Headline

Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.

Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

11/2/2026 05:00
Antara Empati dan Kepuasan Tinggi
Ahmad Punto Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji. Fakta pertama ialah soal tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto yang melejit ke puncak. Hasil survei dari lembaga riset Indikator Politik Indonesia mencatat tingkat kepuasan pada kinerja Presiden mencapai 79,9%.

Menurut hasil survei itu, sebanyak 13,0% responden mengaku sangat puas dan 66,9% cukup puas terhadap kinerja Presiden Prabowo. Sisanya, 17,1% responden menyatakan kurang puas, 2,2% tidak puas sama sekali, dan 0,8% menjawab tidak tahu atau tidak menjawab. Angka kepuasan 79,9% tersebut lebih tinggi ketimbang tingkat kepuasan publik pada periode pertama SBY dan Jokowi.

Suka tidak suka, hasil tersebut menandakan sebagian besar rakyat (setidaknya diwakili responden survei) merasa nyaman dengan arah kemudi nasional. Kalau kata Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno, tingkat kepuasan tinggi itu indikasi bahwa kebijakan Presiden Prabowo on the right track dan dirasakan langsung oleh masyarakat.

Namun, ada fakta kedua yang justru menyiratkan hal sebaliknya. Nyaris bersamaan dengan perilisan hasil survei itu, muncul satu kebijakan dari kementerian teknis yang dalam implementasinya menimbulkan kepanikan masyarakat. Bahkan amarah. Kebijakan itu ialah penonaktifan belasan juta kepesertaan PBI-JK (penerima bantuan iuran jaminan kesehatan) yang terkesan mendadak dan kurang mitigasi.

Di tengah hamparan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah yang sedang tinggi-tingginya, kisruh kepesertaan BPJS Kesehatan itu bisa jadi hanya dianggap riak kecil. Akan tetapi, jangan sekali-sekali menyepelekan riak, terlebih bila riak itu sudah pada level mengusik rasa keadilan publik. Ia bisa bergulung menjadi gelombang yang lebih besar, yang bahkan punya potensi meruntuhkan tingginya kepercayaan itu.

Ini bukan mau menakut-nakuti atau memanas-manasi, tapi cobalah lihat fakta di lapangan bagaimana kebijakan sembrono penonaktifan 11 juta peserta BPJS Kesehatan itu sudah menyerupai teror bagi sebagian masyarakat. Dikatakan sembrono lantaran kebijakan tersebut dieksekusi secara serta-merta tanpa melalui proses sosialisasi dan tahapan yang terukur. Pun, nyaris tanpa empati.

Tengoklah dan dengarkan suara para pasien gagal ginjal yang harus menjalani cuci darah secara kontinu, atau penderita kanker yang bergantung pada kemoterapi, atau pasien talasemia yang mesti rutin mendapatkan infus darah. Mereka tiba-tiba ditolak rumah sakit karena status kepesertaan mereka ternyata sudah dinyatakan nonaktif. Apakah itu tidak sembrono?

Kita paham bahwa angka 79,9% dalam survei kepuasan publik itu bukanlah sekadar angka statistik. Bagi lembaga kepresidenan, itu aset legitimasi yang luar biasa besar di tengah dinamika transisi politik. Namun, menjadi paradoks yang amat dalam ketika pemerintahan dengan rapor kepuasan yang nyaris sempurna di level makro itu justru mengalami 'gangguan' yang fatal di level mikro.

Kontradiksi itu memicu pertanyaan mendasar mengenai sinkronisasi kebijakan. Bukankah penonaktifan kepesertaan BPJS bagi warga kurang mampu tanpa mekanisme sosialisasi yang matang ialah bentuk inkonsistensi terhadap visi perlindungan sosial yang selama ini terus digaungkan Presiden?

Kita tidak akan membantah bahwa ada niat baik di balik kebijakan kontroversial itu, yaitu mengenai perlunya pemutakhiran data atau validasi kepesertaan penerima agar tepat sasaran. Kita sepakat bahwa akurasi data ialah kunci efisiensi anggaran agar uang negara tidak mengucur secara melenceng ke tangan-tangan yang tidak berhak.

Namun, ketika eksekusi administratif dilakukan secara mendadak tanpa tahapan transisi yang presisi, yang terjadi ialah pemutusan hak dasar secara sepihak. Bagi warga rentan, kehilangan akses kesehatan ialah persoalan hidup dan mati yang tidak bisa ditunda urusan pembaruan dokumen.

Di sinilah letak ujian bagi birokrasi di bawah Presiden. Tingginya tingkat kepuasan publik kepada pemimpin seharusnya tidak membuat kementerian atau lembaga menjadi lengah. Sebaliknya, modal kepercayaan yang besar itu harus dikelola dengan kebijakan yang lebih cermat, lebih sensitif terhadap dampak sosial, dan lebih komunikatif. Jangan sampai muncul kesan ada diskoneksi antara visi besar Presiden dan gerak teknis para pembantunya di lapangan.

Reformasi birokrasi yang sering didengungkan seharusnya bermuara pada birokrasi yang melayani, bukan sekadar birokrasi yang menertibkan administrasi. Kebijakan yang menyentuh hajat hidup orang banyak, terutama layanan kesehatan, menuntut adanya mitigasi risiko yang matang. Paling tidak, sediakan ruang bagi warga untuk melakukan verifikasi ulang sebelum hak mereka dinonaktifkan sepenuhnya.

Karena itu, kita berharap momentum kepercayaan publik yang tinggi tersebut digunakan untuk membenahi koordinasi lintas sektor. Penyelarasan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) dengan status kepesertaan BPJS harus dilakukan dengan prosedur yang memanusiakan warga. Rakyat tidak boleh menjadi korban dari ketidaksiapan komunikasi kebijakan.

Pada akhirnya, keberhasilan sebuah pemerintahan tidak hanya diukur dari angka survei yang menjulang tinggi, tetapi dari sejauh mana kebijakan paling teknis di tingkat paling bawah mampu memberikan empati dan rasa aman bagi warganya. Apakah Presiden mau membiarkan ketidakcermatan administratif menggerus kepercayaan yang telah dibangun dengan kerja keras selama ini? Pasti tidak.



Berita Lainnya
  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.

  • Tuas Rem Trump-Khamenei

    03/2/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di bibir jurang.

  • Etika Mundur di Pasar Modal

    02/2/2026 05:00

    PATUT dicatat sebagai rekor nasional. Bila perlu dengan tinta tebal. Hanya dalam satu hari, lima pejabat otoritas keuangan mengundurkan diri.

  • Keadilan dalam Sepotong Es Gabus

    30/1/2026 05:00

    HUKUM dan keadilan mestinya berada dalam satu tarikan napas. Hukum dibuat untuk mewujudkan keadilan.

  • Kejar Jambret Dikejar Pasal

    29/1/2026 05:00

    DI negeri ini, keadilan tak jarang tersesat di tikungan logika dan persimpangan nalar.

  • Noel agak Laen

    28/1/2026 05:00

    IMANUEL 'Noel' Ebenezer memang bukan sembarang terdakwa korupsi.

  • Mudarat Paling Kecil

    27/1/2026 05:00

    RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.

  • Pengawas Mati, Korupsi Tumbuh

    26/1/2026 05:00

    KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.

  • Rupiah Vs IHSG

    23/1/2026 05:00

    ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.

  • OTT Tepat Waktu

    22/1/2026 05:00

    BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.

  • Pesta Elite, Nestapa Rakyat

    21/1/2026 05:00

    REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk. 

  • Vietnam Melaju Kencang

    20/1/2026 05:00

    KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.