Headline
Pemerintah pelajari seluruh risiko menyusul putusan MA AS.
Pemerintah pelajari seluruh risiko menyusul putusan MA AS.
Kumpulan Berita DPR RI
DUNIA kembali berdiri di bibir jurang. Ancaman Amerika Serikat melalui Presiden Donald Trump untuk menyerang Iran bila negeri itu tak tunduk pada kemauannya bukan sekadar gertak diplomatik. Ia sinyal berbahaya tentang betapa mudahnya perang dipantik pada era kesombongan politik bercampur dengan kekuatan militer raksasa.
Pengerahan kapal induk USS Abraham Lincoln dan armada besar Amerika, seperti USS Delbert D Black, di perairan Teluk bukan pesan damai. Itu bahasa kekerasan yang bisa menyeret dunia ke malapetaka baru. Trump terus mendesak Iran untuk segera mencapai kesepakatan, khususnya terkait dengan penghentian pengembangan senjata nuklir.
Trump memperingatkan bahwa kegagalan bernegosiasi dapat memicu serangan lanjutan. Bahkan, ia menggertak Iran dengan menyebut serangan lanjutan itu akan jauh lebih besar jika dibandingkan dengan sebelumnya. Itu jika memang serangan jadi dilakukan AS.
Iran, di sisi lain, memilih jalan menantang. Republik Islam itu menolak tunduk. Pemimpin tertingginya, Ayatullah Ali Khamenei, menegaskan Iran tak akan berkompromi terhadap tekanan musuh-musuh mereka, terutama Amerika Serikat dan Israel. Pernyataan itu bukan sekadar retorika ideologis, melainkan deklarasi bahwa Iran siap membayar harga mahal demi kedaulatan mereka. Dalam logika konflik, sikap semacam itu membuat eskalasi kian sulit dibendung.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Ali Larijani tak kalah garang. Larijani menuduh Amerika Serikat sedang berupaya menghancurkan kohesi sosial Iran sebelum melancarkan serangan militer. Ia menuding Donald Trump sengaja menggambarkan Iran berada dalam kondisi darurat, dan itu dinilainya sudah merupakan bentuk peperangan.
Situasi menjadi kian genting ketika Iran juga menyiagakan rudal-rudal dan kapal selam canggih mereka. Pesan mereka jelas, yakni bila diserang, balasan akan datang. Dengan demikian, satu peluru yang dilepaskan bisa menjelma rentetan perang yang tak terkendali. Sejarah telah berkali-kali mengajarkan, perang besar sering kali bermula dari kesalahan kalkulasi dan ego para penguasa.
Banyak pengamat meyakini ancaman Amerika terhadap Iran bukan semata soal nuklir atau keamanan regional. Ada kepentingan yang lebih telanjang, yaitu melumpuhkan kekuatan militer dan energi Iran. Negeri para mullah itu ialah simpul penting Timur Tengah.
Jika Iran dilemahkan, Amerika Serikat bisa kembali menggenggam kendali kawasan, termasuk Selat Hormuz yang menjadi jalur vital sekitar 25% perdagangan dan suplai minyak dunia. Selat itu hingga kini dalam kendali Iran. Menguasai Hormuz berarti menguasai denyut ekonomi global. Iran mengancam bakal menutup selat sempit itu jika diserang.
Menggempur Iran berarti dianggap bisa menggerogoti kemampuan negeri di Teluk Persia itu dalam menguasai minyak. Data menunjukkan Iran punya cadangan minyak 208,6 miliar barel, menjadikannya sebagai negara pemilik cadangan minyak terbesar ketiga di dunia setelah Venezuela dan Arab Saudi.
Iran juga mampu memproduksi minyak hingga 4,6 juta barel per hari (pada 2024), dengan konsumsi minyak untuk dalam negeri 1,9 juta barel per hari. Itu artinya, Iran mencatatkan surplus minyak mentah sekitar 2,7 juta barel per hari. Itulah salah satu yang membuat Iran sanggup bertahan dalam gempuran embargo ekonomi, khususnya dari Amerika Serikat dan sekutu mereka, selama hampir lima dekade.
Namun, harga ambisi untuk menguasai Iran itu amat mahal. Bila perang pecah, dunia akan kian berdarah-darah. Kita semua akan ikut tertekan. Harga minyak bisa membubung, ekonomi global terguncang, dan rakyat biasa di berbagai belahan dunia membayar ongkosnya.
Sejarah menunjukkan itu. Ketika negara-negara Arab anggota OPEC memboikot negara-negara yang mendukung Israel selama Perang Yom Kippur, harga minyak naik dari sekitar US$3 menjadi hampir US$12 per barel pada Oktober 1973 sampai Maret 1974. Itu artinya, membubung sekitar 300% hanya dalam beberapa bulan.
Begitu juga setelah Revolusi Iran 1979, produksi minyak Iran turun drastis, yang memicu panik di pasar. Harga minyak naik hampir tiga kali lipat, mendekati sekitar US$39,5 per barel pada awal 1980. Pun pula saat invasi Irak ke Kuwait (1990), itu menciptakan apa yang dinamakan ‘oil price shock’ awal 1990-an. Harga minyak dunia naik tajam, dari sekitar US$17 per barel pada Juli menjadi sekitar US$36 per barel pada Oktober 1990 dalam waktu beberapa bulan.
Karena itu, dunia tak boleh diam. Negara-negara mesti bergandengan tangan mencegah perang terjadi. Harus ada ikhtiar keras, sungguh-sungguh, untuk menarik rem konflik sebelum terlambat. Setiap uluran tangan untuk menjadi jembatan dialog (seperti yang disampaikan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan) mesti didukung dan digaungkan terus.
Para bijak bestari sejak lama mengingatkan bahwa perdamaian dan dialog ialah jalan beradab umat manusia. Perang mungkin memuaskan hasrat kuasa sesaat, tetapi ia memusnahkan manusia dan peradaban dalam jangka panjang. Di titik itulah nurani global diuji. Apakah dunia akan kembali tunduk pada logika senjata, atau memilih akal sehat, dialog, dan kemanusiaan sebagai penuntun arah?
Sejarah akan mencatat pilihan itu. Semoga, kali ini, dunia memilih untuk tetap utuh, bukan pecah oleh perang. Saya membayangkan Donald Trump, Netanyahu, Ayatullah Ali Khamenei, Vladimir Putin, dan Xi Jinping sarapan bareng sembari menarik tuas rem bersama-sama.
Anda mungkin mengira saya sedang bermimpi soal itu, tapi saya yakin tidak sendiri. Seperti kata John Lennon dalam Imagine yang melegenda itu: You may say I'm a dreamer, but I'm not the only one. I hope someday you'll join us, and the world will live as one.
"SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."
SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.
MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.
LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.
DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.
DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.
SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan
TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.
LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.
'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)
JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.
PATUT dicatat sebagai rekor nasional. Bila perlu dengan tinta tebal. Hanya dalam satu hari, lima pejabat otoritas keuangan mengundurkan diri.
HUKUM dan keadilan mestinya berada dalam satu tarikan napas. Hukum dibuat untuk mewujudkan keadilan.
DI negeri ini, keadilan tak jarang tersesat di tikungan logika dan persimpangan nalar.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved