Headline
Kemantapan jalan nasional sudah mencapai 93,5%
Kumpulan Berita DPR RI
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama. Namun, ada satu batas yang semestinya tak dilanggar, yakni kemanusiaan dan keadilan.
Itulah yang pada hari-hari ini memantik perdebatan. Masyarakat sepak bola, juga publik dunia, terhenyak ketika megabintang Lionel Messi bertandang ke Gedung Putih bersama klubnya, Inter Miami CF, Jumat (6/3). Dengan berpakaian formal, berbaju putih berbalut jas dan dasi hitam, ia menjadi sorotan. Ia kiranya datang pada waktu yang tak tepat dan mempertontonkan reaksi yang tak tepat pula.
Pertemuan pemenang liga olahraga terbesar di Amerika Serikat dengan presiden AS di Gedung Putih memang sudah tradisi tahunan. Penghormatan itu dimulai sejak 1865. Dari situ, kehadiran Messi bersama klubnya sebagai kampiun Major League Soccer (MLS) atau Liga Amerika Serikat setelah mengalahkan Vancouver Whitecaps pada Desember lalu sebenarnya hal yang biasa. Seremoni yang lumrah. Namun, ia menjadi tak biasa, tak lumrah, lantaran dilakukan ketika dunia sedang disuguhi arogansi luar biasa oleh negara adikuasa semacam Amerika. Arogansi yang secara telanjang dipamerkan Presiden Donald Trump dengan menyerang Iran sebagai negara berdaulat pada 28 Februari lalu. Bersama Israel, AS mengeroyok Iran dan memantik perang yang berlangsung hingga sekarang.
Kunjungan itu tak biasa juga lantaran sikap Messi. Ada senyum mengembang di bibirnya. Ada tepuk tangan ketika Trump menggunakan forum itu untuk memuji operasi militernya. Ada sambutan baik dari mereka, termasuk Messi, tatkala Trump membanggakan tentaranya. Dunia paham, tak cuma menyerang Iran, sebelumnya tentara Amerika juga menggasak Venezuela, bahkan menculik Presiden Nicolas Maduro.
Meski dibungkus dengan segudang alasan, agresi ke Venezuela dan Iran oleh 'Paman Sam' jelas penistaan terhadap hukum internasional. Kendati dibalut dengan rupa-rupa argumentasi, ia merusak tatanan dunia. Pertanyaannya, orang macam apa yang justru bertepuk tangan menyikapi kesewenang-wenangan itu? Pertanyaan itulah yang mengarah ke Messi. Ia kebanjiran kecaman dari banyak kalangan. Ia dinilai nirempati. Tak peduli pada kemanusiaan dan keadilan yang sedang dimatikan.
Pada saat bom dan rudal menghantam sebuah negara, tepuk tangan di panggung penguasa bukan lagi sekadar etika protokoler. Bukan sopan santun perjamuan. Barangkali Messi bingung harus bersikap apa. Mungkin juga kurang mengerti apa yang diucapkan Trump karena konon ia tak mahir bahasa Inggris. Namun, apa pun, sikapnya telah berubah menjadi simbol buruk. Ia ibarat bunga dilempar ke arah meriam yang baru saja menyalak. Ia menjadi pewangi di atas perilaku busuk.
Bagi seorang atlet biasa, mungkin itu hanya kekeliruan kecil. Namun, Messi atlet luar biasa. Prestasinya segudang, termasuk delapan kali menjadi pemain terbaik dunia. Julukannya ikonis. Sundul langit. 'La Pulga' alias 'si Kutu', amsalnya. GOAT ('Greatest of All Time'), umpamanya. Saking hebatnya, ia bahkan diyakini makhluk dari planet lain. Punya gen alien. Ada pula yang menyebutnya sebagai 'El Mesias'. 'Sang Mesias'.
Messi ialah ikon global. Penggemarnya teramat banyak. Pengagumnya berjibun. Pengikutnya di media sosial gila-gilaan. Di Instragram lebih dari 500 juta follower. Di Facebook melampaui angka 100 juta. Hanya rivalnya di lapangan hijau, Cristiano Ronaldo, yang melebihinya. Jelas, Messi sosok yang pengaruhnya melampaui stadion terbesar sejagat sekalipun.
Karena itu, wajar, amat wajar, banyak yang menyoal Messi. Sikapnya di Gedung Putih bak seorang konduktor musik yang tetap mengayunkan baton dengan tenang, sementara sekeliling gedung konser terbakar. Musiknya kedengarannya indah, tapi di luar panggung sedang kacau.
Selama ini Messi memang dikenal menjaga jarak dari politik. Ia cenderung memilih diam ketika dunia sedang bermasalah. Ia jarang bersuara ihwal konflik internasional. Ketika banyak bintang semisal Mohamed Salah, Mesut Ozil, Paul Pogba, Zinedine Zidane, Gary Lineker, dan Marcus Rashford lantang berteriak, Messi bahkan tetap mengatupkan bibir atas praktik genosida Israel di Gaza.
Entah apa yang ada di benak Messi tiap kali Israel berulah. Saat Israel unjuk kekejaman di Gaza, ia diam. Kala Israel bersama AS menyerang Iran, ia tepuk tangan. Yang publik tahu, ia pernah berkunjung ke Western Wall atau Tembok Ratapan di Jerusalem. Tempat yang sangat simbolis, sangat suci bagi Israel.
Sebagai pesepak bola, saya lebih suka Messi ketimbang Ronaldo. Keduanya sama-sama superstar. Namun, saya termasuk yang sangat menikmati ketika bintang Argentina itu membersamai si kulit bundar. Namun, untuk urusan kepedulian keadilan, kiranya Messi kurang. Tepuk tangannya di depan Trump ironi terbesar dia.
Ironi itu juga ada pada lembaga tertinggi sepak bola dunia, FIFA. Ketika Rusia menginvasi Ukraina pada 2022, mereka bersama UEFA (Badan Sepak Bola Eropa) gerak cepat mem-blacklist timnas dan klub Rusia. Dalih mereka demi solidaritas terhadap korban perang dan menjaga integritas olahraga. Namun, ketika Israel menggempur Gaza, sanksi semacam itu tak berlaku. Pun, ketika AS dan Israel menyerang Iran.
Sepak bola tiba-tiba menjadi sangat bermoral ketika pelakunya Rusia, tetapi menjadi amat apolitis takkala menyangkut sahabat Barat. Seperti peluit yang berbunyi untuk satu tim. Dalam situasi seperti itu, tepuk tangan Messi di Gedung Putih terasa kian janggal. Ia seperti pemain yang ikut berdiri memberi aplaus kepada wasit yang sedang membunyikan peluit berat sebelah.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.
POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita
SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan
PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik.
"SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."
SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved