Headline

Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.

Zohran Mamdani

28/6/2025 05:00
Zohran Mamdani
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

SELANGKAH lagi, sejarah demokrasi akan dipahat di New York, Amerika Serikat. Itu apabila Zohran Mamdani, politikus muda berusia 33 tahun terpilih sebagai wali kota muslim pertama di kota terbesar di 'Negeri Paman Sam' itu. Bayangkan, kota berpenduduk 8,3 juta jiwa yang selalu dihinggapi islamofobia itu bakal dipimpin seorang muslim.

Namun, publik New York yang didominasi kaum Demokrat tak percaya lagi dengan teror propaganda 'jihadis', 'komunis', 'islamis' yang selalu didengungkan itu. Buktinya, Mamdani menang dalam Pemilu Pendahuluan Partai Demokrat pekan ini. Mamdani, yang berhaluan sosialis-demokrat, tak risih dengan semua pelabelan terhadapnya. Politikus keturunan Bangladesh kelahiran Uganda itu bergeming.

Ia justru mempertegas identitas: muslim, pro Palestina, mengecam Israel atas aksi brutal di Gaza. Mamdani juga tidak memedulikan sokongan dana dari para elite pemilik modal, yang menggerojok ke rival utamanya di Demokrat, yakni Andrew Cuomo yang mantan Gubernur New York. Ia yakin akan kekuatan ide, gagasan, dan akal sehat. Mamdani mengandalkan dana dari 'saweran' publik New York yang sepakat dengan gagasan-gagasannya.

Karena itu, Mamdani dan pemilihnya pun memahat sejarah awal, yakni merebut kemenangan pada pemilu pendahuluan. Ia sah menjadi kandidat dari Demokrat untuk Pemilihan Wali Kota New York, November mendatang. Selama ini New York dikuasai Demokrat. Kandidat dari Demokrat hampir pasti memenangi Pilwalkot New York.

Mamdani memang belum resmi menjabat sebagai wali kota New York. Namun, kemenangan historisnya pada pemilihan pendahuluan Partai Demokrat langsung memicu badai kebencian. Presiden Donald Trump yang dekat dengan Israel, menuduh Mamdani sebagai 'orang gila komunis 100%'.

Mamdani juga menjadi sasaran serangan islamofobia yang brutal dan terkoordinasi. Berbagai tuduhan simpatisan Hamas, julukan 'teroris jihadis', hingga ancaman akan terulangnya tragedi 9/11 ditiupkan dengan kencang, terstruktur, sistematis, dan masif. Bahkan, cap itu sudah ditabalkan sejak hasil pemilu pendahuluan mengarah pada kemenangan Mamdani.

Beberapa politikus dan tokoh konservatif Amerika melancarkan retorika bernada kebencian di media sosial dan saluran berita sayap kanan. Laura Loomer, aktivis ekstrem kanan yang dikenal dekat dengan lingkaran Donald Trump, menulis di platform X 'Serangan 9/11 akan terulang di bawah kepemimpinan Mamdani'. Sementara itu, anggota Dewan Kota New York, Vickie Paladino, dalam wawancara radio menyebut Mamdani sebagai 'teroris jihad yang dikenal' dan menyerukan deportasi (meskipun Mamdani ialah warga negara AS).

Tokoh-tokoh lain dari pemerintahan Trump, seperti Stephen Miller, turut menuding bahwa pencalonan Mamdani ialah 'peringatan keras tentang bahaya imigrasi tanpa kendali'. Bahkan, Elise Stefanik, anggota DPR dan loyalis Trump, mengirim surel penggalangan dana yang menyebut Mamdani 'simpatisan teroris Hamas', bahkan sebelum penghitungan suara rampung.

Putra Trump, Donald Trump Jr, ikut memprovokasi dengan unggahan yang menyindir bahwa 'New York pernah jadi korban 9/11, kini mereka malah memilihnya'. Sementara itu, Marjorie Taylor Greene, mengunggah gambar AI dari Patung Liberty yang mengenakan burkak sebagai bentuk sindiran bernuansa islamofobia.

Sindiran-sindiran itu tidak terlepas dari isu Israel dan Palestina yang kini dikritisi publik New York. Pilihan mereka atas Mamdani seperti menampar muka negeri Zionis itu. Apalagi, dalam salah satu kampanyenya, Mamdani berjanji bila ia jadi wali kota, ia akan menangkap Benjamin Netanyahu bila Perdana Menteri Israel itu berkunjung ke New York.

Tentu, ini bisa menjadi guncangan hebat bagi Netanyahu setelah dipermalukan Iran dalam perang 12 hari. Banyak yang bersyukur kini Iran-Israel sudah menyepakati gencatan senjata. Kali ini, posisi Israel sudah berantakan secara moral dan politik di hadapan warga dunia.

Demonstrasi besar pro Palestina yang melibatkan puluhan ribu orang berlangsung di Den Haag, Belanda, dan Berlin, Jerman, pekan lalu. Serangan balasan Iran, meski tidak menghancurkan Israel, telah merontokkan kredibilitas Israel dan menelanjangi mitos-mitos tentang negeri Zionis itu. Iran telah menang, bukan secara militer, melainkan secara politik dan moral.

Iran menghancurkan kedok mitos Israel sebagai negeri demokratis nan beradab. Iran, juga Mamdani, membuka mata dunia bahwa Israel ialah sumber destabilisasi di Timur Tengah. Negara rasialis, apartheid, dan arogan yang tidak memedulikan hukum internasional. Aksi-aksi itu juga ditelanjangi dalam setiap kampanye Mamdani, yang bahkan tanpa tedeng aling-aling menelanjangi hipokrisi para pemimpin AS di depan publiknya sendiri.

Kini, sebagian besar publik New York sudah memahat separuh napas penting bagi demokrasi, yakni meyakini ide dan akal sehat. Di New York, publik membuktikan bahwa uang tak sanggup membeli segalanya dalam kontestasi politik.

 



Berita Lainnya
  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.

  • Tuas Rem Trump-Khamenei

    03/2/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di bibir jurang.

  • Etika Mundur di Pasar Modal

    02/2/2026 05:00

    PATUT dicatat sebagai rekor nasional. Bila perlu dengan tinta tebal. Hanya dalam satu hari, lima pejabat otoritas keuangan mengundurkan diri.

  • Keadilan dalam Sepotong Es Gabus

    30/1/2026 05:00

    HUKUM dan keadilan mestinya berada dalam satu tarikan napas. Hukum dibuat untuk mewujudkan keadilan.

  • Kejar Jambret Dikejar Pasal

    29/1/2026 05:00

    DI negeri ini, keadilan tak jarang tersesat di tikungan logika dan persimpangan nalar.

  • Noel agak Laen

    28/1/2026 05:00

    IMANUEL 'Noel' Ebenezer memang bukan sembarang terdakwa korupsi.

  • Mudarat Paling Kecil

    27/1/2026 05:00

    RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.

  • Pengawas Mati, Korupsi Tumbuh

    26/1/2026 05:00

    KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.

  • Rupiah Vs IHSG

    23/1/2026 05:00

    ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.

  • OTT Tepat Waktu

    22/1/2026 05:00

    BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.

  • Pesta Elite, Nestapa Rakyat

    21/1/2026 05:00

    REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk.