Headline

Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.

Prabowo Ogah Pisah

13/2/2025 05:00
Prabowo Ogah Pisah
Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

SIAPA yang ingin memisahkan Prabowo dengan Jokowi? Pertanyaan itu mengemuka hari-hari ini. Pertanyaan itu dipicu pernyataan Presiden Prabowo Subianto bahwa ada yang mau memisahkan dirinya dengan sang mantan presiden.

Dalam sambutannya pada pembukaan Kongres XVIII Muslimat Nahdlatul Ulama di Surabaya, Jawa Timur, Senin (10/2), Prabowo menumpahkan isi hatinya. Curhat, begitu anak muda sekarang bilang. Banyak yang disampaikan, termasuk hubungannya dengan Jokowi. Dia kembali berterus terang, tak malu untuk mengaku berguru soal politik kepada Jokowi.

Prabowo juga menegaskan posisinya terhadap Jokowi. Dia membela Jokowi. Dia menyebut terkadang orang yang sudah tidak berkuasa lalu dikuyo-kuyo, dijelek-jelekkan. Dia minta semua dihormati. Belakangan, Pak Jokowi menjadi sasaran kemarahan sebagian rakyat. Seruan 'adili Jokowi' menggema di sudut-sudut negeri. Lewat grafiti dan spanduk, melalui demonstrasi, via petisi dan tagar di media sosial.

Belum cukup, Prabowo menyoal lagi para pihak yang hendak memisahkan dirinya dengan Jokowi. “Ada yang sekarang mau memisahkan saya dengan Pak Jokowi. Lucu juga, untuk bahan ketawa boleh, tapi kita jangan ikut pecah belah,'' begitu ucapnya.

Baginya, upaya tersebut tidak patut. Dia menyebut yang melakukan ialah mereka yang tidak suka Indonesia. Tidak dijelaskan, apakah mereka orang Indonesia, dari mancanegara, atau dua-duanya. Dia meminta semua itu tidak usah dihiraukan.

Begitulah, setidaknya di panggung depan, Prabowo kiranya sudah sehati dengan Jokowi. Dia ogah berpisah, menolak dipisahkan. Kalau dianalogikan sebagai pasangan, Prabowo sudah bucin. Selaras dengan refrain lagu Jangan Pisahkan karya Dadang S Manaf. 'Jangan pisahkan... Aku dan dia... Tuhan tolonglah... Ku cinta dia... Biarkan kami tetap bersama... Di dalam suka dan duka...'.

Kembali ke pertanyaan awal, memangnya ada yang ingin memisahkan Prabowo dengan Jokowi? Jawabnya: ada. Banyak. Nawaitu dan motivasi agar kedua tokoh segera bersimpang jalan, supaya Pak Prabowo segera meninggalkan Pak Jokowi, juga beragam.

Di antara mereka ialah yang sakit hati terhadap Jokowi. Mereka tak mau Prabowo terus menyatu dengan Jokowi. Tanpa Prabowo yang kini mengendalikan segala sumber daya dan aparat negara, Jokowi diyakini akan kehilangan kekuatan. Kelompok itu bisa datang dari baik partai politik maupun perorangan. Utamanya mereka yang merasa dikhianati Jokowi.

Kelompok lainnya ialah yang kecewa karena kalah dalam kompetisi. Publik mengerti, di Pilpres 2024, Jokowi tak netral. Saat masih menjabat presiden, ketika menjadi pengampu kekuasaan yang luar biasa, dia terang-terangan mendukung Prabowo yang berpasangan dengan putra mbarepnya, Gibran Rakabuming Raka.

Siapa lagi yang ingin Prabowo berpisah dengan Jokowi? Mereka yang mencintai Prabowo, yang berharap banyak kepada Prabowo sekalipun di pilpres lalu tak memilih Prabowo. Mereka ingin Prabowo menjadi presiden seutuhnya. Bukan presiden setengah utuh.

Mereka termasuk yang selama ini oposan terhadap Jokowi, bukan semata sebagai pribadi, melainkan lebih karena posisi Jokowi sebagai pemimpin bangsa. Pemimpin yang dinilai sudah menyebabkan banyak kerusakan dan meninggalkan beragam permasalahan. Pemimpin yang dianggap telah membuat demokrasi sakit, juga membangun dinasti politik. Bahkan, pemimpin yang dituding terlibat korupsi.

Salahkah mereka menginginkan Prabowo berpisah dengan Jokowi? Boleh-boleh saja. Terlebih jika keinginan itu dilatari kehendak agar Prabowo menjadi presiden yang sesungguhnya. Bukan presiden yang berada di bawah bayang-bayang Jokowi karena tersandera oleh utang budi. Tak baik jika presiden terpengaruh oleh kekuatan lain. Tak bagus jika di sebuah negara, apalagi sebesar Indonesia, ada matahari ganda.

Presiden menghormati mantan presiden ialah sikap yang terpuji. Di antara mereka tidak boleh ada dendam, memutus hubungan, menarik garis pemisah. Ihwal itu, Prabowo patut diapresiasi. Akan tetapi, merawat silaturahim pribadi tak berarti menyatu sebagai pengendali kekuasaan.

Pak Prabowo, mereka yang ingin Bapak berpisah dengan Pak Jokowi bukan tak cinta Indonesia. Mereka justru sangat cinta, kelewat sayang, sehingga tak rela jika negeri ini salah pengelolaan. Mereka bukan hendak memecah belah, melakukan politik divide et impera, seperti halnya penjajah. Mereka tidak sedang mengadu domba. Mereka, seperti salah satu cicitan di kanal X, justru ingin Bapak tidak menjadi domba, tapi secepatnya unjuk diri sebagai singa.

Pak Presiden, tidak ada yang meng-kuyo-kuyo Jokowi. Meng-kuyo-kuyo, menzalimi, hanya bisa dilakukan terhadap rakyat jelata, orang tak berpunya. Bukan kepada yang punya kuasa, yang anaknya menjabat wakil presiden, yang menantunya menjadi gubernur.

Kalau sebagian rakyat menuntut Pak Jokowi diadili, anggap saja itu bagian dari kebebasan ekspresi. Bukankah dulu Bung Karno dan Pak Harto juga mendapat perlakuan serupa setelah lengser? Pak Jokowi belum tentu bersalah, belum pasti korupsi, tapi mantan presiden sekalipun tak selalu benar. Bahkan, di Korea Selatan, lima dari tujuh eks orang nomor satu menjadi pesakitan.

Biarkan sejarah yang menentukan, Pak Prabowo. Satu lagi, maaf, kiranya Bapak tak perlu lagi sering-sering curhat karena yang terus ditunggu rakyat ialah gebrakan nyata.



Berita Lainnya
  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.

  • Tuas Rem Trump-Khamenei

    03/2/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di bibir jurang.

  • Etika Mundur di Pasar Modal

    02/2/2026 05:00

    PATUT dicatat sebagai rekor nasional. Bila perlu dengan tinta tebal. Hanya dalam satu hari, lima pejabat otoritas keuangan mengundurkan diri.

  • Keadilan dalam Sepotong Es Gabus

    30/1/2026 05:00

    HUKUM dan keadilan mestinya berada dalam satu tarikan napas. Hukum dibuat untuk mewujudkan keadilan.

  • Kejar Jambret Dikejar Pasal

    29/1/2026 05:00

    DI negeri ini, keadilan tak jarang tersesat di tikungan logika dan persimpangan nalar.

  • Noel agak Laen

    28/1/2026 05:00

    IMANUEL 'Noel' Ebenezer memang bukan sembarang terdakwa korupsi.

  • Mudarat Paling Kecil

    27/1/2026 05:00

    RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.

  • Pengawas Mati, Korupsi Tumbuh

    26/1/2026 05:00

    KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.

  • Rupiah Vs IHSG

    23/1/2026 05:00

    ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.

  • OTT Tepat Waktu

    22/1/2026 05:00

    BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.

  • Pesta Elite, Nestapa Rakyat

    21/1/2026 05:00

    REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk.