Headline
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Kumpulan Berita DPR RI
HASIL laporan Microsoft tentang Gital Civility Index pada 2021 bahwa netizen Indonesia termasuk yang paling tidak sopan di dunia terus menemukan pembenaran. Olok-olok, hinaan, ujaran kebencian, yang melebihi takaran kiranya bukan tabu lagi di negeri ini. Tata krama sebagai karakter bangsa yang adiluhung pun semakin sulit dicari.
Semua itu terkonfirmasi hari-hari ini. Hari ketika seseorang, yang kalau dari wajahnya masih terbilang muda, dengan enteng menghina salah satu tokoh bangsa ini, Try Sutrisno. Pemicunya, lagi-lagi soal politik, ihwal cinta buta kepada tokoh pujaan.
Olok-olok itu kadung tersebar luas di dunia maya. Ia viral. Medsos heboh. Dari narasinya, sang pengolok-olok, seorang laki-laki dengan akun @Arul.S85, memang kelewat batas, keterlaluan. Coba kita simak apa yang dia ucapkan. "Pak Tile, Pak Tile ya, daripada Anda mencopot Gibran dari presiden, kami seluruh rakyat Indonesia akan mencopot gigi Anda. Gigi Anda akan saya copot supaya Anda tidak bisa makan sate. Ini, pak, namanya sate, sampeyan kan gak punya gigi, gigi sampeyan mau saya copot, ayo jawab-jawab," begitu Bang Arul bilang dengan foto Pak Try terpampang di postingnya.
Arul tak terima pujaannya, Gibran Rakabuming Raka, diusik. Dia rupanya die hard anak mbarep Joko Widodo, Presiden Ke-7 RI, yang kini menjabat wakil presiden itu. Posisi Gibran lagi digoyang. Dia memang disukai banyak orang, tapi tak sedikit yang membenci, yang tak ingin berlama-lama dipimpin olehnya.
Di antara yang tidak suka Gibran ialah ratusan pensiunan tentara. Mereka bukan sembarang purnawirawan. Mereka para pemilik bintang di pundak kala masih aktif dulu. Ada 103 jenderal, 73 laksamana, 86 marsekal. Ada pula 91 kolonel.
Mantan Menteri Agama Jenderal TNI (Purn) Fachrul Razi, mantan KSAD Jenderal TNI (Purn) Tyasno Soedarto, mantan KSAL Laksamana TNI (Purn) Slamet Soebijanto, mantan KSAU Marsekal TNI (Purn) Hanafie Asnan, mantan Dankopassus Mayjen TNI (Purn) Soenarko, dan mantan Dankormar Letjen TNI (Purn) Suharto termasuk nama-nama itu.
Mantan KSAD dan Panglima ABRI yang juga Wakil Presiden Ke-6 RI Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno enggan ketinggalan. Dia mendukung petisi Forum Purnawirawan Prajurit TNI itu. Petisi yang berisi delapan sikap dan usul terkait dengan persoalan bangsa. Salah satunya, ya, itu tadi, menyangkut keberadaan Gibran. Di poin 8, petisi mengusulkan pergantian wakil presiden kepada MPR karena keputusan MK terhadap Pasal 169 Huruf Q Undang-Undang Pemilu telah melanggar hukum acara MK dan Undang-Undang Kekuasaan Kehakiman.
Bagi pendukung Gibran, sikap para purnawirawan tentu tak menyenangkan. Boleh-boleh saja. Sebagai fan berat, lumrah mereka tak terima idola mereka jadi sasaran tembak. Sebagai pemuja, wajar mereka membelanya. Namun, menjadi tak wajar, tak lumrah, jika pembelaan dilakukan dengan menyimpang dari keadaban, menistakan kesopanan.
Yang dilakukan Arul termasuk penyimpangan itu. Menghina fisik Pak Try tidaklah patut. Menyandingkan Pak Try dengan Pak Tile sebagai olok-olok jelas tak elok. Mendiang Enun Tile Madhami, atau Pak Tile, ialah pelawak terkenal yang mulutnya ompong. Pak Try memang sudah sepuh. Dia lahir di Surabaya, 15 November 1935, yang berarti usianya kini hampir 90 tahun. Dia semestinya dihormati, bukan malah dicaci.
Pak Try banyak berkontribusi bagi negara ini. Dia bukan model pejabat yang mementingkan perut sendiri dan keluarga. Dia yang terlahir dari keluarga sederhana, bapaknya sopir ambulans dan ibunya ibu rumah tangga, dikenal karena kesederhanaannya, yang nrimo ing pandum. Dalam kanal Youtube Irma Hutabarat, dia mengaku tak pernah memiliki banyak uang. Pak Try bahkan sampai harus mencicil rumah yang ditempatinya lantaran tak punya uang kontan.
Rumah tersebut ialah rumah dinas yang pernah ia tempati saat menjadi KSAD. Setelah tak lagi menjabat, ia ditawari untuk membelinya agar bisa ditempati sebagai kediaman pribadi. Harganya Rp85 juta pada 1986. Namun, karena tak punya uang sebanyak itu, dia mengangsur selama 15 tahun.
Apa yang dilakukan ratusan purnawirawan, termasuk Pak Try, boleh diperdebatkan. Ada yang menganggap gerakan mereka hanya membuat kegaduhan. Ada yang berpendapat, tak cukup alasan untuk melengserkan Gibran. Akan tetapi, juga banyak yang mendukung, yang setuju Gibran diturunkan. Proses Gibran menuju kursi RI-2 yang diwarnai skandal pelanggaran etika berat di Mahkamah Konstitusi kembali diapungkan.
Saya, sih, yakin, Pak Try tak punya interes pribadi hingga mendukung petisi. Dia bukan orang yang anti-Jokowi, bapak Gibran. Pada 2017, dia malah pernah memberikan dukungan kepada Jokowi untuk kembali memimpin bangsa hingga 2024. Jadi, kalau kini dia tak sejalan dengan Gibran, kiranya lebih karena pertimbangan kepentingan bangsa. Ada kekhawatiran di kalangan purnawirawan jika suatu saat Presiden Prabowo berhalangan tetap lalu kapal besar bernama Indonesia dipertaruhkan di tangan Gibran? Bisa jadi.
Apa pun, sah-sah saja mereka mengusulkan Gibran diganti. Namanya juga demokrasi. Sama sahnya pihak-pihak yang menentang usul itu. Namanya juga bebas berekspresi. Yang tak sah, sekali lagi, jika beda pendapat diselesaikan dengan olok-olok, hinaan, caci maki. Siapa pun itu. Termasuk hinaan ke Jokowi dan Gibran. Saya bukan pendukung keduanya, tapi saya tak suka dengan istilah plonga-plongo dan sejenisnya ke mereka.
Bang Arul memang sudah meminta maaf. Kita hargai, apa pun dasarnya. Namun, nasi sudah menjadi kerak. Gosong. Agar menjadi pembelajaran bagi yang lain, supaya tak tuman, barangkali perkara ini perlu diselesaikan secara hukum kendati saya yakin Pak Try dan keluarga tak ingin memperpanjang masalahnya.
DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.
SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan
TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.
LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.
'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)
JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.
PATUT dicatat sebagai rekor nasional. Bila perlu dengan tinta tebal. Hanya dalam satu hari, lima pejabat otoritas keuangan mengundurkan diri.
HUKUM dan keadilan mestinya berada dalam satu tarikan napas. Hukum dibuat untuk mewujudkan keadilan.
DI negeri ini, keadilan tak jarang tersesat di tikungan logika dan persimpangan nalar.
RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.
KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.
ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.
BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.
REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved