Headline

Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.

Tahanan Istimewa

26/3/2026 05:00
Tahanan Istimewa
Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

YAQUT Cholil Qoumas memang telah kembali dijebloskan ke balik jeruji besi rumah tahanan KPK. Akan tetapi, kekecewaan, kejengkelan, dan kemarahan publik ihwal perkara itu kiranya sulit terobati.

KPK menorehkan sejarah. Untuk pertama kalinya sejak dibentuk pada 2003, mereka membolehkan tersangka menjalani tahanan rumah. Adalah Yaqut, mantan menteri agama yang ketiban hadiah. Sejak Kamis (19/3) atau hanya seminggu setelah resmi ditahan sebagai tersangka kasus korupsi pembagian kuota haji, ia diperkenankan pulang.

Memang bukan berarti melenggang. Yaqut tetap tersangka, tahanan, tapi cukup di rumah. Dengan status itu, pasti lebih asyik. Makan minum bebas, tidur di kamar sejuk berkasur empuk, juga leluasa beraktivitas. Apalagi pas Lebaran.

Saking bersejarahnya, Masyarakat Antikorupsi Indonesia (MAKI) perlu memberikan penghargaan kepada KPK. Wujudnya banner bertuliskan 'Piagam Penghargaan Monumen Orang Real Istimewa di Anugerahkan (Dianugerahkan) kepada KPK atas Rekor Pengalihan Tahanan Rumah Orang Istimewa'. Saking ganjilnya kebijakan itu, KPK kebanjiran kritik dan kecaman. Kata-kata kasar bertebaran di media sosial. Rakyat marah, geram.

KPK memang kebangetan. Pengalihan status tahanan rumah untuk Yaqut terasa seperti tinta hitam di atas kertas buram. Noda tambahan di atas noda-noda yang belakangan menghiasi wajah KPK. Sayang betul ketika kepercayaan publik sedikit membaik setelah KPK gencar menangkapi para pejabat daerah yang bermasalah, mereka pula yang mencabiknya.

KPK yang dibangun dengan reputasi tanpa kompromi kini justru melunak di titik paling sensitif, yakni perlakuan terhadap tersangka korupsi. Perlakuan yang sarat dengan kebaikan hati. Ia diam-diam. Rupanya tak cuma OTT yang dilakukan secara senyap, mengubah status tahanan tersangka pun demikian.

Ia baru ketahuan, terbongkar, setelah istri tersangka KPK, Immanuel Ebenezer atau Noel, Silvia Rinita Hareva menyebut Yaqut tak berada di rutan KPK. Ia mengatakan itu, Sabtu (21/3), saat mengunjungi sang suami pada Hari Raya Idul Fitri, atau dua hari setelah penahanan Yaqut dialihkan.

Terima kasih Mbak Silvia. Kalau Anda tidak mengungkap, keganjilan itu akan tersimpan rapat. Kalau Anda tak berterus terang, kejanggalan itu tak bakal viral dan barangkali Yaqut tetap menikmati keistimewaan.

Seperti tabiat umum pejabat, setelah viral, KPK sibuk luar biasa. Sibuk klarifikasi, sibuk melontarkan argumentasi. Kata juru bicara KPK, pengalihan status tahanan Yaqut bersifat sementara dan dilakukan setelah mempertimbangkan permohonan dari pihak keluarga.

Pertanyaannya, kenapa begitu gampang permohonan dikabulkan? Begitu istimewakah tersangka? Atau karena di situ ada relasi kuasa, misalnya karena dia eks Panglima Tertinggi Banser atau lantaran kakaknya ialah Ketua Umum PBNU, ormas Islam terbesar di dunia? Pasti KPK membantah.

Mereka berdalih, pengalihan status tahanan Yaqut ada prosedur dan ketentuannya. Itu betul. KUHAP memang mengatur. Namun, apa gunanya kalau hukum semata didasarkan pada ketentuan dan prosedur. Hukum bukan hanya soal legalitas, melainkan juga perkara kepantasan dan keadilan publik.

Guru besar hukum Satjipto Rahardjo pernah menegaskan hukum tidak boleh kaku pada teks, tapi harus menghadirkan keadilan yang substantif. Ahli hukum Jerman Gustav Radburch pernah menyampaikan, ketika hukum positif bertentangan secara ekstrem dengan keadilan, keadilan yang harus diutamakan. Apakah pengalihan tahanan Yaqut menghadirkan keadilan? Gelombang kritik dan kecaman publik bisa jadi jawaban.

Ada lagi argumentasi KPK, yakni pengalihan tahanan Yaqut bagian dari strategi penyidikan. Strategi apa? Agar mau buka-bukaan? Supaya bersedia menjadi justice collaborator? Ah, enggak sampai akal saya ke sana.

Belum cukup, Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK Asep Guntur Rahayu belakangan menyebut pengalihan status tahanan Yaqut salah satunya lantaran alasan kesehatan. Ia sebut, yang bersangkutan menderita GERD akut dan asma. Penyakit itu diketahui dari hasil asesmen kesehatan yang keluar Selasa (24/3). Ya, dua hari lalu.

Konsistensi dalam argumen ialah fondasi kredibilitas. Ketika argumen berubah tanpa alasan kuat, terbuka kecurigaan bahwa ada motif tersembunyi yang tak ingin diungkap. Argumen yang berubah-ubah tak sekadar menjadi tanda kebingungan, tapi juga pertanda ada yang disembunyikan.

Apakah KPK bingung, gentar? Bisa jadi. Apakah ada yang ingin ditutupi? Bukan tak mungkin. Ada tekanan? Soal ini telah menjadi persoalan bagi independensi KPK.

Ada permainan? Mereka bukan malaikat. Ada penyidik KPK justru memainkan perkara, tak sedikit pegawai rutan yang memeras tahanan, bahkan mantan Ketua KPK Firli Bahuri jadi tersangka pemerasan.

Memberikan status tahanan rumah untuk kali pertama kepada tersangka oleh KPK bukan sekadar kebijakan administratif. Ia preseden buruk pemberantasan korupsi. Ia ibarat pintu yang sulit untuk ditutup kembali. Hari ini satu orang, besok bisa lebih banyak lagi. Ia menghadirkan dilema luar biasa bagi KPK.

Mengalihkan status tahanan Yaqut ialah persoalan serius, sangat serius, apalagi karena pimpinan KPK terkesan tak menganggapnya serius. Sejak kasus itu terbongkar hingga tersangka dikembalikan ke rutan, mereka hening. Mereka diam saat kepercayaan lembaga dipertaruhkan. Apakah keputusan sebesar itu cukup dijelaskan juru bicara? Ataukah mereka menganggap tak perlu ada yang dijelaskan?

Pengalihan status tahanan Yaqut ialah persoalan serius, sangat serius, terlebih lantaran Dewan Pengawas juga anteng-anteng saja. Bagi publik, itu jauh dari biasa. Bagi mereka, itu seolah masalah biasa saja. Jika begitu, apa yang bisa kita harap?

 



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.