Headline
Gara-gara Yaqut, Noel ikut ajukan jadi tahanan rumah.
Gara-gara Yaqut, Noel ikut ajukan jadi tahanan rumah.
Kumpulan Berita DPR RI
TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena. Malam itu, pelatih asal Spanyol tersebut 'menuntun' anak didiknya, timnas futsal Indonesia, menapaki tangga sejarah paling membanggakan bagi bangsa, yakni menembus final Piala Asia Futsal 2026 untuk pertama kalinya.
Sejarah, dalam olahraga, kerap hadir sebagai angka-angka kering. Statistik. Catatan. Arsip. Namun, apa yang dilakukan timnas futsal Indonesia di Piala Asia kali ini melampaui sekadar baris rekor. Ia menjelma peristiwa yang mengguncang cara kita memandang diri sendiri.
Untuk pertama kalinya sejak turnamen itu digelar pada 1999, Indonesia melangkah ke final Piala Asia Futsal. Bukan sekadar lolos semifinal, yang itu saja sudah mematahkan batas tertinggi selama ini, perempat final, melainkan juga melaju lebih jauh ke partai puncak.
Lebih 'gila' lagi, sejarah itu ditulis dengan menyingkirkan Jepang, penguasa Asia dengan empat gelar juara, melalui drama perpanjangan waktu dan skor mencolok 5-3.
Itu bukan kemenangan biasa. Itu pernyataan.
Selama bertahun-tahun, futsal Indonesia hidup dalam bayang-bayang raksasa Asia. Jepang, Iran, Tailan, nama-nama yang kerap terdengar seperti tembok tak tertembus. Kita datang ke turnamen, berjuang, lalu pulang dengan kepala tegak, tapi langkah terhenti di batas yang sama. Perempat final. Lagi dan lagi.
Namun, anak-anak asuh Hector Souto memilih jalan berbeda. Mereka tidak sekadar 'tampil baik', tidak pula 'mencuri satu kemenangan'. Mereka merobohkan tembok itu, satu demi satu, hingga akhirnya berdiri di tempat yang belum pernah disentuh sebelumnya.
Mengalahkan Jepang di semifinal bukan soal taktik semata meski disiplin dan keberanian memainkan peran besar. Ia kemenangan mental. Jepang bukan hanya tim kuat. Ia simbol dominasi. Saat Indonesia mampu memaksa laga ke perpanjangan waktu, lalu mencetak gol demi gol di fase paling menentukan, kita sedang menyaksikan perubahan paradigma, bahwa Indonesia tak lagi inferior.
Nama-nama seperti Muhammad Iqbal, Habibie, Nizar, Israr, Firman Ardiansyah, Brian Ick, Samuel Eko, Saud Stauqi, dan kawan-kawan kini bukan sekadar pengisi skuad. Mereka aktor utama dalam babak baru futsal nasional. “Siap tempur,” kata mereka, menatap final. Pernyataan sederhana, tetapi sarat makna. Lawan yang mereka hadapi Iran, yang juara bertahan, pemilik 13 gelar Piala Asia Futsal. Raja sejati benua ini.
Secara logika, Iran ialah ujian terakhir yang nyaris mustahil. Namun, bukankah logika yang sama juga menyertai laga kontra Jepang? Bukankah semifinal itu, di atas kertas, juga bukan milik Indonesia?
Di titik ini, hasil final menjadi hampir sekunder. Sejarah sudah terlampaui. Batas psikologis telah runtuh. Yang kini dipertaruhkan bukan lagi apakah Indonesia bisa juara, melainkan seberapa jauh keberanian itu akan dijaga.
Karena itu, ketika di final timnas futsal kalah adu penalti oleh Iran setelah skor 5-5 hingga perpanjangan waktu, capaian itu tak mengurangi sama sekali respek terhadap anak asuh Souto. Mereka telah membuktikan mampu memberikan perlawanan yang tak kenal lelah. Jauh melampaui ekspektasi.
Pencapaian itu seharusnya menjadi cermin bagi ekosistem olahraga nasional. Bahwa dengan pembinaan yang lebih terarah, keberanian mengambil pelatih dengan filosofi jelas, serta kepercayaan pada pemain, lonjakan prestasi bukan utopia. Ia mungkin. Ia nyata.
Timnas futsal Indonesia telah membuktikan sejarah bukan dinding, melainkan pintu. Bisa dibuka, asal ada keyakinan dan kerja yang konsisten. Apa pun hasilnya di final, kemarin, kita telah menyaksikan sesuatu yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya: Indonesia berdiri sejajar, menantang yang paling berkuasa.
Benar-benar gila? Ya.
Melampaui sejarah? Jelas.
Untuk pertama kalinya pula, kita berhak bermimpi lebih jauh, masuk gelanggang Piala Dunia Futsal. Seperti pernyataan Hector Souto kepada wartawan Uzbekistan saat konferensi pers sebelum laga final, "Tidak ada yang tidak mungkin bagi kami."
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.
POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved