Headline

Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa. 

Patriot Sejati

15/10/2024 05:00
Patriot Sejati
Ade Alawi Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

PELANTIKAN presiden dan wakil presiden terpilih Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka sudah di depan mata. Sejumlah persiapan dilakukan.

Pelantikan tersebut dijadwalkan pada pukul 10.00 WIB Minggu, 20 Oktober mendatang di Gedung Nusantara, kompleks parlemen, Senayan, Jakarta.

Persiapan teknis pun dilakukan pimpinan MPR RI sebagai shahibul hajat.

Baca juga : Jadi Mantan Presiden, Enak?

Sebanyak 21 kepala negara dan kepala pemerintahan akan menghadiri pelantikan atau pengucapan sumpah/janji presiden dan wakil presiden 2024-2029.

Sebelumnya Jokowi, Prabowo, dan Gibran bertemu di rumah Jokowi di Surakarta, Jawa Tengah, pada Minggu (13/10). Pertemuan itu membahas persiapan momen yang paling bersejarah bagi bangsa Indonesia itu.

Tugas yang akan diemban Prabowo-Gibran bak jalan terjal nan berliku. Segudang permasalahan di dalam negeri harus diatasi. Belum lagi permasalahan global, geopolitik yang terus memanas, bahkan di ambang perang besar.

Baca juga : Sean Gelael Optimistis Raih Podium di Sao Paolo

Betapa pun berat tugas yang dijalani Prabowo-Gibran dalam memimpin 282 juta jiwa rakyat Indonesia, keduanya memiliki modal politik yang sangat besar, 58,59% hasil Pemilu 2024. Modal politik itu memberikan legitimasi bagi pasangan itu untuk mengambil berbagai kebijakan yang bermanfaat bagi bangsa dan bernegara.

Walakin, modal politik itu akan sia-sia jika pemerintahan berjalan sendiri tanpa memperhatikan aspirasi rakyat. Rakyat hanya dibutuhkan suaranya dalam pemilu. Itu pun dilakukan dengan berbagai cara, baik secara legal ataupun ilegal.

Jurus politik ilegal itu seperti praktik politik gentong babi (pork barrel politics), money politics, intimidasi, dan mobilisasi aparatur sipil negara (ASN) dan aparatur negara lainnya.

Baca juga : SDN 085 Ciumbuleuit dan SDN 043 Cimuncang Raih Podium Teratas

Dua periode kepemimpinan Jokowi harus menjadi pembelajaran bagi pasangan Prabowo-Gibran. Dalam dua periode itu sebagian besar janji politik Jokowi tidak tertunaikan, hanya omon-omon, bahkan gombal politik, seperti revolusi mental, penguatan Komisi Pemberantasan Korupsi, pertumbuhan ekonomi 7%, dan penuntasan kasus pelanggaran HAM berat.

Belum lagi kerusakan pada demokrasi. Politik dinasti keluarga Jokowi menjadi alarm betapa bahaya dari politik kekerabatan itu. Politik dinasti bisa tidak membahayakan jika bertumpu pada meritokrasi, integritas, kapabilitas, dan akseptabilitas.

Celakanya, politik dinasti seperti yang dipertontonkan keluarga Jokowi mengabaikan etika dan hukum, seperti dugaan rekayasa hukum di Mahkamah Konstitusi dan Mahkamah Agung.

Baca juga : Semangat Juang Jadi Modal bagi Nizar Raih Podium Bali Trail Run Ultra 2024

Paradigma rezim keberlanjutan Prabowo dari Jokowi sangat berbahaya jika menggunakan kacamata kuda. Pemerintahan Prabowo-Gibran harus berani mengoreksi kebijakan era Jokowi yang melenceng dari semangat gerakan reformasi 1998 dan UUD 1945.

Tujuan berdirinya negara sesuai dengan alinea keempat Pembukaan UUD 1945 ialah melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Tentu kita tidak menutup mata dengan keberhasilan pemerintahan Jokowi. Salah satunya ialah pembangunan infrastruktur meskipun hal itu berkonsekuensi menggunungnya utang luar negeri.

Konektivitas antarwilayah baik di Indonesia bagian barat, tengah, maupun timur mempermudah mobilitas manusia, arus barang, dan jasa sehingga memperkuatnya cita-cita Indonesia-sentris. Alhasil, gencarnya pembangunan infrastruktur era Jokowi mendongkrak daya saing Indonesia pada world competitiveness dari angka 34 ke 27.

Jokowi juga mengambil langkah besar untuk meningkatkan produktivitas dan nilai tambah dengan hilirisasi. Indonesia tidak lagi mengekspor bahan mentah, tetapi mengolahnya terlebih dahulu di dalam negeri.

Namun, di sisi lain, ada lorong gelap ekspor 5 juta ton bijih nikel RI

ke 'Negeri Tirai Bambu' pada 2021-2023 yang tak tersentuh oleh aparat penegak hukum. Hilirisasi juga masih terkesan mengabaikan kerusakan ekologis dan sosial.

Visi pemerintahan Prabowo-Gibran, yakni Bersama Indonesia maju menuju Indonesia emas 2045 dengan delapan misi yang disebut Astacita sangat bagus bagi masa depan Indonesia.

Kunci keberhasilan visi dan misi itu kembali terletak pada sikap patriotik Jenderal (Purn) Prabowo Subianto dalam memimpin bangsa dan negara. Dia mengaku seorang patriot dan ingin mati sebagai patriot.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) patriot adalah pecinta (pembela) tanah air. Artinya, tak ada kepentingan pribadi, keluarga, dan golongan dalam diri mantan Danjen Kopassus itu dalam memimpin Republik ini.

Namun, tak hanya Prabowo yang berhak menjadi patriot sejati. Rakyat Indonesia berhak menjadi patriot. Menurut Julian Barnes, penulis asal Inggris, patriotisme terbesar ialah memberi tahu negara Anda ketika negara itu berperilaku tidak terhormat, bodoh, dan kejam. Selamat bertugas Prabowo-Gibran. Tabik!



Berita Lainnya
  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.

  • Tuas Rem Trump-Khamenei

    03/2/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di bibir jurang.

  • Etika Mundur di Pasar Modal

    02/2/2026 05:00

    PATUT dicatat sebagai rekor nasional. Bila perlu dengan tinta tebal. Hanya dalam satu hari, lima pejabat otoritas keuangan mengundurkan diri.

  • Keadilan dalam Sepotong Es Gabus

    30/1/2026 05:00

    HUKUM dan keadilan mestinya berada dalam satu tarikan napas. Hukum dibuat untuk mewujudkan keadilan.

  • Kejar Jambret Dikejar Pasal

    29/1/2026 05:00

    DI negeri ini, keadilan tak jarang tersesat di tikungan logika dan persimpangan nalar.

  • Noel agak Laen

    28/1/2026 05:00

    IMANUEL 'Noel' Ebenezer memang bukan sembarang terdakwa korupsi.

  • Mudarat Paling Kecil

    27/1/2026 05:00

    RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.

  • Pengawas Mati, Korupsi Tumbuh

    26/1/2026 05:00

    KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.

  • Rupiah Vs IHSG

    23/1/2026 05:00

    ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.

  • OTT Tepat Waktu

    22/1/2026 05:00

    BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.