Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'. Durasi 25 hari bukan waktu ideal untuk sebuah daya tahan stok BBM. Apalagi di kala krisis minyak dunia.
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran sebagai respons atas serangan Amerika Serikat dan Israel ke 'Negeri para Mullah' itu jelas krisis baru. Daya tahan stok BBM kita bisa terguncang. Namun, hikmahnya, penutupan selat sempit itu bisa mengguncang kesadaran kita. Dunia boleh gaduh oleh dentuman rudal, tetapi bagi Indonesia, ancaman paling nyata bukanlah ledakan di langit Timur Tengah. Kesadaran seperti itu penting karena bisa membangunkan kita untuk bersiap dari potensi ancaman krisis.
Ancaman itu bernama keterbatasan cadangan energi kita sendiri.
Hari-hari ini, stok BBM nasional kita berkisar 20-25 hari. Sepanjang dua dekade terakhir, angka tertinggi yang pernah disebut dalam berbagai laporan resmi hanya menyentuh sekitar 30 hari, itu pun sesaat, bukan cadangan strategis permanen.
Artinya, jika terjadi gangguan pasokan serius dan berkepanjangan, napas BBM kita hanya bertahan kurang dari sebulan. Padahal, BBM ialah urat nadi, bahkan jantung perekonomian kita. Ia menggerakkan logistik, industri, transportasi, pertanian, hingga listrik di banyak wilayah. Tanpa BBM, denyut ekonomi melemah. Tanpa denyut, negara tersengal.
Negara-negara anggota International Energy Agency (IEA) menetapkan kewajiban menyimpan cadangan minyak, baik minyak mentah maupun produk BBM, setara minimal 90 hari kebutuhan impor bersih. Kebijakan itu lahir dari trauma dua krisis minyak pada 1970-an. Dunia industri belajar dengan pahit bahwa energi tak boleh sepenuhnya diserahkan pada fluktuasi geopolitik.
Mengapa 90 hari? Karena 90 hari ialah ambang minimal untuk memberikan ruang manuver, seperti merespons krisis, mencari sumber alternatif, menata ulang distribusi, hingga melakukan diplomasi kolektif. Ia bukan sekadar angka teknis, melainkan juga simbol ketahanan.
Bahkan, banyak negara melampaui standar itu. Estonia menyimpan stok sangat besar. Belanda di atas 400 hari. Denmark, Finlandia, Jepang, Korea Selatan, Jerman, Prancis, Inggris, semuanya melampaui 90 hari. Mereka sadar, energi ialah soal kedaulatan.
Indonesia? Kita belum sampai di sana. Ada persoalan struktural yang selama ini kita belum sentuh secara serius, seperti kapasitas tangki penyimpanan terbatas. Infrastruktur storage kita memang belum dirancang untuk cadangan jangka panjang. Kita membangun untuk kebutuhan harian, bukan untuk menghadapi krisis global.
Selain itu, model pasokan masih 'just-in-time'. Sistem kita bergantung pada arus impor rutin dan produksi kilang yang terus berjalan. Selama kapal datang tepat waktu, semuanya terasa aman. Namun, begitu jalur pasokan terganggu, seperti ketika Hormuz ditutup, kerapuhan itu tampak nyata.
Persoalan lainnya ialah belum optimalnya strategic petroleum reserve (SPR) nasional. Negara seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan memiliki cadangan strategis, terukur, dan disiplin dikelola. Kita masih meraba-raba.
Lebih dari 20% pasokan minyak dunia melintasi Selat Hormuz. Jika jalur itu terganggu serius, harga minyak global melonjak. Sejak perang meletus, harga minyak brent sudah naik lebih dari 15% ke US$81 per barel. Negara importir seperti Indonesia akan merasakan dua pukulan sekaligus, yakni harga yang membubung dan potensi keterlambatan pasokan.
Kita tak bisa hanya sibuk menghitung dampak fiskal akibat subsidi membengkak. Yang lebih mendasar ialah menjawab mengapa cadangan kita begitu tipis? Krisis ini seharusnya menjadi momentum untuk menetapkan standar baru, yaitu 90 hari cadangan nasional. Bukan sekadar latah mengikuti IEA, melainkan juga demi kepentingan kita sendiri.
Menaikkan cadangan dari 25 hari ke 90 hari memang tidak murah. Kita butuh pembangunan tangki penyimpanan baru, penguatan kilang domestik, skema pembiayaan kreatif (termasuk sovereign energy fund), serta regulasi yang mewajibkan cadangan strategis pemerintah secara permanen.
Namun, biaya membangun cadangan jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan biaya kekacauan ekonomi jika pasokan terputus. Ketahanan energi bukan proyek lima tahunan. Ia proyek peradaban. Negara sebesar Indonesia tidak pantas menggantungkan napas ekonominya pada hitungan hari.
Dalam dunia yang kian multipolar dan penuh gesekan, ketahanan energi ialah fondasi stabilitas nasional. Kita tak bisa lagi merasa aman hanya karena tanker hari ini masih bersandar di pelabuhan.
Jika 1970-an menjadi pelajaran bagi negara maju, krisis Hormuz hari ini harus menjadi pelajaran bagi kita. Sudah waktunya Indonesia berhenti puas dengan 25 hari. Sudah waktunya kita menargetkan 90 hari karena kedaulatan energi bukan retorika. Ia syarat bertahannya Republik.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved