Headline

Kemantapan jalan nasional sudah mencapai 93,5%

Rem Keserakahan

20/2/2026 05:00
Rem Keserakahan
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

"SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."

Hadis Nabi Muhammad SAW itu menggambarkan sifat tamak manusia yang tidak pernah puas. Keserakahan hanya berhenti ketika hidup berakhir. Karena itu, semua agama, keyakinan, dan ajaran spiritualitas apa pun mengajak manusia untuk sanggup mengendalikan diri.

Dalam Republic, Plato menilai keserakahan muncul ketika nafsu (appetite) menguasai akal dan keberanian. Negara yang dikuasai hasrat akan jatuh pada ketidakadilan. Keadilan akan lahir, kata Plato, ketika setiap bagian jiwa dan setiap level sosial menjalankan fungsi secara proporsional. Artinya, keserakahan bukan sekadar cacat personal, melainkan juga ancaman bagi keadilan publik.

Dalam ajaran Islam, puasa Ramadan diharapkan mampu menjadi rem bagi potensi keserakahan itu. Dengan rem yang pakem, ancaman nyata bagi keadilan publik bisa dihentikan. Puasa akan membuat setiap individu tahu batas.

Benar bahwa Ramadan selalu datang membawa dua hal sekaligus, yakni kesunyian dan kegaduhan. Sunyi di dalam diri, gaduh di luar diri. Di ruang batin, umat Islam diajak menahan lapar, dahaga, dan amarah. Di ruang publik, kita justru sering menyaksikan ironi, seperti harga kebutuhan pokok merangkak naik, konsumsi melonjak, dan hasrat belanja malah tak ikut berpuasa.

Data Nielsen IQ menunjukkan pengeluaran rumah tangga secara keseluruhan selama Ramadan 1445 H pada 2024 meningkat sekitar 20% jika dibandingkan dengan periode sebelum Ramadan tahun itu. Data Mandiri Spending Index (MSI) juga menunjukkan belanja masyarakat mulai meningkat lagi jelang Ramadan 1446 H pada 2025, naik sekitar +2,3%. Tentu saja, naiknya konsumsi tidak identik dengan keserakahan. Namun, ia bisa menjadi 'pintu masuk' menuju keserakahan bila tidak ada mekanisme pengereman.

Di titik itulah puasa menemukan relevansinya yang paling mendasar, yakni sebagai ikhtiar mengerem keserakahan. Puasa bukan sekadar ritual menahan makan dan minum sejak fajar hingga magrib. Ia latihan sadar untuk mengatakan 'cukup' pada dorongan yang tak pernah merasa cukup.

Dalam bahasa etika klasik, keserakahan lahir ketika hasrat mengalahkan akal sehat dan nurani. Manusia tak lagi menguasai keinginan, tetapi dikuasai olehnya. Ramadan hadir untuk membalik keadaan itu.

Ketika seseorang sanggup menahan yang halal, seperti makan, minum, dan relasi biologis, seharusnya ia lebih mampu menahan yang haram, seperti korupsi, manipulasi, eksploitasi, dan kerakusan kekuasaan. Jika yang halal saja ditahan demi ketaatan, apalagi yang jelas-jelas melanggar hukum dan etika.

Karena itu, banyak yang menyebutkan puasa ialah sekolah pengendalian diri. Ia mengajarkan hidup tidak diukur dari seberapa banyak yang bisa dikumpulkan, tetapi seberapa mampu seseorang menguasai dirinya. Dalam tradisi moral, keserakahan selalu menjadi pangkal kerusakan.

Dari kerakusan lahir ketimpangan. Dari ketimpangan lahir kecemburuan sosial. Dari kecemburuan sosial tumbuh konflik. Karena itu, puasa sesungguhnya bukan hanya ibadah individual, melainkan juga pesan sosial.

Di tengah realitas ekonomi yang tidak selalu mudah, Ramadan seharusnya menjadi momen refleksi bagi para pemegang kuasa. Jangan sampai bulan suci justru menjadi musim panen bagi praktik rente, penimbunan, dan permainan harga. Tidak etis meraup keuntungan berlipat ketika masyarakat sedang berusaha khusyuk beribadah.

Puasa mengajarkan empati. Rasa lapar yang dirasakan orang berpunya ialah jembatan untuk memahami lapar yang setiap hari dirasakan mereka yang papa. Jika empati tumbuh, keserakahan menyusut. Jika empati mati, keserakahan menemukan panggungnya.

Ironisnya, di zaman serbacepat ini, keserakahan sering tampil dengan wajah rasional. Ia bersembunyi di balik dalih efisiensi, target pertumbuhan, atau persaingan pasar. Padahal, di balik angka-angka itu, ada manusia yang terdampak. Ada buruh yang upahnya ditekan. Ada konsumen yang tak punya pilihan. Ada lingkungan yang dikorbankan.

Ramadan mengingatkan bahwa manusia bukan sekadar makhluk ekonomi. Ia makhluk moral. Menahan diri selama sebulan penuh ialah latihan kolektif untuk mengembalikan kendali pada nurani.

Lapar bukan untuk melemahkan tubuh, melainkan untuk menguatkan kesadaran. Dahaga bukan untuk menyiksa, melainkan untuk menyadarkan bahwa hidup memiliki batas. Dalam batas itulah martabat manusia dijaga.

Keserakahan selalu ingin melampaui batas, yakni batas hukum, batas etika, bahkan batas kemanusiaan. Puasa datang sebagai rem. Ia berkata, 'berhenti sejenak, ukur kembali, tanyakan pada diri sendiri untuk apa semua ini?'.

Jika Ramadan hanya berhenti pada perubahan jam makan, ia kehilangan daya transformasinya. Namun, jika Ramadan menjelma menjadi kesadaran kolektif untuk hidup secukupnya, berbagi secukupnya, dan berkuasa secukupnya, ia menjadi energi peradaban.

Pada akhirnya, puasa bukan tentang lapar yang ditahan, melainkan tentang nafsu yang dikendalikan. Bukan tentang meja makan yang kosong pada siang hari, melainkan tentang hati yang tidak lagi dipenuhi kerakusan.

Ramadan mengajarkan satu kata yang sederhana, tetapi revolusioner, yakni 'cukup'. Dari kata 'cukup' itulah, keserakahan mulai kehilangan pijakannya.



Berita Lainnya
  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.