Headline

Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.

Membela Gaza

11/4/2025 05:00
Membela Gaza
Ade Alawi Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

RAKYAT Indonesia kembali harus menghela napas panjang melihat kebijakan pemerintahan Prabowo Subianto yang membuat rakyat terheran-heran, bertanya-tanya, bahkan geleng-geleng kepala.

Kebijakan yang menyulut kontroversi bukan hanya kebijakan dalam negeri, melainkan juga luar negeri. Kontroversi disebabkan tidak memberikan ruang kepada masyarakat untuk mendiskusikannya, menimbang plus dan minus, serta menerima kebijakan itu dengan akal sehat.

Mendiskusikan rencana kebijakan pemerintah sangat penting dalam membangun partisipasi publik yang bermakna (meaningful participation). Partisipasi publik tak hanya memberikan masukan-masukan, tetapi juga mendukung kebijakan jika telah diputuskan pemerintah.

Partisipasi publik memang terkesan bertele-tele, tetapi itulah konsekuensi dari negara demokratis. Keputusan yang dibuat pemerintah tidak bersifat top down (dari atas ke bawah), tetapi bottom up (dari bawah ke atas).

Walakin, pemerintah juga berhak membuat keputusan yang tiba-tiba apabila keputusan yang dibuat itu bersifat mendesak untuk mengatasi kedaruratan sehingga harus diambil keputusan yang cepat. Hal itu dapat dilakukan tanpa menunggu proses legislasi yang normal di DPR, seperti menerbitkan peraturan pemerintah pengganti undang-undang (perppu).

Perppu memiliki kedudukan yang sama dengan undang-undang dan memiliki kekuatan hukum yang mengikat. Perppu yang dikeluarkan presiden harus mendapat persetujuan dari DPR. Pasal 22 ayat (1) UUD 1945 menyatakan 'Dalam hal ihwal kegentingan yang memaksa, Presiden berhak menetapkan peraturan pemerintah sebagai pengganti undang-undang'.

Namun, tak sedikit kebijakan pemerintahan Prabowo seperti 'tak ada angin dan tak ada hujan'. Artinya, kebijakan itu di luar perkiraan masyarakat mengingat kemungkinan akan lebih banyak mudarat ketimbang mengambil manfaatnya.

Kebijakan yang membuat masyarakat kaget dan bingung ialah evakuasi warga Gaza, Palestina, yang menjadi korban konflik Hamas dan Israel ke Indonesia. Mereka ialah yang luka-luka, trauma, dan anak-anak yatim piatu.

"Kami siap akan kirim pesawat-pesawat untuk angkut mereka. Kami perkirakan jumlahnya 1.000 untuk gelombang pertama," ujar Presiden Prabowo yang disiarkan kanal Youtube Sekretariat Presiden, Rabu (9/4) dini hari WIB.

Mantan Danjen Kopassus menyampaikan hal itu menjelang kunjungan luar negeri ke lima negara di Timur Tengah, yakni Uni Emirat Arab (UEA), Turki, Mesir, Qatar, dan Yordania.

Rencana evakuasi itu, kata Prabowo, juga diperuntukkan menindaklanjuti permintaan komunitas internasional yang menilai Indonesia perlu berperan lebih aktif lagi mengingat Indonesia merupakan negara nonblok dan negara dengan populasi muslim terbesar dunia.

Namun, pihaknya terlebih dahulu harus mendapatkan persetujuan berbagai pihak, terutama lima negara yang dia kunjungi. Selain itu, warga Gaza korban perang yang dirawat di Indonesia bersifat sementara. Mereka, katanya, akan dikembalikan jika pulih dan kondisi di kota terbesar di Palestina itu sudah kondusif.

Tak salah jika rakyat mengaitkan rencana evakuasi warga Gaza itu dengan rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang akan mengambil alih Gaza dan memindahkan warga Palestina yang tinggal di Gaza untuk hengkang ke sejumlah negara. Pernyataan itu diungkapkan Trump dalam sebuah konferensi pers bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Selasa (4/2).

Trump sempat merencanakan memindahkan 2 juta warga Gaza ke beberapa negara, seperti Mesir dan Yordania, termasuk Indonesia. Presiden ke-47 AS itu menyatakan pemindahan tersebut akan membuka jalan bagi Gaza untuk menjadi sebuah zona kebebasan.

Dia menegaskan Gaza merupakan lokasi strategis, tetapi selama bertahun-tahun hanya diidentikkan dengan kekerasan, kematian, dan kekuasaan Hamas. Trump ingin mengubah Gaza menjadi 'Riviera of the Middle East' atau kawasan pesisir yang indah di Timur Tengah.

Rencana Presiden Prabowo yang akan mengevakuasi warga Gaza bertolak belakang dengan pernyataan Kementerian Luar Negeri pada 27 Maret lalu yang membantah klaim Israel yang akan memindahkan 100 warga Gaza ke Indonesia sebagai korban percontohan.

Juru bicara Kemenlu Rolliansyah Soemirat mengatakan pemerintah hanya berfokus pada terwujudnya gencatan senjata tahap kedua antara Hamas dan Israel. Selain itu, katanya, Indonesia mendorong masuknya bantuan kemanusiaan dan memastikan dimulainya rekonstruksi di Gaza.

Berbaliknya sikap pemerintah Indonesia ditengarai sejumlah pihak terkait dengan keputusan Presiden Donald Trump yang akan menaikkan tarif resiprokal ke sejumlah negara, termasuk Indonesia sebesar Rp32%.

Namun, jika benar sinyalemen tersebut, Prabowo sudah mengambil langkah gegabah mengikuti skema Trump berupa pengusiran warga Gaza ke luar negeri dan 'menukarnya' dengan tarif resiprokal yang lebih rendah.

Dengan demikian, alih-alih pemerintah melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial, sesuai dengan alinea ke-4 Pembukaan UUD 1945, pemerintah Indonesia malah menginjak-injak kedaulatan negara Palestina. Jika hal itu terjadi, Indonesia mengangkangi komitmen untuk tetap mendukung dan mengakui kemerdekaan Palestina sejak 1947.

Mengevakuasi 1.000 warga Gaza korban perang tentu tidak mudah. Dibutuhkan biaya besar, sumber daya manusia yang merawatnya, peralatan, logistik, tempat tinggal, dan sebagainya. Lagi pula jika mereka sudah pulih, kondisinya bukan tidak mungkin akan sulit kembali masuk ke Gaza karena tekanan Israel dan AS.

Tanpa mengurangi upaya penyelesaian konflik Israel-Palestina, tragedi kemanusiaan, pemulihan korban, dan rekonstruksi di Gaza, Presiden Prabowo hendaknya fokus untuk menuntaskan permasalahan di dalam negeri yang berjibun, seperti kemiskinan, pengangguran, pendidikan, kesehatan, dan perumahan.

Proklamator Bung Karno mengatakan, selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diberikan kepada orang-orang Palestina, selama itu juga bangsa Indonesia berdiri menentang penjajahan Israel. Tabik!



Berita Lainnya
  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."