Headline

Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.

Noel agak Laen

28/1/2026 05:00
Noel agak Laen
Ahmad Punto Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

IMANUEL 'Noel' Ebenezer memang bukan sembarang terdakwa korupsi. Kalau boleh meminjam judul film besutan sutradara Muhadkly Acho yang sekuel keduanya baru saja memecahkan rekor sebagai film Indonesia terlaris sepanjang masa, Noel seperti itu, Agak Laen.

Dulunya ia seorang aktivis. Sebagai aktivis, tentu ia selalu paling depan dalam menyoroti sekaligus mengingatkan perihal integritas serta nurani pejabat dan penguasa. Tidak terkecuali soal korupsi. Noel sangat vokal menyuarakan narasi antikorupsi, bahkan pernah mengusulkan hukuman mati bagi koruptor.

Lalu, roda berputar. Sang aktivis itu, singkat cerita, masuk lingkaran elite penguasa. Setapak demi setapak ia menaiki tangga kekuasaan. Puncaknya ia masuk radar Presiden Prabowo Subianto dan ditunjuk sebagai wakil menteri ketenagakerjaan.

Idealisme aktivisnya seketika tenggelam. Ia tercebur dalam kolam pragmatisme kekuasaan. Noel yang dulu getol menyoal perilaku korup para pejabat, setelah jadi wamen, malah menjadi pelakunya. Ia bahkan jadi anggota pertama Kabinet Merah Putih yang ditangkap tangan oleh KPK. Saat itu, usia jabatannya belum genap satu tahun. 'Agak laen', bukan?

Namun, tak berhenti di situ. Ia semakin memperlihatkan sisi 'agak laen' yang ia punya saat persidangan atas perkaranya mulai digelar. Dari sidang satu ke sidang berikutnya, ia menampilkan wajah dan watak yang berlainan. Entahlah, itu bagian dari strategi atau memang cerminan karakter asli dia yang gampang berubah haluan.

Pada sidang perdana, Senin (19/1), ia tampil dengan wajah pertobatan yang nyaris sempurna. Di sela-sela sidang, kepada wartawan ia mengamini telah menerima uang sebesar Rp3 miliar dalam kasus pengurusan sertifikat keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di Kemenaker. Pada sidang itu, jaksa mendakwa Noel menerima gratifikasi senilai Rp3,36 miliar serta satu sepeda motor Ducati Scrambler dari ASN Kemenaker dan pihak swasta.

Dengan muka pasrah, eks Ketua Relawan Jokowi Mania itu mengatakan cukup puas atas dakwaan jaksa. Ia pun mengakui bersalah sehingga tidak akan menyampaikan pembelaan. "Sudah mengakui salah, kok, ngapain lagi pakai eksepsi (pembelaan)? Sudah betul semualah, ngapain lagi kita ribet-ribet, sih. Biar semua terang benderang," kata Noel ketika itu.

Namun, hanya berselang tujuh hari, 'keinsafan' Noel itu menguap tanpa sisa. Begitu keluar dari ruangan seusai menjalani sidang kedua, Senin (26/1), ia mendadak lupa pada pengakuan dosanya. Di depan wartawan, ia berbalik 'menyerang' KPK terkait dengan operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan terhadapnya.

Katanya, KPK hanyalah sekumpulan kreator konten di Gedung Merah Putih yang sedang menjahit rekayasa demi pesanan elite yang merasa terganggu oleh sidak-sidak heroiknya. Noel pun memelesetkan kepanjangan OTT dengan 'operasi tipu-tipu'. Pendeknya, ia seolah ingin mencoba menggeser perkara korupsi personal menjadi narasi kriminalisasi politik.

Mulai terkonfirmasi, kan, kenapa dia 'agak laen'? Kalau sebelumnya ia sudah mengakui bersalah, bahkan tak menampik menerima uang miliaran plus sepeda motor dari perkara itu, kenapa seminggu kemudian ia malah menuding ada rekayasa?

Secara logika awam pun, tak masuk. Katanya kriminalisasi, tapi kok, dia terima cuan? Jika proses hukum itu cuma tipu-tipu, lantas Rp3 miliar yang ia akui masuk kantongnya itu uang apa? Apakah itu pembagian honor dari hasil rekayasa para kreator konten di KPK seperti sindirannya kepada lembaga antirasuah itu? Betul-betul 'agak laen', memang.

Ketika di suatu waktu seseorang mengakui kesalahannya, tapi di waktu yang lain ia berteriak sebagai korban fitnah, rekayasa, atau apa pun istilahnya, itu jelas bukan kriminalisasi. Ketika orang merasa dizalimi hanya karena hukum memintanya mempertanggungjawabkan uang yang sudah ia akui masuk sakunya, itu bukan operasi tipu-tipu. Itu merupakan penghinaan terhadap inteligensi publik.

Sesungguhnya publik tidak sebodoh yang ia sangka. Publik tahu, dengan latar belakangnya sebagai aktivis, Noel ialah seorang orator ulung. Ia mahir mengolah kata, piawai menyusun narasi, pintar membangun opini. Gampang bagi dia untuk memelesetkan OTT menjadi apa pun yang ia suka. Namun, publik juga amat paham, uang sebesar Rp3 miliar dan motor Ducati yang ia nikmati ialah fakta keras yang tak bisa ditipu-tipu dengan diksi apa pun.

Justru Noel yang mungkin sebetulnya tidak secerdas yang ia sendiri kira. Nyatanya, saat terpojok, ia cuma bisa mengekor para koruptor 'senior' yang kerap menggunakan tudingan kriminalisasi untuk ngeles atau membela diri dari kesalahan mereka. Boleh saja saat jadi aktivis Noel ialah 'pemburu koruptor', tapi kini ia hanyalah 'pengekor koruptor'.

Akan tetapi, apa pun yang keluar dari mulut Noel, itu hak dia. Begitu juga publik punya hak untuk tidak mendengar, menikmati, atau bahkan mencemooh ocehan itu. Kita tunggu sambil cermati saja jalannya persidangan kasus dugaan pemerasan dan gratifikasi Noel dan kawan-kawannya itu untuk mengetahui fakta hukum yang ada.

Kalau fakta hukumnya sudah terang benderang, buktinya tidak terbantahkan, eh, dia masih ngoceh juga, tuding sana tuding sini, serang kanan serang kiri, maklumin saja. Memang 'agak laen' dia. Barangkali Muhadkly Acho perlu juga pertimbangkan untuk mengajak Noel dalam proyek film Agak Laen 3.

 



Berita Lainnya
  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.