Headline

Pemudik diminta manfaatkan kebijakan WFA.

Cinta dan Kepedihan

02/3/2026 05:00
Cinta dan Kepedihan
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

'HIDUP hanyalah sekejap bayang.

Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

Sastrawan Persia Omar Khayyam mengingatkan bahwa kefanaan manusia seharusnya membuat kita merawat kehidupan, bukan menghancurkannya. Di tengah dunia yang kerap didera perang dan dendam, suara sastrawan Persia itu seperti mata air di padang gersang. Mereka mengajarkan bahwa peradaban tak dibangun senjata, tapi oleh hati yang mau memahami.

Tulisan ini mungkin serupa teriakan kecil di padang yang luas. Mungkin pula tidak melahirkan dampak. Bisa jadi sekadar ajakan untuk menggugurkan diri dari level 'selemah-lemah iman' karena diam. Namun, siapa tahu masih ada hati yang tertambat.

Setelah melihat dunia kembali diguncang dentuman yang merobek langit Teheran, nurani kemanusiaan saya terkoyak. Serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada Sabtu (28/2) bukan sekadar operasi tempur. Ia pukulan telak terhadap tatanan dunia yang selama puluhan tahun dibangun dengan darah, air mata, dan kesepakatan internasional yang rapuh.

Korban berjatuhan. Anak-anak Iran, seperti yang terlihat di sekolah dasar (SD) khusus perempuan di wilayah Minab, Provinsi Hormozgan, Iran selatan, menjadi bagian paling memilukan dari statistik yang dingin dan tak berperasaan. Lebih dari itu, wafatnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, dalam serangan tersebut menandai babak baru yang sangat berbahaya.

Ketika simbol tertinggi sebuah negara teokratis tumbang akibat serangan eksternal, respons yang lahir hampir pasti bukan sekadar kecaman diplomatik. Ia bara dendam yang menyala. Garda Revolusi Iran pun sudah bersumpah menghukum 'para pembunuh' pemimpin tertinggi mereka, Ali Khamenei. Iran menyatakan akan memberikan balasan keras dan patut disesalkan musuh.

Tatanan dunia diguncang bukan hanya karena bom dan rudal, melainkan juga karena hukum internasional terasa tak lagi menjadi rujukan utama. Prinsip kedaulatan negara, yang selama ini dijaga dalam Piagam PBB, mendadak seperti selembar kertas yang mudah disobek ketika kepentingan geopolitik bermain.

Sejarah mengajarkan kepada kita Timur Tengah ialah ladang api yang mudah membesar. Setiap percikan bisa menjelma kobaran. Iran bukan negara yang berdiri sendiri. Ia memiliki jejaring proksi dan sekutu ideologis di berbagai penjuru kawasan. Serangan brutal akan dibalas dengan serangan brutal. Hukum besi konflik berbunyi demikian. Ketika balas-membalas menjadi bahasa utama, akal sehat tersingkir.

Kita tidak sedang berbicara tentang perang dua negara semata. Kita sedang berdiri di tepi jurang eskalasi regional yang bisa menyeret kekuatan-kekuatan global lain. Ketika proksi-proksi Amerika di Timur Tengah diserang dan sekutu-sekutu Israel ikut terlibat lebih jauh, spiral konflik akan sulit dihentikan. Dari Laut Merah hingga Teluk Persia, dari Suriah hingga Libanon, api bisa menjalar tanpa kendali.

Inilah titik ketika dunia seharusnya berhenti sejenak dan bertanya, ke mana peradaban hendak dibawa? Apakah kita rela menyaksikan anak-anak kembali menjadi korban, kota-kota menjadi puing, dan ekonomi global runtuh oleh lonjakan harga energi dan gangguan jalur perdagangan?

Perang Dunia Ketiga bukan sekadar istilah retoris. Ia kemungkinan nyata ketika blok-blok kekuatan saling mengunci dalam permusuhan terbuka. Dalam dunia yang saling terhubung, satu rudal di Timur Tengah bisa mengguncang pasar Asia, Eropa, hingga Amerika Latin. Krisis kemanusiaan dan pengungsi akan membanjiri banyak negara. Tatanan perdamaian yang susah payah dirawat sejak Perang Dunia II bisa runtuh.

Di sinilah tanggung jawab moral komunitas internasional diuji. Dewan Keamanan PBB tak boleh kembali terjebak dalam veto dan saling sandera kepentingan. Negara-negara besar harus menahan diri. Retorika balas dendam hanya akan mempercepat kehancuran kolektif.

Indonesia tidak boleh diam. Sebagai negara dengan politik luar negeri bebas aktif dan tradisi panjang diplomasi damai, Indonesia harus mengambil peran. Jakarta mesti menggalang dukungan dari negara-negara ASEAN, Organisasi Kerja Sama Islam, hingga Gerakan Nonblok untuk menyerukan penghentian segera permusuhan.

Seruan itu sederhana, tetapi mendesak, yakni akhiri perang segera. Kembalikan Amerika Serikat dan Israel serta Iran ke meja dialog dan perundingan. Hanya diplomasi yang mampu memutus mata rantai kekerasan.

Dialog bukan tanda kelemahan. Ia puncak peradaban. Di meja perundingan, yang dihadirkan bukan rudal, melainkan argumentasi. Di dalam dialog, yang hadir bukan ledakan, melainkan komitmen bersama untuk hidup berdampingan.

Kemanusiaan harus menjadi panglima. Jika tidak, sejarah akan mencatat generasi ini sebagai generasi yang gagal menjaga warisan perdamaian dunia. Akhiri perang, sebelum dunia benar-benar kehilangan masa depannya. Wariskan cinta, bukan kepedihan.



Berita Lainnya
  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.