Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
TULISAN besar itu terpampang di Auditorium Universitas Airlangga, Surabaya. Pesan itu tidak hanya pantas jadi pegangan sivitas akademika Unair, tapi juga harus jadi pegangan seluruh warga bangsa. Kita harus berupaya mencapai keunggulan, bahkan kesempurnaan. Akan tetapi, hal itu jangan dilakukan dengan menghalalkan segala cara. Kita harus mencapai keunggulan dengan moralitas.
Semua orang pasti ingin menggapai kehidupan lebih baik. Bagi sebagian orang, kehidupan yang lebih baik diukur dengan materi. Namun, tak sedikit kekayaan yang didapat dengan menabrak norma. Demi mendapatkan materi, harus dengan korupsi pun jadi.
Ketamakan bahkan kerap ditampilkan dengan tidak mau berbagi. Mereka menyembunyikan sebagian harta karena tidak mau membayar pajak. Kalau perlu membuka perusahaan cangkang di luar negeri agar bisa mengamuflase harta yang dimilikinya. Di era globalisasi, tentu boleh kita membuka perusahaan di luar negeri. Kita harus menjadi pemain global dan bahkan menjadi pemenangnya. Namun, perusahaan di luar negeri merupakan alat untuk membangun negeri kita tercinta.
Kita perlu mencontoh bangsa ras kuning. Bangsa Jepang, Korea, dan Tiongkok melanglang buana untuk membesarkan perusahaan. Namun, sikap itu disertai kecintaan kepada negara. Hasil kerja keras di luar negeri dibawa pulang untuk memajukan negeri.
Kita pantas belajar tentang kecintaan kepada negara seperti bangsa Jepang. Sebanyak 55% produk industri mereka dikonsumsi bangsa Jepang sendiri. Bahkan ketika tingkat suku bunga simpanan negatif, mereka tidak berbondong-bondong membawa uang mereka ke luar Jepang.
Semua memang tidak terjadi dengan sendirinya. Negara hadir untuk mengajarkan arti kecintaan kepada negeri. Tidak perlu dengan teori muluk-muluk, tetapi dengan contoh nyata. Pemimpin menjadi orang pertama yang mencontohkan kecintaan kepada negara. Apakah semua pemimpin di sana seperti malaikat? Tidak. We are no angels, tidak ada malaikat di antara kita. Tentu ada juga pejabat yang memikirkan dirinya sendiri. Akan tetapi, kalau diketahui bersikap selfish, ia akan malu dan langsung mengundurkan diri.
Kita sangat merindukan kondisi seperti itu. Bangsa ini akan maju dan besar kalau seluruh warganya memiliki kecintaan kepada negeri. Ia bekerja membanting tulang bukan hanya untuk diri dan keluarga, melainkan juga untuk negara. Teringat apa yang ditanamkan Presiden John F Kennedy kepada bangsa Amerika, “Jangan tanya apa yang bisa negara berikan untukmu, tapi tanya apa yang bisa engkau berikan kepada negara.”
Di tengah kondisi perekonomian global yang tidak menentu, kita butuh sikap nasionalisme. Kita butuh hadirnya pemimpin yang bisa menjadi teladan. Pemimpin yang memiliki sikap tegas, mau bekerja keras, selalu bekerja untuk rakyat, penuh kejujuran, dan dengan tutur kata yang santun.
Excellence with morality harus menjadi sikap bangsa ini. Gerakan ini harus digelindingkan kembali. Moralitas harus menjadi pegangan kita. Sudah sejak lama tokoh seperti Syafii Maarif menyuarakan pentingnya hal tersebut. Segala upaya yang kita lakukan, termasuk untuk meminta warga bangsa ini membawa pulang uang yang disimpan di luar negeri, tidak akan ada artinya tanpa ada kesadaran akan tanggung jawabnya kepada bangsa dan negara.
Sebagai bangsa yang memegang falsafah gotong royong, kita tidak boleh bisa tidur ketika masih ada tetangga yang menangis karena lapar. Kini kita butuh kebersamaan itu.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved