Headline
Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.
Kumpulan Berita DPR RI
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat. Keyakinan satu kepala dipenggal lalu tubuh akan rubuh. Keyakinan tentang bangsa yang akan tiarap hanya karena tanah mereka dihujani bom.
Keyakinan itulah yang kiranya ada dalam diri Amerika Serikat dan Israel ketika menyerang Iran pada Sabtu (28/2). Dalam serangan tanpa persetujuan Kongres Amerika itu, kedua negara pamer kehebatan. Tak kurang dari 30 bom dijatuhkan ke kantor dan kediaman Ayatullah Ali Khameini. Pemimpin tertinggi Iran itu gugur bersama beberapa anggota keluarga. Sejumlah tokoh penting lainnya juga wafat.
Decapitation strike atau serangan pemenggalan. Itulah strategi AS dan Israel. Dengan membunuh pemimpin tertinggi Ali Khameini, mereka percaya akan tercipta kekacauan internal Iran. Logikanya sederhana; tubuh akan ambruk karena tak lagi punya kepala. Rantai komando berantakan, para serdadu kehilangan arah. Namun, sejarah sering kali menertawakan keyakinan yang berlebihan. Realitas kerap mementahkan kesederhanaan yang congkak. Keyakinan berlebihan tak jarang menjelma menjadi ilusi.
Faktanya, Iran tak runtuh. Kehilangan pemimpin tertinggi yang begitu dihormati tak membuat mereka tercerai berai. Petinggi politik, agama, dan militer tetap solid. Demikian halnya dengan rakyat Iran. Memang ada yang bersuka dengan kematian Khameini, tapi sebagian besar diliputi duka. Duka yang mengkristal menjadi dendam dan semangat membara untuk melakukan pembalasan. Bendera merah mereka kibarkan.
Kematian Khameini ialah api pengobar semangat bagi Iran untuk menjaga harga diri. Serangan balasan besar-besaran terus mereka lancarkan. Tidak cuma dengan letupan senapan. Pangkalan militer dan aset-aset Amerika di negara-negara tetangga yang selama ini mengepung Iran dihancurkan dengan rudal dan drone kamikaze. Kerusakannya signifikan. Bom kematian juga bergentayangan di Israel. Sejumlah tempat strategis negara Zionis itu luluh lantak.
Amerika barangkali terkaget-kaget. Presiden Donald Trump boleh jadi terkejut badan. Selama beberapa dekade, reputasi mereka sebagai negara adikuasa jarang ditantang secara terbuka. Banyak rezim cepat tumbang sebelum sempat mengangkat tangan. Tak sedikit negara memilih menyerah sebelum peluru kedua ditembakkan. Namun, Iran lain daripada yang lain.
Iran ialah bangsa dengan memori panjang tentang invasi, embargo, isolasi. Dari perang melawan Irak yang didukung Amerika pada 1980-an hingga sanksi ekonomi bertahun-tahun yang juga dimotori Amerika, Iran terbiasa dalam tekanan.
Taktik penggal kepala mungkin efektif di negeri yang institusinya rapuh. Namun, di Iran, kepemimpinan bukan sekadar figur. Ia dibingkai sebagai simbol perlawanan. Ketika simbol itu diusik, diserang, dimatikan, yang bangkit bukan kepanikan, melainkan solidaritas dan semangat untuk melawan.
Dalam banyak pidatonya, Khamenei kerap menegaskan, ''Bangsa Iran tidak akan pernah tunduk pada intimidasi.'' Jauh sebelumnya, pendiri Republik Islam Iran Ayatullah Imam Sayyid Ruhullah Musavi Khomeini pernah bilang, ''Kami tidak takut pada kekuatan mana pun selain Tuhan.'' Ini sebuah fondasi ideologis bahwa perlawanan ialah bagian dari identitas.
Jangan lupakan pula sejarah Persia sebagai nenek moyang bangsa Iran. Selama ribuan tahun, mereka akrab dengan agresi asing. Mulai invasi Alexander Agung pada 334-330 sebelum Masehi, gelombang Arab di abad ke-7, hingga serbuan Mongol di abad ke-13. Namun, Persia tak pernah lenyap. Mereka selalu bangkit, kembali eksis seperti yang ditunjukkan Iran saat ini.
Keyakinan Trump dan PM Israel Benjamin Netanyahu bahwa Iran akan cepat takluk kiranya harus disimpan dulu di kantong terdalam. Persenjataan mereka boleh unggul jauh. Namun, faktanya, di palagan, Iran tak kalah-kalah amat. Meski puluhan tahun diembargo dan diisolasi, Iran tetap mampu unjuk kekuatan yang menakutkan hingga hari kelima perang. Dengan rudal-rudal, dengan drone-drone yang mematikan.
Iran memang sendirian. Paling dibantu proksi-proksi mereka seperti Houthi di Yaman, Hizbullah di Libanon, atau milisi di Irak. Bandingkan dengan Amerika yang bersekutu dengan Israel. Belum lagi dukungan dari sejumlah negara Barat, termasuk Inggris yang belakangan mengizinkan penggunaan aset mereka untuk pesawat-pesawat Amerika. Namun, Iran tak kenal kata takut. Yang membela Amerika masuk daftar pembalasan. Siapa pun dia. Terkini, pangkalan udara Inggris di Siprus yang berjarak hampir 2.000 km tak luput dari serangan drone Shahed.
Kata Trump, perang melawan Iran bisa berlangsung sebulan. Benarkah? Kita tunggu saja kenyataannya. Yang pasti, bagi Amerika, situasi ini lebih dari sekadar konflik militer. Ini soal harga diri. Negara adidaya dengan segudang kelebihan dan arogansi yang jarang mendapat perlawanan terbuka kini menghadapi negara yang tak punya rasa gentar meski dihujani sanksi dan rudal.
Jika Iran tetap berdiri, narasi tentang dominasi absolut, hegemoni mutlak milik Amerika akan retak. Itu tentu aib buat Trump yang suka semaunya memperlakukan dunia, juga aib untuk Amerika. Sebaliknya bagi Iran, sejarah bahwa bangsa yang terbiasa diserang akan mengembangkan antibodi sekali lagi mereka buktikan.
Dalam perang simetris, mungkin Iran akan kehabisan napas. Namun, setidaknya mereka sudah unjuk diri sebagai bangsa yang tak gampang tunduk pada agresi bangsa lain. Manzelat (bahasa Farsi yang berarti martabat) mereka tetap tegak. Klop dengan prinsip bangsa Persia; Marg istadeh behtar az zendegi zanoo zadeh ast. Lebih baik mati berdiri daripada hidup berlutut.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved