Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Dunia tanpa Tatanan

04/3/2026 05:00
Dunia tanpa Tatanan
Ahmad Punto Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya. Ungkapan dalam bahasa latin yang dipopulerkan filsuf Thomas Hobbes di pertengahan abad ke-17 itu kini semakin jelas menampakkan gejalanya. Adagium itu menggambarkan sifat manusia yang egoistis, agresif, dan berpotensi kejam, termasuk 'memangsa' sesamanya.

Menurut Hobbes, 'keserigalaan' manusia itu akan hadir ketika tidak ada lagi tatanan yang mengatur roda kehidupan sosial, negara, ataupun tatanan dunia. Situasi itu menyebabkan manusia bakal hidup dalam keadaan perang 'semua melawan semua' (bellum omnium contra omnes). Individu saling memangsa layaknya serigala.

Serangan udara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir pekan lalu ialah gejala yang amat kuat. Serangan itu tidak bisa dipandang sekadar operasi militer biasa. Itu sebuah pernyataan bahwa tatanan dunia yang kita kenal selama delapan dekade terakhir telah masuk liang kubur.

Hari itu para serigala menerabas tatanan dengan bahasa kebrutalan. Bukan serigala yang berbulu kasar, melainkan mereka yang memakai jas dan seragam perlente serta duduk di ruang-ruang komando yang dingin. Mereka mengacak-acak aturan sembari mengabaikan kesepakatan, konvensi, dan hukum internasional.

Ketika Israel dan AS bebas menentukan siapa yang boleh diserang dan kapan serangan dilakukan tanpa memedulikan kedaulatan negara lain, yakinkah kita bahwa tatanan dunia berbasis aturan itu masih ada? Bila kekuatan militer menjadi satu-satunya legitimasi, seyakin itukah kita aturan internasional bisa menjadi pembatas moral?

Dunia hari ini berjalan nyaris tanpa tatanan, pun tanpa kompas yang setara. Aturan hanya berlaku bagi mereka yang lemah, yang tidak punya sekutu di jajaran elite alias negara-negara kuat. Bagi yang kuat, hukum hanyalah saran yang boleh diabaikan jika dianggap mengganggu syahwat kekuasaan.

Berharap pada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menjadi kekuatan terakhir untuk bisa menata dunia, seperti berharap babi bisa terbang. Hampir mustahil. Roh mereka telah lama mati. Dalam Piagam PBB atau UN Charter, jelas disebutkan, setiap negara diwajibkan menahan diri dari penggunaan kekuatan militer yang dapat mengancam integritas teritorial dan kemerdekaan negara lain.

Namun, bagaimana kenyataannya? Piagam itu bahkan sama sekali tak dianggap. AS, Israel sudah berkali-kali melanggar aturan tersebut, termasuk genosida yang mereka lakukan di Gaza, Palestina. Akan tetapi, faktanya tidak pernah ada sanksi buat mereka. Kalau diibaratkan macan, PBB tidak cuma ompong, tetapi juga tidak punya auman menggelegar. Mungkin malah sudah bisu.

Begitu pula dengan Dewan Keamanan yang hak vetonya bukan lagi menjadi instrumen penjaga perdamaian, melainkan perisai bagi para pelanggar untuk menindas tanpa sanksi. Hak veto sering disebut hanya 'akal-akalan' karena digunakan untuk melindungi kepentingan negara pemegang veto, seperti yang sering dilakukan AS untuk Israel atau Rusia dalam konflik Suriah.

Dunia betul-betul sedang berjalan dalam kegelapan. Bahkan bukan tidak mungkin bayang-bayang pecahnya Perang Dunia III bakal jadi kenyataan. Itu ialah kalkulasi logis dari hilangnya rasa saling percaya antarbangsa selama beberapa dekade terakhir, yang kemudian disulut dengan sangat efektif oleh kebrutalan serangan AS dan Israel ke Iran.

Ketika dialog dianggap sebagai tanda kelemahan dan kekerasan malah dipuja-puja sebagai solusi, sesungguhnya kita tahu bahwa salah satu konsekuensinya ialah kehancuran dunia secara total. Mungkin itu hanya soal waktu. Terlebih pascapecahnya perang Iran versus AS-Israel, kutub-kutub dunia kian mengeras, aliansi-aliansi militer juga mulai mengasah senjata demi menuntaskan syahwat dan egoisme geopolitik.

Patut diingat, kehancuran yang dibawa perang bukan sekadar kehancuran fisik atau teritori, melainkan juga kehancuran ekonomi dan peradaban. Yang sudah di depan mata ialah kemungkinan terjadinya krisis energi global yang cukup dahsyat. Apalagi Selat Hormuz yang menjadi jantung distribusi minyak dan gas dari Timur Tengah menuju Eropa dan Asia sudah pula ditutup Iran.

Penutupan selat yang menjadi simpul perdagangan energi paling penting di kawasan Teluk Persia tersebut sudah pasti akan menyebabkan shock energi global. Pasalnya, sekitar 20% minyak dunia diangkut melalui jalur itu. Risiko lanjutannya, krisis energi bisa menjadi bibit terjadinya krisis ekonomi yang lebih luas.

Lalu, banyak yang penasaran, sebetulnya sebelum memutuskan menggandeng Israel menyerang Iran, Presiden Donald Trump sudah menghitung risiko-risiko itu belum, sih? Entahlah. Yang pasti, di era ekonomi modern yang saling terhubung, AS pun sejatinya tidak terbebas dari risiko itu.

"Ah, masa bodoh, yang penting saat ini kami mau gulingkan dulu rezim pemerintahan Iran," begitu mungkin jawaban Trump kalau ditanya soal risiko buat AS. Ia tak peduli meski harus bertaruh dengan situasi perekonomian di negaranya sendiri.

Seperti itulah kiranya bila pihak yang kuat dibiarkan tetap semena-mena tanpa satu pun pihak yang bisa menghalangi dan memberi sanksi. Dunia tidak saja semakin tua, tapi juga semakin tidak punya tatanan dan aturan. Yang ada hanyalah kawanan serigala yang siap menyantap mangsa lemah mereka.



Berita Lainnya
  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.