Headline
Polisi harus usut tuntas hingga ke aktor intelektualnya.
Polisi harus usut tuntas hingga ke aktor intelektualnya.
Kumpulan Berita DPR RI
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran. Mengapa? Karena mudik memberikan denyut yang berbeda dalam nadi bangsa ini di setiap kali Ramadan mendekati garis finis.
Mudik menjadi sebuah fenomena kolosal yang tak sekadar soal rindu, tapi juga soal redistribusi kemakmuran yang bergerak masif dari pusat-pusat beton menuju ke jantung-jantung desa. Bayangkan, separuh penduduk Indonesia berarak beriringan menuju kampung halaman.
Tahun ini, skalanya bukan lagi sekadar ramai, melainkan juga menakjubkan, yakni lebih dari 144 juta manusia yang bergerak serentak itu. Bayangkan, lebih dari separuh populasi negeri ini (data terbaru dari Dukcapil Kemendagri, jumlah penduduk Indonesia 288 juta jiwa) sedang melakukan eksodus kultural.
Namun, lihatlah di balik debu jalanan dan kemacetan tol, ada angka yang mencengangkan. Ada sekitat Rp190 triliun perputaran uang selama mudik Lebaran tahun ini. Itu bukan angka main-main. Itu ialah 'mesin ekonomi strategis' yang bekerja secara organik, tanpa perlu instruksi birokrasi yang berbelit-belit.
Ia sudah menjelma desentralisasi dompet secara organik. Selama ini, kita bicara tentang pemerataan pembangunan seolah itu ialah beban APBN semata. Padahal, melalui mudik, para perantau sedang melakukan 'desentralisasi dompet' tersebut.
Uang yang setahun penuh terkumpul di Jakarta, Surabaya, atau Batam tumpah ruah ke pasar-pasar tradisional di pelosok Jawa, warung kopi di Sumatra, hingga bengkel kecil di Sulawesi.
Logikanya sederhana, uang berputar sebanyak Rp190 triliun itu ialah stimulus instan bagi UMKM di daerah. Konsumsi rumah tangga melesat dan daya beli masyarakat desa yang biasanya stagnan tiba-tiba mendapat suntikan oksigen yang segar.
Namun, mereduksi mudik sebatas angka nominal tentu ialah sebuah kesempitan berpikir. Mudik ialah transfer pengetahuan dan jejaring. Ia bukan sekadar mesin ekonomi, melainkan juga transfer literasi.
Perantau pulang membawa informasi pendidikan. Mereka bercerita tentang beasiswa, kursus keterampilan, dan akses dunia digital yang mungkin selama ini hanya jadi mitos di kampung.
Di teras-teras rumah saat Lebaran, terjadi networking yang lebih cair daripada di ruang rapat SCBD, Sudirman, Thamrin. Ide bisnis baru muncul, kemitraan dibentuk, dan peluang kerja dibuka. Mereka membawa standar baru tentang kemajuan. Bukan untuk pamer, melainkan untuk memicu semangat membangun kampung halaman agar tak kalah dengan hiruk-pikuk kota.
Kita harus jujur, mudik ialah silaturahim akbar yang merupakan modal sosial terkuat bangsa ini. Di saat sekat-sekat politik sering kali membelah kita, mudik menyatukan kembali simpul yang sempat longgar. Ada dialog antargenerasi, ada rekonsiliasi antartetangga, dan ada penguatan akar budaya.
Karena itu, pemerintah jangan hanya sibuk mengurus aspal dan kelancaran lalu lintas. Rawat modal sosial penting itu. Ia kekayaan penting dan strategis yang tumbuh dari bawah. Ia kesadaran yang menggerakkan, bukan doktrin yang dipaksakan.
Tantangan besarnya ialah bagaimana memastikan ledakan ekonomi Rp190 triliun itu tidak menguap begitu saja setelah arus balik. Bagaimana agar perputaran uang itu menjadi pemantik investasi permanen di daerah.
Mudik membuktikan bahwa rakyat memiliki caranya sendiri untuk menyejahterakan satu sama lain. Kini tinggal bagaimana negara menjaga momentum itu agar tidak sekadar menjadi ritual tahunan yang melelahkan, tapi juga menjadi pilar kukuh bagi ketahanan ekonomi nasional.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.
POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita
SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan
PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved