Headline

Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.

Pancasila, sudah tapi Belum

03/6/2025 05:00
Pancasila, sudah tapi Belum
Ade Alawi Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

NEGARA mana pun patut iri dengan Indonesia. Negaranya luas, penduduknya banyak, keragaman warganya luar biasa dari segi agama, keyakinan, budaya, adat istiadat, ras, dan bahasa.

Namun, bentangan yang luas sebagai negara kepulauan, populasi terbesar keempat di dunia, dan keanekaragaman warganya tak membuat Indonesia dilanda konflik. Sebaliknya Indonesia tetap rukun dan damai. Alhamdulillah.

Salah satu yang mengagumi Indonesia ialah seorang duta besar dari negeri Timur Tengah saat menyambangi Media Group beberapa waktu silam. Dia menyampaikan kekagumannya kepada Indonesia. Sang dubes secara khusus menyoroti keberadaan Pancasila, dasar negara Republik Indonesia. "Berbahagialah Anda hidup di Indonesia. Dengan berbagai keragaman, negeri yang luas dan penduduknya salah satu terbesar di dunia, Indonesia tetap damai. Kedamaian yang diikat dengan Pancasila," tuturnya.

Dia mengakui negaranya kerap dilanda konflik antarkelompok faksi bersenjata. Belum lagi campur tangan asing dalam konflik yang menambah runyam pertikaian di negerinya.

Celakanya, kata dia, ada kelompok yang mengatasnamakan agama untuk menyerang pihak lain. "Agama yang seharusnya sakral digunakan untuk melegitimasi tindakan kekerasan," ujarnya, sedih.

Menurutnya, kedamaian sesuatu yang mahal di negeri yang terletak di persimpangan Cekungan Mediterania, Semenanjung Arab, dan Bulan Sabit Subur itu.

Negerinya bukan negeri miskin, melainkan sebenarnya negeri yang memiliki sumber daya alam, posisinya strategis, dan mempunyai eksotisme warisan budaya dan sejarah panjang sebagai suatu bangsa. "Jagalah Pancasila, kami ingin belajar tentang Pancasila," pungkasnya.

Kedamaian di Indonesia ialah modal dasar bagi negeri ini untuk maju. Kedamaian yang diikat dengan tali yang sama, yakni Pancasila. Menurut Bung Karno dalam pidatonya dalam sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), pada 1 Juni 1945 silam, bahwa Pancasila sebagai philosophische grondslag.

Artinya, Pancasila ialah dasar filsafat negara, atau fundamen, filsafat, pikiran yang mendalam, jiwa, dan hasrat yang sedalam-dalamnya untuk mendirikan negara Indonesia merdeka yang kekal dan abadi.

Selain Bung Karno, tokoh lain yang menyampaikan pikiran-pikiran tentang Pancasila ialah Mohammad Yamin dan Soepomo pada lembaga yang dalam bahasa Jepang disebut Dokuritsu Junbi Cosakai itu.

Selanjutnya BPUPKI membuat Panitia Sembilan yang terdiri dari sembilan tokoh untuk merumuskan dasar negara yang berangkat dari usul-usul para tokoh bangsa dalam sidang BPUPKI.

Perdebatan panjang pun muncul di Panitia Sembilan. Tarik menarik antara kelompok Islam dan nasionalis. Kelompok Islam menghendaki Islam menjadi dasar filosofis negara. Namun, kelompok nasionalis menolaknya. Mereka meminta agama jangan dibawa ke dalam masalah kenegaraan.

Akhirnya, mereka menyepakati dasar negara Indonesia Pancasila dengan menghapus kalimat 'menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya', yang kemudian berubah menjadi 'Ketuhanan Yang Maha Esa'.

Pancasila disahkan sebagai dasar negara Indonesia pada 18 Agustus 1945 oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Selanjutnya, Pancasila secara resmi ditetapkan sebagai dasar negara dan dimasukkan dalam Mukadimah Undang-Undang Dasar 1945.

Cendekiawan Nurcholish Madjid (1992) yang akrab disapa Cak Nur menyebutkan bahwa Pancasila ialah kalimatun sawa, yakni titik temu dari berbagai pandangan atau ideologi.

Setiap agama memiliki perbedaan dalam ritual dan praktik, tetapi memiliki kesamaan pengakuan akan Tuhan dan pengakuan akan nilai-nilai kemanusiaan, seperti keadilan, kasih sayang, dan toleransi. Jadi, buat apa bertikai?

Dari para founding father yang merumuskan Pancasila, kita bisa belajar bahwa bagaimanapun sengitnya perbedaan pandangan yang dipengaruhi berbagai latar belakang, apakah agama ataupun suku, kepentingan bangsa ialah di atas segalanya.

Mereka ialah negarawan sejati. Bukan ngaku-ngaku negarawan. Mereka membuang ego jauh-jauh dengan tidak memikirkan diri mereka, keluarga mereka atau kelompok mereka, tetapi mereka memikirkan jauh ke depan tentang bangsa dan negeri mereka yang bernama Indonesia.

Ikatan yang kukuh di bawah naungan Pancasila yang membuat Indonesia berada dalam kedamaian menjadi modal Indonesia untuk menjadi negara besar.

Kuncinya Indonesia harus berdiri di atas kaki sendiri dengan tata kelola penyelenggara negara sesuai asas-asas umum pemerintahan yang baik (AUPB). Pasal 10 ayat (1) UU Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan menyebutkan AUPB adalah kepastian hukum, kemanfaatan, ketidakberpihakan, kecermatan, tidak menyalahgunakan kewenangan, keterbukaan, kepentingan umum, dan pelayanan yang baik.

Pancasila merupakan konsensus nasional untuk menjadi dasar negara, falsafah negara, way of life, pijakan bagi bangsa ini untuk tinggal landas, bukan tinggal di landasan, sehingga menjadi negara yang disegani di tingkat global.

Dalam sejarahnya, persatuan nasional selalu mengalami ujian dengan munculnya kelompok-kelompok yang ingin mendirikan negara Islam, tetapi bangsa Indonesia mampu menghalaunya.

Namun, ujian itu belum berakhir. Kelompok yang mengatasnamakan agama yang mengibarkan panji-panji kekerasan masih menjadi ancaman di tengah arus ideologi transnasional yang menyelinap dengan mudah, brainwash, melalui media sosial.

Pancasila merupakan legasi besar para pendiri bangsa, jangan hanya diupacarakan dan dipidatokan secara berapi-api, sekadar gagah-gagahan, pada Hari Lahir Pancasila 1 Juni, tetapi harus diwujudkan dalam perilaku elite dan kebijakan publik yang relevan dengan tujuan bernegara dalam UUD 1945.

Sudah saatnya rakyat melek politik, eling lan waspodo, jangan lekas terpukau, terharu dan tepuk tangan dengan elite yang cuma bisa mengguncang mimbar dengan nasionalisme semu.

Pancasila berkali-kali dijadikan topeng oleh elite yang memiliki dua wajah, yakni 'panggung depan' (front stage) dan 'panggung belakang' (back stage) dalam teori dramaturgi Erving Goffman (1959).

Mereka ialah 'serigala berbulu domba' atau 'musang berbulu ayam', dalam praktik politiknya menghalalkan segala cara, dengan berbagai kepalsuan tentu saja. Alhasil, demokrasi sekadar tunggangan untuk meraih singgasana kekuasaan.

Dalam zaman yang terus berubah. Pancasila senantiasa harus dilantangkan dan dibumikan sehingga memiliki signifikansi bagi generasi hari ini dan akan datang. Jangan dikatakan lagi: Pancasila, sudah tapi belum. Tabik!

 



Berita Lainnya
  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."