Headline
Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.
Kumpulan Berita DPR RI
SIAPA yang ingin memisahkan Prabowo dengan Jokowi? Pertanyaan itu mengemuka hari-hari ini. Pertanyaan itu dipicu pernyataan Presiden Prabowo Subianto bahwa ada yang mau memisahkan dirinya dengan sang mantan presiden.
Dalam sambutannya pada pembukaan Kongres XVIII Muslimat Nahdlatul Ulama di Surabaya, Jawa Timur, Senin (10/2), Prabowo menumpahkan isi hatinya. Curhat, begitu anak muda sekarang bilang. Banyak yang disampaikan, termasuk hubungannya dengan Jokowi. Dia kembali berterus terang, tak malu untuk mengaku berguru soal politik kepada Jokowi.
Prabowo juga menegaskan posisinya terhadap Jokowi. Dia membela Jokowi. Dia menyebut terkadang orang yang sudah tidak berkuasa lalu dikuyo-kuyo, dijelek-jelekkan. Dia minta semua dihormati. Belakangan, Pak Jokowi menjadi sasaran kemarahan sebagian rakyat. Seruan 'adili Jokowi' menggema di sudut-sudut negeri. Lewat grafiti dan spanduk, melalui demonstrasi, via petisi dan tagar di media sosial.
Belum cukup, Prabowo menyoal lagi para pihak yang hendak memisahkan dirinya dengan Jokowi. “Ada yang sekarang mau memisahkan saya dengan Pak Jokowi. Lucu juga, untuk bahan ketawa boleh, tapi kita jangan ikut pecah belah,'' begitu ucapnya.
Baginya, upaya tersebut tidak patut. Dia menyebut yang melakukan ialah mereka yang tidak suka Indonesia. Tidak dijelaskan, apakah mereka orang Indonesia, dari mancanegara, atau dua-duanya. Dia meminta semua itu tidak usah dihiraukan.
Begitulah, setidaknya di panggung depan, Prabowo kiranya sudah sehati dengan Jokowi. Dia ogah berpisah, menolak dipisahkan. Kalau dianalogikan sebagai pasangan, Prabowo sudah bucin. Selaras dengan refrain lagu Jangan Pisahkan karya Dadang S Manaf. 'Jangan pisahkan... Aku dan dia... Tuhan tolonglah... Ku cinta dia... Biarkan kami tetap bersama... Di dalam suka dan duka...'.
Kembali ke pertanyaan awal, memangnya ada yang ingin memisahkan Prabowo dengan Jokowi? Jawabnya: ada. Banyak. Nawaitu dan motivasi agar kedua tokoh segera bersimpang jalan, supaya Pak Prabowo segera meninggalkan Pak Jokowi, juga beragam.
Di antara mereka ialah yang sakit hati terhadap Jokowi. Mereka tak mau Prabowo terus menyatu dengan Jokowi. Tanpa Prabowo yang kini mengendalikan segala sumber daya dan aparat negara, Jokowi diyakini akan kehilangan kekuatan. Kelompok itu bisa datang dari baik partai politik maupun perorangan. Utamanya mereka yang merasa dikhianati Jokowi.
Kelompok lainnya ialah yang kecewa karena kalah dalam kompetisi. Publik mengerti, di Pilpres 2024, Jokowi tak netral. Saat masih menjabat presiden, ketika menjadi pengampu kekuasaan yang luar biasa, dia terang-terangan mendukung Prabowo yang berpasangan dengan putra mbarepnya, Gibran Rakabuming Raka.
Siapa lagi yang ingin Prabowo berpisah dengan Jokowi? Mereka yang mencintai Prabowo, yang berharap banyak kepada Prabowo sekalipun di pilpres lalu tak memilih Prabowo. Mereka ingin Prabowo menjadi presiden seutuhnya. Bukan presiden setengah utuh.
Mereka termasuk yang selama ini oposan terhadap Jokowi, bukan semata sebagai pribadi, melainkan lebih karena posisi Jokowi sebagai pemimpin bangsa. Pemimpin yang dinilai sudah menyebabkan banyak kerusakan dan meninggalkan beragam permasalahan. Pemimpin yang dianggap telah membuat demokrasi sakit, juga membangun dinasti politik. Bahkan, pemimpin yang dituding terlibat korupsi.
Salahkah mereka menginginkan Prabowo berpisah dengan Jokowi? Boleh-boleh saja. Terlebih jika keinginan itu dilatari kehendak agar Prabowo menjadi presiden yang sesungguhnya. Bukan presiden yang berada di bawah bayang-bayang Jokowi karena tersandera oleh utang budi. Tak baik jika presiden terpengaruh oleh kekuatan lain. Tak bagus jika di sebuah negara, apalagi sebesar Indonesia, ada matahari ganda.
Presiden menghormati mantan presiden ialah sikap yang terpuji. Di antara mereka tidak boleh ada dendam, memutus hubungan, menarik garis pemisah. Ihwal itu, Prabowo patut diapresiasi. Akan tetapi, merawat silaturahim pribadi tak berarti menyatu sebagai pengendali kekuasaan.
Pak Prabowo, mereka yang ingin Bapak berpisah dengan Pak Jokowi bukan tak cinta Indonesia. Mereka justru sangat cinta, kelewat sayang, sehingga tak rela jika negeri ini salah pengelolaan. Mereka bukan hendak memecah belah, melakukan politik divide et impera, seperti halnya penjajah. Mereka tidak sedang mengadu domba. Mereka, seperti salah satu cicitan di kanal X, justru ingin Bapak tidak menjadi domba, tapi secepatnya unjuk diri sebagai singa.
Pak Presiden, tidak ada yang meng-kuyo-kuyo Jokowi. Meng-kuyo-kuyo, menzalimi, hanya bisa dilakukan terhadap rakyat jelata, orang tak berpunya. Bukan kepada yang punya kuasa, yang anaknya menjabat wakil presiden, yang menantunya menjadi gubernur.
Kalau sebagian rakyat menuntut Pak Jokowi diadili, anggap saja itu bagian dari kebebasan ekspresi. Bukankah dulu Bung Karno dan Pak Harto juga mendapat perlakuan serupa setelah lengser? Pak Jokowi belum tentu bersalah, belum pasti korupsi, tapi mantan presiden sekalipun tak selalu benar. Bahkan, di Korea Selatan, lima dari tujuh eks orang nomor satu menjadi pesakitan.
Biarkan sejarah yang menentukan, Pak Prabowo. Satu lagi, maaf, kiranya Bapak tak perlu lagi sering-sering curhat karena yang terus ditunggu rakyat ialah gebrakan nyata.
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.
POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita
SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan
PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik.
"SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved