 2026

Basuki Eka Purnama
12/1/2026 08:36
Asia Pasifik Jadi Pusat Pengujian AI Global, Kaspersky Ingatkan Evolusi Ancaman Siber 2026
Ilustrasi(Freepik)

KAWASAN Asia Pasifik (APAC) kini bukan sekadar pengikut dalam perlombaan kecerdasan buatan (AI) global, melainkan penentu kecepatan. Berdasarkan data terbaru, 78% profesional di APAC telah mengintegrasikan AI ke dalam alur kerja mingguan mereka, melampaui rata-rata global sebesar 72%.

Adopsi masif ini didorong oleh populasi muda yang melek teknologi dan penetrasi perangkat yang tinggi. Momentum dari bawah ke atas ini mengubah APAC menjadi tempat pembuktian AI paling dinamis di dunia, sekaligus menjadi lokasi lahirnya perusahaan-perusahaan "AI Frontier". Namun, kecepatan inovasi ini membawa konsekuensi serius bagi keamanan siber.

AI Sebagai Pedang Bermata Dua

Para ahli Kaspersky mengungkapkan bahwa pada 2026, kemajuan Large Language Models (LLM) tidak hanya memperkuat pertahanan, tetapi juga memperluas peluang bagi aktor ancaman. 

"AI membentuk kembali keamanan siber dari kedua sisi. Penyerang menggunakannya untuk mengotomatisasi serangan, mengeksploitasi kerentanan, dan membuat konten palsu yang sangat meyakinkan," ujar Vladislav Tushkanov, Manajer Grup Pengembangan Riset di Kaspersky.

Tren Ancaman dan Transformasi 2026

Laporan Kaspersky menyoroti beberapa pergeseran krusial dalam lanskap siber:

  1. Dominasi Deepfake: Teknologi deepfake kini menjadi arus utama. Meskipun kualitas visual sudah tinggi, fokus pertumbuhan saat ini beralih ke audio yang lebih realistis dan kemudahan akses alat pembuatan konten bagi nonahli.
  2. Kesenjangan Model Sumber Terbuka: Model AI sumber terbuka kini mulai menandingi model tertutup dalam hal fungsionalitas. Tanpa mekanisme kontrol yang ketat, model ini rentan disalahgunakan untuk tujuan berbahaya.
  3. Kaburnya Batasan Konten: Dengan maraknya penggunaan materi sintetis dalam iklan resmi, masyarakat akan semakin sulit membedakan antara konten AI yang sah dengan konten penipuan seperti phishing.
  4. AI dalam Rantai Kejahatan: Penjahat siber mulai menggunakan AI di seluruh tahapan serangan, mulai dari penulisan kode, pembangunan infrastruktur, hingga pencarian kerentanan secara otomatis.

Transformasi Pertahanan

Di sisi lain, AI juga merevolusi cara kerja tim Security Operations Center (SOC). Sistem berbasis agen kini mampu memindai infrastruktur secara terus-menerus, memungkinkan spesialis keamanan beralih dari pencarian data manual ke pengambilan keputusan strategis berbasis konteks.

Adrian Hia, Managing Director untuk Asia Pasifik di Kaspersky, menambahkan, “Asia Pasifik menetapkan laju global untuk adopsi AI, dengan konsumen dan perusahaan yang berkembang lebih cepat daripada wilayah lain mana pun. Momentum ini menciptakan peluang yang luar biasa, tetapi juga mendefinisikan ulang bagaimana ancaman siber muncul dan berkembang.”

Rekomendasi Keamanan

Untuk melindungi transformasi digital ini, organisasi diimbau untuk memperbarui perangkat lunak secara rutin, membatasi layanan desktop jarak jauh (RDP) dari jaringan publik, serta menggunakan intelijen ancaman terbaru guna memahami taktik penyerang. 

Selain itu, pencadangan data yang terisolasi dari jaringan tetap menjadi langkah krusial dalam menghadapi serangan kompleks. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya