Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

Silaturahim yang Menyejahterakan

16/3/2026 05:00
Silaturahim yang Menyejahterakan
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran. Mengapa? Karena mudik memberikan denyut yang berbeda dalam nadi bangsa ini di setiap kali Ramadan mendekati garis finis.

Mudik menjadi sebuah fenomena kolosal yang tak sekadar soal rindu, tapi juga soal redistribusi kemakmuran yang bergerak masif dari pusat-pusat beton menuju ke jantung-jantung desa. Bayangkan, separuh penduduk Indonesia berarak beriringan menuju kampung halaman.

Tahun ini, skalanya bukan lagi sekadar ramai, melainkan juga menakjubkan, yakni lebih dari 144 juta manusia yang bergerak serentak itu. Bayangkan, lebih dari separuh populasi negeri ini (data terbaru dari Dukcapil Kemendagri, jumlah penduduk Indonesia 288 juta jiwa) sedang melakukan eksodus kultural.

Namun, lihatlah di balik debu jalanan dan kemacetan tol, ada angka yang mencengangkan. Ada sekitat Rp190 triliun perputaran uang selama mudik Lebaran tahun ini. Itu bukan angka main-main. Itu ialah 'mesin ekonomi strategis' yang bekerja secara organik, tanpa perlu instruksi birokrasi yang berbelit-belit.

Ia sudah menjelma desentralisasi dompet secara organik. Selama ini, kita bicara tentang pemerataan pembangunan seolah itu ialah beban APBN semata. Padahal, melalui mudik, para perantau sedang melakukan 'desentralisasi dompet' tersebut.

Uang yang setahun penuh terkumpul di Jakarta, Surabaya, atau Batam tumpah ruah ke pasar-pasar tradisional di pelosok Jawa, warung kopi di Sumatra, hingga bengkel kecil di Sulawesi.

Logikanya sederhana, uang berputar sebanyak Rp190 triliun itu ialah stimulus instan bagi UMKM di daerah. Konsumsi rumah tangga melesat dan daya beli masyarakat desa yang biasanya stagnan tiba-tiba mendapat suntikan oksigen yang segar.

Namun, mereduksi mudik sebatas angka nominal tentu ialah sebuah kesempitan berpikir. Mudik ialah transfer pengetahuan dan jejaring. Ia bukan sekadar mesin ekonomi, melainkan juga transfer literasi.

Perantau pulang membawa informasi pendidikan. Mereka bercerita tentang beasiswa, kursus keterampilan, dan akses dunia digital yang mungkin selama ini hanya jadi mitos di kampung.

Di teras-teras rumah saat Lebaran, terjadi networking yang lebih cair daripada di ruang rapat SCBD, Sudirman, Thamrin. Ide bisnis baru muncul, kemitraan dibentuk, dan peluang kerja dibuka. Mereka membawa standar baru tentang kemajuan. Bukan untuk pamer, melainkan untuk memicu semangat membangun kampung halaman agar tak kalah dengan hiruk-pikuk kota.

Kita harus jujur, mudik ialah silaturahim akbar yang merupakan modal sosial terkuat bangsa ini. Di saat sekat-sekat politik sering kali membelah kita, mudik menyatukan kembali simpul yang sempat longgar. Ada dialog antargenerasi, ada rekonsiliasi antartetangga, dan ada penguatan akar budaya.

Karena itu, pemerintah jangan hanya sibuk mengurus aspal dan kelancaran lalu lintas. Rawat modal sosial penting itu. Ia kekayaan penting dan strategis yang tumbuh dari bawah. Ia kesadaran yang menggerakkan, bukan doktrin yang dipaksakan.

Tantangan besarnya ialah bagaimana memastikan ledakan ekonomi Rp190 triliun itu tidak menguap begitu saja setelah arus balik. Bagaimana agar perputaran uang itu menjadi pemantik investasi permanen di daerah.

Mudik membuktikan bahwa rakyat memiliki caranya sendiri untuk menyejahterakan satu sama lain. Kini tinggal bagaimana negara menjaga momentum itu agar tidak sekadar menjadi ritual tahunan yang melelahkan, tapi juga menjadi pilar kukuh bagi ketahanan ekonomi nasional.



Berita Lainnya
  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.

  • Untung Ada Lebaran

    30/3/2026 05:00

    ADA celetukan sangat viral pada 1980-an dari almarhum Gepeng. Pelawak Srimulat itu berucap, "Untung ada saya."

  • Tahanan Istimewa

    26/3/2026 05:00

    YAQUT Cholil Qoumas memang telah kembali dijebloskan ke balik jeruji besi rumah tahanan KPK.

  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

Opini
Kolom Pakar
BenihBaik