Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Merayakan Perbedaan

18/3/2026 05:00
Merayakan Perbedaan
Ahmad Punto Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan. Awal Ramadan 1447 Hijriah jatuh hampir bersamaan dengan perayaan Tahun Baru Imlek 2577, sementara Hari Raya Idul Fitri bakal berimpitan dengan peringatan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948.

Dari kacamata penanggalan, fenomena itu mungkin hanya sebuah kebetulan. Namun, dari sudut pandang yang berbeda, itu merupakan ujian sekaligus pesan bagi kedewasaan kita dalam berbangsa. Itu ialah momentum penting untuk merayakan toleransi.

Kita diajak menyaksikan bagaimana awal bulan suci bagi umat Islam yang penuh dengan semangat pengendalian diri bersisian dengan tradisi Imlek yang kental dengan harapan dan rasa syukur. Tak lama setelah itu, keriuhan perayaan kemenangan Lebaran yang identik dengan sukacita dan silaturahim harus berbagi ruang dengan kesunyian total dari ritual caturbrata penyepian.

Situasi itu menuntut kedewasaan kolektif yang luar biasa. Bayangkan, di satu sisi ada kegembiraan yang ekspresif, di sisi lain ada tuntutan untuk merenung dalam hening yang sehening-heningnya. Keberagaman dan toleransi yang selama ini kerap kita agungkan dalam retorika kini mendapatkan panggung praktiknya yang paling konkret.

Secara filosofis, pertemuan itu juga memberikan pelajaran tentang keseimbangan hidup. Ramadan dan Imlek sama-sama 'berbicara' tentang pembersihan diri dari residu masa lalu. Sementara itu, Lebaran dan Nyepi menawarkan dialektika antara aspek lahiriah dan batiniah.

Keempatnya saling melengkapi. Benang merahnya ialah bahwa manusia tidak hanya butuh perayaan atas keberhasilan secara sosial, tapi juga perlu jeda untuk mengevaluasi diri di hadapan Tuhan. Manusia butuh kontemplasi untuk menjaga kewarasan nurani.

Betul bahwa di tengah potensi keindahan itu, kita tetap tidak boleh menutup mata terhadap tantangan yang mungkin saja terjadi. Masih ada kecenderungan di sebagian kelompok masyarakat yang melihat perbedaan sebagai beban atau ancaman. Bahkan ada pula golongan masyarakat yang sering memanfaatkan celah perbedaan itu untuk memicu segregasi.

Dalam konteks itulah, negara dan seluruh elemen bangsa harus hadir untuk memastikan persinggungan hari besar itu menjadi energi positif, bukan pemantik gesekan. Pada tingkatan terbawah, kita mesti menyamakan pemahaman terlebih dulu bahwa perbedaan ritual tidak boleh menghalangi kesamaan visi tentang persaudaraan kebangsaan.

Pada level selanjutnya, kita perlu menggeser paradigma soal toleransi, dari yang mungkin sebelumnya sekadar pasif menjadi toleransi aktif. Toleransi pasif ialah sebatas 'membiarkan orang lain beribadah'. Tingkat toleransi seperti itu sering kali rapuh jika dihadapkan pada kepentingan kelompok.

Sebaliknya, toleransi aktif ialah sebuah kesadaran bahwa kehadiran 'yang lain' dengan segala ritualnya ialah bagian tak terpisahkan dari identitas kita sebagai orang Indonesia. Pendeknya, toleransi dalam tataran praktisnya seharusnya tidak sekadar 'membiarkan yang lain ada', tetapi juga 'merayakan kehadiran yang lain'.

Negara harus memfasilitasi moderasi beragama itu bukan hanya lewat imbauan formalitas, melainkan juga lewat kebijakan yang memastikan setiap pemeluk agama, bahkan mereka yang tidak memeluk agama sekalipun, merasa aman dan dihormati. Narasi yang dibangun di ruang publik, termasuk media, harus diarahkan untuk merayakan persinggungan itu sebagai kekayaan nasional dan keberagaman ialah pengganda kekuatan bangsa.

Pesan penting dari kalender 2026 ini ialah tentang kemauan untuk berbagi ruang dan waktu. Ketika nanti umat Islam bersiap mengumandangkan takbir dan melaksanakan salat Idul Fitri, saudara-saudara kita umat Hindu masih menjalankan hening di tengah kesyahduan sunyi Nyepi.

Pada titik inilah empati diuji. Bagaimana keriuhan Lebaran tetap menghormati kesunyian Nyepi dan bagaimana kesunyian Nyepi memberikan ruang bagi ekspresi kegembiraan Lebaran. Jika harmoni tersebut tercapai, Indonesia telah lulus dari ujian kedewasaan sosiologis yang paling sulit.

Karena itu, tidak salah kiranya bila kita memandang momentum Ramadan, Imlek, Lebaran, dan Nyepi tahun ini sebagai madrasah sekaligus perayaan toleransi kebangsaan. Sebuah ruang belajar untuk memahami bahwa Indonesia sejak awal tidak dirancang untuk menjadi satu warna, tapi beragam warna. Sebuah 'selebrasi' tentang keberagaman yang telah memberikan jiwa kepada Indonesia.

Keindahan bangsa ini terletak pada kemampuannya merajut berbagai kontradiksi dan perbedaan menjadi sebuah harmoni. Di antara gema takbir dan sunyi Nyepi, kita seharusnya menemukan satu muara yang sama, yakni kedamaian. Mari kita jaga tenun kebangsaan ini agar tetap utuh karena di dalam keberagaman itulah kekuatan sejati Indonesia berada.

Selamat memperingati Hari Suci Nyepi bagi umat Hindu. Selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri bagi kaum muslim. Selamat menikmati indahnya toleransi. Mohon maaf lahir dan batin.

 



Berita Lainnya
  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

Opini
Kolom Pakar
BenihBaik