Headline

Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.

Melindungi Konsumen

06/2/2026 05:00
Melindungi Konsumen
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi. Di balik kemudahan transaksi dan inklusi keuangan, gelombang penipuan digital tumbuh agresif dan sistematis. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hingga 14 Januari 2026 mencatat ada 432 ribu lebih laporan penipuan yang masuk ke Indonesia Anti-Scam Center (IASC). Angka itu bukan sekadar statistik, melainkan juga sinyal keras bahwa perlindungan konsumen di ruang digital berada dalam kondisi darurat.

Kerugian masyarakat yang mencapai Rp9,1 triliun memperlihatkan betapa mahalnya ongkos kelengahan negeri ini dalam membangun sistem perlindungan konsumen yang adaptif. Lebih mengkhawatirkan lagi, dari jumlah tersebut, dana yang bisa diselamatkan baru sekitar Rp432 miliar. Artinya, sebagian besar korban harus menelan kerugian tanpa kepastian pemulihan.

Dalam konteks perlindungan konsumen, situasi itu menunjukkan adanya kesenjangan besar antara pertumbuhan inovasi keuangan dan kapasitas perlindungan yang disediakan negara. Lonjakan laporan hingga sekitar 1.000 pengaduan per hari mempertegas bahwa persoalan itu bersifat struktural, bukan insidental.

Penipuan digital telah menjadi industri kejahatan yang memanfaatkan rendahnya literasi keuangan, lemahnya sistem pengamanan lintas platform, serta keterlambatan respons. Fakta bahwa sekitar 80% korban baru melapor lebih dari 12 jam setelah kejadian memperparah keadaan karena dana hasil penipuan dapat berpindah tangan dalam hitungan menit. Dalam ekosistem digital yang serbacepat, keterlambatan berarti kekalahan.

Masalah tidak berhenti di situ. Pola pelarian dana kini semakin kompleks. Dana hasil kejahatan tidak lagi berputar di satu rekening bank, tetapi segera menyebar ke dompet elektronik, aset kripto, emas digital, hingga platform e-commerce. Kompleksitas itu mengungkap satu hal penting, yakni pendekatan perlindungan konsumen yang sektoral dan parsial sudah tidak lagi relevan. Perlindungan konsumen menuntut orkestrasi lintas sektor yang solid, cepat, dan memiliki otoritas jelas.

Apalagi, scam masih marak di Indonesia bukan karena satu sebab tunggal, melainkan akumulasi masalah struktural, kultural, dan sistemis. Ledakan digital yang tidak diimbangi literasi ialah pangkalnya. Akses internet, dompet elektronik, dan platform investasi tumbuh sangat cepat, tetapi literasi keuangan dan digital masyarakat tertinggal.

Banyak konsumen memahami cara memakai teknologi, tetapi tidak memahami risikonya. Celah itulah yang dieksploitasi pelaku scam melalui modus sederhana, tetapi persuasif, seperti iming-iming hadiah, investasi instan, atau tekanan psikologis lewat panggilan palsu.

Selain itu, ekosistem perlindungan konsumen masih lamban. Dalam kejahatan digital, kecepatan ialah segalanya. Tanggung jawab perlindungan yang belum seimbang juga menambah runyam keadaan. Beban perlindungan konsumen masih terlalu berat di pundak regulator. Di sisi lain, sebagian pelaku industri digital cenderung menempatkan keamanan sebagai biaya, bukan investasi.

Standar fraud detection, verifikasi berlapis, dan mekanisme ganti rugi korban belum seragam dan tegas di seluruh sektor. Ditambah lagi, penegakan hukum belum menimbulkan efek jera. Banyak kasus scam berhenti di pemblokiran rekening, bukan pada penindakan pelaku. Selama risiko tertangkap rendah dan keuntungan tinggi, penipuan digital akan terus menjadi 'bisnis' yang menarik. Apalagi, pelaku kerap beroperasi lintas daerah, bahkan lintas negara.

Berikutnya, fragmentasi pengawasan di era multiplatform masih terjadi. Dana hasil scam kini tidak hanya berputar di perbankan, tetapi juga mengalir cepat ke dompet elektronik, kripto, hingga e-commerce. Sementara itu, pengawasan dan kewenangan masih terkotak-kotak sektoral. Padahal, pelaku sudah bergerak lintas sistem, sedangkan negara masih bergerak per sektor.

Singkatnya, scam marak karena kejahatan berlari lebih cepat daripada sistem perlindungan. Selama literasi tertinggal, respons lambat, industri belum sepenuhnya bertanggung jawab, dan penegakan hukum tidak tegas, penipuan digital akan terus menemukan ruang hidup di Indonesia.

Karena itu, sudah saatnya perlindungan konsumen ditempatkan sebagai pilar utama dalam tata kelola ekonomi digital, bukan sekadar pelengkap. Pertama, perlu penguatan kerangka regulasi yang memungkinkan pembekuan dana secara real-time lintas platform tanpa terhambat ego sektoral. Kecepatan harus menjadi prinsip utama karena dalam kejahatan digital, waktu ialah segalanya.

Kedua, tanggung jawab perlindungan konsumen tidak bisa hanya dibebankan kepada regulator. Industri keuangan digital, perbankan, penyedia dompet elektronik, hingga platform e-commerce harus dipaksa mengambil peran aktif. Standar keamanan, sistem deteksi dini, dan mekanisme penggantian kerugian perlu diperjelas dan ditegakkan. Tanpa insentif dan sanksi yang tegas, perlindungan konsumen akan selalu kalah cepat dari pelaku kejahatan.

Ketiga, literasi keuangan harus bergeser dari sekadar edukasi normatif menjadi upaya mitigasi risiko yang konkret. Konsumen perlu dibekali pengetahuan praktis tentang tanda-tanda penipuan, prosedur pelaporan cepat, dan hak-hak mereka ketika menjadi korban. Literasi yang terlambat sama bahayanya dengan sistem yang lamban.

Pada akhirnya, maraknya penipuan digital ialah ujian serius bagi negara dalam melindungi warganya di ruang siber. Jika perlindungan konsumen terus tertinggal dari inovasi dan kejahatan, kepercayaan publik terhadap sistem keuangan digital akan tergerus. Ketika kepercayaan runtuh, fondasi ekonomi digital pun ikut rapuh. Negara tidak boleh absen. Perlindungan konsumen harus dipercepat, diperkuat, dan diprioritaskan, sebelum kerugian masyarakat kian tak terbendung.



Berita Lainnya
  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.

  • Tuas Rem Trump-Khamenei

    03/2/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di bibir jurang.

  • Etika Mundur di Pasar Modal

    02/2/2026 05:00

    PATUT dicatat sebagai rekor nasional. Bila perlu dengan tinta tebal. Hanya dalam satu hari, lima pejabat otoritas keuangan mengundurkan diri.

  • Keadilan dalam Sepotong Es Gabus

    30/1/2026 05:00

    HUKUM dan keadilan mestinya berada dalam satu tarikan napas. Hukum dibuat untuk mewujudkan keadilan.

  • Kejar Jambret Dikejar Pasal

    29/1/2026 05:00

    DI negeri ini, keadilan tak jarang tersesat di tikungan logika dan persimpangan nalar.

  • Noel agak Laen

    28/1/2026 05:00

    IMANUEL 'Noel' Ebenezer memang bukan sembarang terdakwa korupsi.

  • Mudarat Paling Kecil

    27/1/2026 05:00

    RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.

  • Pengawas Mati, Korupsi Tumbuh

    26/1/2026 05:00

    KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.

  • Rupiah Vs IHSG

    23/1/2026 05:00

    ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.

  • OTT Tepat Waktu

    22/1/2026 05:00

    BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.

  • Pesta Elite, Nestapa Rakyat

    21/1/2026 05:00

    REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk. 

  • Vietnam Melaju Kencang

    20/1/2026 05:00

    KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.

  • Suara Profesor 15 Januari

    19/1/2026 05:00

    SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.

  • Setan pun Minder

    15/1/2026 05:00

    INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.

  • Regenerasi Koruptor

    14/1/2026 05:00

    Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.