Headline

Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.

Donny Fattah dan Editorial

09/3/2026 05:00
Donny Fattah dan Editorial
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

'SERIBU badai silih menghempas

Seribu luka perih membekas

Ku tetap berdiri

ada di sini ada di sini

Meski letih lemah lunglai

Aku di sini menggenggam nilai

Merengguk nikmati nafas musisi'

 

Penggalan lirik lagu God Bless berjudul Kukuh itu kuat menggambarkan sikap penulisnya: Donny Fattah. Dalam badai sedahsyat apa pun, ia tak beringsut dari musik. Salah satu pendiri sekaligus pembetot bas grup rock God Bless itu punya nama asli Jidon Patta Onda Gagola.

Musikus legendaris yang lahir pada 24 September 1949 itu berpulang pada 7 Maret 2026 pada usia 76 tahun setelah berjuang melawan penyakit komplikasi. Ia sosok penting di God Bless dan dalam peta musik Tanah Air. Musik sudah seperti nyawa dalam tubuhnya. Saya menangkap kesan kuat itu pada pertemuan kali kedua dengan Donny Fattah.

Hampir sembilan tahun lalu, saya berkesempatan bertemu salah satu sosok yang saya kagumi itu. Kami bertemu di Grand Studio Metro TV. Saat itu God Bless sedang melakukan geladi bersih, beberapa jam menjelang penampilan mengisi acara Mata Najwa.

Setelah mendengar ada God Bless, saya berusaha mencuri kesempatan menemui para personelnya. Saya sebenarnya sudah pernah berkenalan dengan Donny Fattah pada 1991, di balik panggung konser Kantata Takwa di Kota Surakarta (Solo). Namun, ketika itu, saya hanya bisa berfoto bersama dan meminta tanda tangan.

Karena itu, pertemuan pada 2017 di geladi bersih itu saya manfaatkan untuk ngobrol lebih mendalam dengan sosok yang rendah hati itu. Saat jeda, saya mengulurkan tangan memperkenalkan diri. Namun, tanpa diduga, Donny Fattah mengatakan, "Saya sudah mengenal Anda, Bung."

"Lo, dari mana Bang Donny Fattah mengenal saya?" tanya saya dengan hati 'berbunga-bunga' karena dikenali salah satu sosok idola.

"Saya penonton setia acara Editorial Media Indonesia pagi hari di Metro TV. Saya suka ulasan di acara itu. Saya bahkan pernah berusaha ikut berpartisipasi dengan menelepon, tapi susah masuk," kata Donny, ketika itu.

Bagi Donny, acara Editorial Media Indonesia mewakili keresahannya. Ia senang karena, kata dia, "Ada yang masih setia pada akal sehat. Ada yang menangkap keresahan masyarakat."

Donny bahkan bisa menyebut nama-nama pembedah Editorial di Metro TV itu. Ia menyebut nama Elman Saragih sebagai salah satu sosok yang ia sukai. "Orangnya dar der dor, ha ha ha," kata Donny.

Saya lalu mengelaborasi lebih jauh soal makna musik bagi seorang Donny. "Musik bagi saya sudah menjadi 'jalan hidup'. Saya tidak berpikir mencari jalan selain dari musik dan musik. Inilah jalan kami, jalan saya, jalan Mas Iyek (Ahmad Albar), jalan Ian Antono, jalan Abadi Soesman, jalan Fajar Satritama," kata Donny.

Ia menghormati musikus yang juga bisa 'menyambi' menjadi aktor, aktris, pebisnis, pejabat, dan bahkan menjadi politikus. Namun, itu tidak bisa ia lakukan. Baginya, musik ialah gabungan antara totalitas, kesungguhan, fokus, pengabdian, dan cinta.

Bagi Donny Fattah, musik bukan sekadar bunyi yang mengalun dari senar bas atau dentuman drum di panggung rock. Musik ialah bagian dari jiwanya. Ia bukan sekadar profesi yang memberikan penghidupan, melainkan juga jalan hidup yang dipilih dengan kesadaran penuh.

Bersama God Bless, Donny menapaki perjalanan panjang musik rock Indonesia sejak awal 1970-an. Di tengah perubahan zaman, pergantian selera musik, hingga pasang surut industri hiburan, ia tetap setia pada panggung. Bagi Donny, bermusik bukan sekadar mencari nafkah. Musik ialah ruang untuk mengekspresikan diri, merawat idealisme, dan merayakan kebebasan jiwa.

Pandangan Donny itu persis seperti bagian lirik yang ia tulis dalam 'lagu wajib' God Bless berjudul Musisi:

 

'Pada gitar kupetikkan nada indah

Oh, damai di hati

Kan kutuangkan bisik hati dalam kata

Oh, cerita jiwa

Hamparan kisah hidup dan perih rasa

Alunan getar jiwa ke ujung jari

Dalam musik kutuangkan sanubari

Oh, luapan kalbu

Semua kata hati tercurahkan dalam lirik

Oh, alunan kisah

Dengarlah ketuk nada dalam birama

Inilah getar jiwa bagi musisi'

Perjalanan Donny Fattah bersama God Bless ialah kisah ketekunan dan konsistensi. Dari panggung kecil era 1970-an hingga konser besar lintas generasi, ia tetap menjadi denyut ritme yang menjaga nyala rock Indonesia.

Karena itulah, ia tidak pernah benar-benar meninggalkan musik. Bahkan, ketika usia menua dan generasi berganti, semangatnya tetap menyala. Bas yang ia petik menjadi saksi bahwa kesetiaan pada panggilan jiwa jauh lebih kuat daripada sekadar kalkulasi ekonomi.

Donny Fattah menunjukkan satu hal sederhana, tapi penting, yakni ketika musik sudah menjelma menjadi jalan hidup, yang tersisa hanyalah ketulusan untuk terus memainkan nada hingga akhir hayat.

Sama seperti acara Editorial Media Indonesia yang ia sukai, Donny ingin menjaga akal sehat lewat musik, 'jalan hidupnya'. Selamat berpulang, Bung Donny Fattah. Insya Allah husnulkhatimah, akhir yang baik.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.