Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Membaca Arah

23/2/2026 05:00
Membaca Arah
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. Seperti penggalan lagu Menjaring Matahari karya Ebiet G Ade: 'Roda zaman menggilas kita, terseret tertatih-tatih. Sungguh hidup terus diburu, berpacu dengan waktu'.

Putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat yang membatalkan tarif resiprokal Donald Trump menegaskan satu hal, bahwa lanskap ekonomi global bisa berubah secepat keputusan palu hakim diketuk. Kemarin, proteksionisme melaju tanpa rem. Hari ini, ia direm konstitusi. Besok? Bisa saja lahir desain kebijakan baru lewat Kongres.

Keputusan Mahkamah Agung Amerika Serikat itu bukan sekadar koreksi hukum. Ia penegasan batas kekuasaan, bahwa proteksionisme tidak boleh melompat pagar konstitusi. Pengadilan tertinggi di negeri adidaya itu menilai presiden tidak memiliki wewenang inheren untuk memberlakukan tarif besar-besaran terhadap negara mana pun.

Trump sebelumnya berlindung di balik International Emergency Economic Powers Act (IEEPA) 1977, undang-undang yang memberi presiden kuasa 'mengatur' perdagangan dalam keadaan darurat. Namun, para penggugat yang terdiri dari gabungan pemerintah negara bagian dan pelaku usaha kecil menegaskan konstitusi AS menempatkan kewenangan pajak dan tarif pada Kongres, bukan Gedung Putih.

Putusan itu menampar logika lama bahwa perang dagang bisa dijalankan sepihak, cepat, dan tanpa rem. Dunia usaha Amerika sendiri telah lama memprotes penaikan bea masuk mendadak yang membuat biaya impor melonjak dan harga barang di dalam negeri ikut terdongkrak. Ketika hukum kembali ditegakkan, pasar global menghela napas. Namun, siapa bisa menjamin besok tak ada perubahan lagi?

Bagi Indonesia, keputusan itu membuka dua pintu sekaligus, yaitu peluang dan kewaspadaan. Selama periode tarif tinggi, banyak eksportir Indonesia, mulai produk baja, tekstil, furnitur, hingga komponen elektronik, menghadapi ketidakpastian akses pasar AS. Jika rezim tarif sepihak dibatalkan, ruang negosiasi menjadi lebih rasional dan berbasis aturan. Indonesia bisa kembali menata strategi ekspor dengan asumsi kepastian hukum yang lebih kuat.

Kedua, kewaspadaan. Politik dagang Amerika tidak berhenti pada satu presiden. Spektrum proteksionisme tetap hidup dalam lanskap politik domestik AS. Putusan MA memang membatasi presiden, tetapi Kongres tetap memiliki kewenangan menetapkan tarif. Artinya, risiko kebijakan protektif belum benar-benar sirna, ia hanya berpindah arena.

Indonesia harus membaca perubahan itu bukan sebagai akhir perang dagang, melainkan sebagai fase baru berupa fase institusionalisasi. Perdebatan tarif akan kembali ke ruang legislasi, bukan dekrit darurat.

Para ahli ekonomi internasional kerap mengingatkan, dalam era ketidakpastian tinggi, yang paling berbahaya bukanlah perubahan itu sendiri, melainkan respons yang lambat dan reaktif. Dunia usaha yang tidak menyiapkan skenario alternatif akan menjadi korban volatilitas kebijakan.

Ada tiga sikap yang, menurut banyak ekonom dan pengamat perdagangan, harus ditempuh negara berkembang seperti Indonesia untuk menyikapi perubahan supercepat dan ketidakpastian superdahsyat.

Pertama, membangun ketahanan struktural. Ketergantungan pada satu pasar atau satu komoditas membuat ekonomi rentan terhadap guncangan politik negara lain. Ketika tarif diberlakukan, ekspor terpukul. Ketika tarif dicabut, pasar belum tentu langsung pulih. Artinya, diversifikasi pasar dan hilirisasi industri bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.

Kedua, memperkuat diplomasi ekonomi berbasis data. Perubahan kebijakan di AS menunjukkan argumentasi hukum dan konstitusional dapat menjadi penentu arah ekonomi global. Indonesia perlu memperkuat kapasitas analisis hukum perdagangan internasional agar tidak sekadar menjadi penerima dampak, tetapi juga mampu memengaruhi desain aturan.

Ketiga, menata ulang strategi industri domestik. Ahli kebijakan publik sering menekankan pentingnya daya saing internal. Tarif bisa naik atau turun, tetapi biaya logistik, kepastian regulasi, dan kualitas infrastruktur ialah pekerjaan rumah permanen. Jika fondasi domestik kukuh, gejolak eksternal tidak mudah menggoyahkan.

Perubahan cepat juga mengajarkan pentingnya kepemimpinan yang adaptif. Pemerintah dan pelaku usaha mesti bergerak dalam satu irama, yakni membaca risiko, menyiapkan mitigasi, dan menangkap peluang sebelum lewat.

Dalam ekonomi global yang serbacair, kepastian bukanlah sesuatu yang diberikan, melainkan diperjuangkan. Dunia sedang memasuki babak baru perdagangan yang lebih institusional, lebih legalistik, dan mungkin lebih kompleks.

Indonesia tak cukup hanya berharap pada stabilitas eksternal. Yang lebih penting ialah membangun stabilitas internal. Di tengah perubahan cepat, yang bertahan bukanlah yang paling kuat, melainkan yang paling siap beradaptasi.



Berita Lainnya
  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

Opini
Kolom Pakar
BenihBaik