Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
SINGKATAN itu bukan kepanjangan operasi tangkap tangan seperti yang sering dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). OTT yang dimaksud di sini ialah over the top. Layanan OTT sekarang ini banyak kita gunakan karena kita pakai dalam mengirimkan data, informasi, atau multimedia melalui jaringan internet. Kita pasti akan lebih mudah memahami OTT kalau menyebut Google, Facebook, Whatsapp, atau layanan seperti Go-Jek, Uber, dan Grab. Kehadiran mereka memudahkan masyarakat dalam berkomunikasi. Kita sering kagum kepada teknologi. Namun, kekaguman itu tidak menggugah kita untuk ikut mengeksplorasi.
Kita cukup puas dengan kemudahannya dan akhirnya hanya menjadi pengguna. Beda jauh dengan, misalnya, bangsa Tiongkok, Jepang, atau Korea. Ketika fenomena OTT mulai muncul, mereka tidak hanya terpaku kepada teknologi semata. Mereka melihat juga dari kacamata politik, ekonomi, dan sosial. Di balik OTT ada ideologi yang bisa memengaruhi persoalan keamanan dan kedaulatan. Oleh karena faktor ancamannya terlihat, mereka melakukan pembatasan. Namun, karena perkembangan teknologi tidak mungkin dibendung, yang mereka persiapkan ialah manusianya. Mereka dorong warga untuk mengembangkan layanan dan aplikasi layanan sendiri agar OTT nasional bisa bersaing dengan
OTT asing.
Hasilnya, ketiga bangsa itu tidak hanya menjadi pengguna dan pasar semata. Mereka tidak hanya memiliki aplikasi sendiri yang ada di negara lain sehingga layanan mereka berskala global. Inilah yang berbeda dengan kita di Indonesia. Kita membiarkan OTT asing merajalela di sini. Mereka diperbolehkan melakukan kegiatan yang membawa keuntungan bagi mereka, tanpa harus membayar kewajiban. Menarik apa yang disampaikan Ketua Masyarakat Telematika Indonesia Kristiono dalam menyikapi OTT. Kita jangan hanya melihat aktivitas seperti yang dilakukan Uber atau Grab dari kacamata teknologi.
Kedua layanan itu tidak ada hubungannya dengan teknologi. Yang harus pemerintah lihat ialah perbuatan hukum yang mereka lakukan. Dengan cara pandang seperti itu, tidak perlu mendikotomikan antara online dan offl ine. Pemerintah tidak perlu gamang dalam menerapkan aturan. Tetap saja jalan dengan kebijakan yang ada dan menjaga kepentingan nasional. Kalau Presiden Joko Widodo meminta kita agar tidak hanya menjadi pasar, yang harus didorong ialah bagaimana munculnya OTT lokal. Kalau Tiong kok punya Wechat, Korea memiliki Kakao, Jepang mempunyai Mixi, kita pun harus melahirkan aplikasi khas Indonesia. Kalaupun ingin masuk Indonesia, pemain asing harus membuka perusahaan mereka di Indonesia, seperti Tiongkok yang memaksa ada ‘Chinese Yahoo’ atau ‘Chinese Google’.
Ketidakmampuan kita untuk melihat dengan horizon yang jauh ke depan membuat bangsa ini tergagap-gagap. Kita membiarkan negara ini begitu terbuka terhadap lalu lintas data dan informasi. Akibatnya, kita membiarkan modal terbang ke luar. Padahal, menurut Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, bisnis OTT di Indonesia sekarang ini bisa mencapai US$830 juta per tahun. Oleh karena kita tergagap-gagap, aturan pun tidak tersiapkan. Sekarang ini Kemenkominfo baru menyusun rancangan peraturan pemerintah tentang OTT.
Padahal, bisnis sudah berjalan begitu cepat dan OTT asing sudah lama merajalela di Indonesia. Tentu tidak ada kata terlambat. Kita bisa mengatasi ketertinggalan. Namun, kita harus jelas akan masa depan yang ingin didapatkan dari kehadiran OTT. Itulah yang akan menjadi pegangan baik dalam penyusunan regulasi maupun mendorong hadirnya OTT nasional. Kita jangan menjadi korban, tetapi harus menjadi pemenang dalam era ekonomi digital.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved