Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
BARU kali ini dalam sejarah perfilman Indonesia, ada trailer film yang dihujat sedemikian hebatnya oleh para netizen sebelum ditayangkan. Buat beberapa orang kehebohan ini hanya akan dipandang sebagai bentuk ‘keceriwisan’ dan ‘kejulidan’ netizen Indonesia yang memang terbukti dalam riset Microsoft tahun 2021 memang cukup galak di dunia Maya (Indonesia News Center Microsoft, 2021).
Akan tetapi cukup beralasan kenapa trailer film ini diributkan, alasan pertama adalah karena mengangkat tema nasionalisme. Alasan kedua adalah karena sebagian pihak menduga film ini merupakan bagian proyek pemerintah yang bagaimanapun pendanaannya bersumber dari pajak rakyat dan juga mendapat perlakukan khusus dengan mendapatkan jam tayang awal di bioskop di tengah antrian tayang.
Secara akademis, ada penjelasan lain mengapa audiens Indonesia sangat ‘galak’ dan ‘kritis’ kalau sudah bicara soal film dan isu nasionalisme. Felani et al (2020) dalam artikel yang berjudul Nationalism in Popular Culture: Critical Discourse Studies on American and Indonesian Films yang terbit di Asian Journal of Media and Communication, Volume 4 Nomor 1 menunjukkan bahwa nasionalisme merupakan DNA dari film-film populer di Indonesia dan Amerika.
Sebagian besar film populer yang menjadi box office di Indonesia maupun Amerika merupakan film-film dengan tema nasionalisme, patriotisme, atau istilah-istilah lain yang merujuk pada identitas kebangsaan yang bersifat membanggakan kelompoknya. Film pertama yang menjadi box office di Amerika adalah The Birth of a Nation dari DW Griffith (Brook, 2015) yang bernuansa rasis karena menjadikan Klu Klux Klan sebagai tokoh hero dan mendemonifikasi orang-orang kulit hitam.
Sedangkan di Indonesia film pertama yang diakui sebagai film nasional adalah Film Darah dan Doa (1950) dari Bapak Perfilman Indonesia, Usmar Ismail di tahun 19150 meskipun film pertama yang dibuat di Hindia Belanda tercatat tahun 1926 berjudul Lutung Kasarung (1926) (Abdullah et al., 1993). Beberapa film terlaris di bioskop yang menembus jutaan penonton di bioskop adalah film-film bertema nasionalisme seperti Naga Bonar Jadi Dua (2007) Laskar Pelangi (2008), Garuda Di Dadaku (2009), Habibie dan Ainun (2012), Rudy Habibie (2016), Bumi Manusia (2012) dan Buya Hamka (2023).
Khusus film animasi, Jumbo (2025) meraih penonton terbanyak sepanjang sejarah perfilman Indonesia hingga mencapai 10 juta lebih penonton. Fenomena ini terjadi juga di Hollywood, di mana film Gone with the Wind (1939) yang rasis dan merayakan budaya perbudakan di Selatan Amerika memegang rekor film terlaris selama dua puluh lima tahun dan telah meraup keuntungan lebih banyak daripada film lainnya jika disesuaikan dengan inflasi (Guinness World Records, 2014).
Franchise film-film Marvel Cinematic Universe yang mendengungkan patriotisme Amerika dan superioritas teknologi militer Amerika lewat tokoh-tokoh Superheronya juga mendominasi layar penonton di berbagai platform di seluruh dunia. Temuan-temuan penelitian saya, menunjukkan memang nasionalisme sudah menjadi DNA dan genetika dari film-film Indonesia.
Sehingga film apapun yang dimunculkan ke publik yang mengangkat isu nasionalisme, termasuk film animasi viral yang akan tayang di bioskop pada 17 Agustus ini, pasti akan disoroti masyarakat Indonesia. Dengan demikian, tidak perlu heran jika warga +62 kita ‘julid’, ‘berisik’, dan ‘ceriwis’ dengan apapun produk budaya populer yang akan tayang di ‘layar kaca’, ‘layar putih’, maupun ‘layar gawai’ kita, karena itu merupakan ekspresi nasionalisme rakyat Indonesia yang cinta bangsanya. (P-3)
ADA yang menarik dari teks Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 sebagai gerakan nasionalisme paling awal dan nyata
KETUA Dewan Pengarah BPIP Megawati Soekarnoputri, menegaskan pentingnya membentuk generasi muda yang tangguh dan berjiwa nasionalis. Generasi muda harus siap berkorban untuk negara.
Nama “Bones” yang berarti tulang diangkat sebagai simbol kerangka nilai kebangsaan, fondasi yang menyatukan masyarakat Indonesia.
Ia juga menyampaikan apresiasinya kepada Gubernur Bali Wayan Koster yang dalam beberapa program pembangunan telah menempatkan nasionalisme sekaligus mencintai produk lokal Bali.
Media sosial dapat menjadi sarana efektif untuk menumbuhkan semangat nasionalisme di kalangan generasi muda.
Rangkaian kegiatan diawali dengan IWIP Fun Games 2025 pada 8–15 Agustus 2025, yang menghadirkan delapan kategori perlombaan.
PT GNI yang beroperasi di Morowali Utara ini menggelar upacara bendera dan beragam lomba kebersamaan yang diikuti oleh ratusan karyawan.
Upacara dihadiri lebih dari 200 undangan yang berasal dari perwakilan organisasi masyarakat dan pelajar Indonesia, serta Bank Indonesia dan BUMN yang berada di London.
Sebanyak 360 pelari ambil bagian di acara Jejak Merdeka, masing-masing kota diwakili 45 peserta.
Di Kampung Nelayan Kerang Hijau, Cilincing, warga pesisir antusias mengikuti perlombaan, mencerminkan semangat solidaritas dan kebersamaan masyarakat nelayan.
Dalam pidatonya, Wakil Ketua Golkar DKI Ashraf Ali menegaskan bahwa perjuangan para pahlawan harus diteruskan dengan cara yang relevan di era modern ini.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved