Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Duka Ngada Aib Negara

05/2/2026 05:00
Duka Ngada Aib Negara
Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

Peringatan: Tulisan ini bukan dimaksudkan menginspirasi siapa pun untuk melakukan tindakan serupa. Jika Anda merasa depresi, berpikir untuk bunuh diri, segera konsultasikan segala masalah Anda ke tenaga profesional seperti psikolog, klinik kesehatan mental, psikiater, dan pihak lain yang bisa membantu.

 

'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti)

Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

Mama molo Ja'o (Mama relakan saya pergi)

Galo mata Mae Rita ee Mama (Jangan menangis ya Mama)

Mama jao Galo Mata Mae woe Rita ne'e gae ngao ee (Tidak perlu Mama menangis dan mencari, atau mencari saya)

Molo Mama (Selamat tinggal Mama)'

 

TIAP kali saya membaca tulisan dalam bahasa Ngada, Nusa Tenggara Timur, itu, makin pilu hati ini. Sungguh tak terbayangkan apa yang dirasakan sang bocah ketika ia menulisnya. Sungguh tak tergambarkan seperti apa perasaan sang ibu saat ini.

Surat itu pendek. Ia ditulis seorang anak yang baru berumur 10 tahun, YBR, dan ditujukan buat sang ibu tercinta, Maria Goreti Te’a, 47. Isinya bukan ungkapan rasa kangen, melainkan ucapan untuk pamit pergi. Bukan pergi ke sekolah atau keluar daerah, melainkan pergi selama-lamanya dan takkan kembali lagi. Sang bocah menulisnya sebelum bunuh diri.

Itulah tragedi tak terperikan yang baru saja terjadi di negeri ini. Tragedi karena alasan yang teramat sulit untuk dimaklumi. YBR memilih mengakhiri hidup karena sang ibu tak kuasa membelikannya buku dan pena. Siswa kelas IV SD itu nekad gantung diri di pohon cengkih bukan karena narkoba, bukan lantaran asmara remaja, juga bukan sebab tak punya gawai. Sekali lagi, ia bunuh diri cuma karena buku dan pulpen yang harganya tak sampai Rp10 ribu.

Realitas itu terasa mustahil mampir di beranda bangsa kita. Terlalu kejam itu terjadi di negeri yang setiap hari membanggakan diri sebagai negara kaya sumber daya alam, yang gemah ripah loh jinawi. Justru di sinilah ironi terpatri. Kematian sang anak bukan kecelakaan, melainkan konsekuensi logis dari kemiskinan akut yang dibiarkan. Konsekuensi masuk akal dari negara yang terlalu lama menutup mata atas apa yang dialami sebagian rakyatnya.

Buku dan pena ialah barang paling sederhana bagi anak sekolah. Ia bukan laptop, bukan tablet yang harganya jutaan. Juga bukan uang jajan yang kata seorang pejabat merupakan penyebab anak putus sekolah. Ia simbol paling dasar dari hak belajar. Ketika hak paling elementer itu pun tak terjangkau, bukan hanya masa depan anak yang hilang, klaim moral negara pun berantakan.

Rakyat kerap disuguhi pidato tentang Indonesia emas 2045, tentang bonus demografi, tentang generasi unggul dan berdaya saing global. Akan tetapi, di Ngada, mimpi seorang penerus masa depan bangsa kandas oleh buku tulis dan pulpen. Retorika sundul langit itu runtuh di hadapan seorang ibu yang hanya bisa menunduk karena tak bisa memenuhi permintaan sepele sang anak lantaran dompetnya kosong.

Rakyat baru saja disuguhi kebijakan negara ikut dalam badan perdamaian dunia yang entah berpihak kepada siapa dengan membayar belasan triliun rupiah. Rakyat pun tak henti-hentinya diperlihatkan semangat luar biasa para pejabat bagi-bagi jabatan, bagi-bagi pendapatan. Namun, di Desa Naruwolo, Ngada, seorang ibu terus meratap lantaran kehilangan anak karena ia miskin dan tak bisa mencukupi kebutuhan yang bahkan paling murah sekalipun. Inikah potret asli negeri ini?

Begitulah, ironi paling telanjang sedang dipertontonkan. Seperti biasa, para elite ramai-ramai ikut berduka. Mereka menyesal kenapa tragedi di Ngada sampai terjadi. Mereka kompak menganggap duka itu ialah cambuk untuk berbenah diri. Namun, seperti yang sudah-sudah, begitu peristiwanya berlalu, setelah kamera dimatikan, seusai pemberitaan melandai, kiranya bakal berlalu pula komitmen itu.

Elite barangkali akan berkata ini kasus personal. Peristiwa tragis yang tak bisa digeneralisasi. Jika begitu, di situlah letak kesesatannya. Bunuh diri seorang anak karena kemiskinan jelas bukan kejadian personal. Ia jeritan struktural. Ia bukti bahwa sistem perlindungan sosial bocor, bahwa pendidikan gratis hanya pemanis kekuasaan, tapi sejatinya pahit di kehidupan nyata. Ia menjadi penguat basis pertanyaan, di mana sebenarnya negara?

Bagaimana bisa seorang ibu yang sendirian mengurus lima anak luput dari bantuan? Bagaimana seorang nenek yang tinggal di gubuk bambu berukuran 2 x 3 meter terpaksa harus merawat satu dari lima anak yang akhirnya memilih bunuh diri itu tak tersentuh apa-apa? Ke mana pak RT, ketua RW, lurah, camat, bupati, gubernur, menteri?

Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Ngada Gerardus Reo bilang ibu korban memang lepas dari sistem bantuan. Dalihnya, meski sudah 11 tahun tinggal di Desa Naruwolo, yang bersangkutan masih ber-KTP Nagekeo.

Begitulah. Lagi-lagi ihwal administrasi dijadikan alibi. Lagi-lagi negara terlambat mengurusi. Katanya, urusan kependudukan segera dirampungkan, bantuan pun bisa diberikan, tapi satu nyawa seorang bocah keburu melayang.

Tragedi Ngada ialah tamparan superkeras bagi penguasa. Ia aib luar biasa bagi negara. Seorang anak memilih pergi karena merasa menjadi beban lantaran tak sanggup lagi diimpit kemiskinan. Negara seharusnya hadir jauh sebelum keputusasaan itu datang. Negara semestinya memastikan tak ada anak Indonesia yang berpikir bahwa mati lebih masuk akal daripada hidup papa.

Jika tragedi itu berlalu begitu saja tanpa perubahan, kita patut bertanya siapa sebenarnya yang bunuh diri hari itu. Sang anak atau nurani para pemimpin yang memang benar-benar telah mati?



Berita Lainnya
  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

Opini
Kolom Pakar
BenihBaik