Headline

Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.

Israel dan Spiral Kekerasan

05/10/2024 05:00
Israel dan Spiral Kekerasan
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

LAZIMNYA, orang meratap dan bersedih saat melihat sosok pemimpin tewas karena dibunuh. Galibnya, orang tidak bertempik sorak saat melihat manusia lain dicekam ketakutan setengah mati karena ancaman rudal. Umumnya, orang tak tahan menyaksikan genosida terpampang telanjang di depan mata.

Namun, rumus-rumus umum itu tidak berlaku di Timur Tengah. Israel, juga Amerika Serikat, menyambut kematian pemimpin Hizbullah di Libanon, Hassan Nasrallah, dengan penuh kegirangan laiknya tengah berpesta. Begitu pula saat menyaksikan ratusan ribu anak, perempuan, dan para warga lansia di Gaza mati dan kelaparan serta terkurung, Israel merayakannya sebagai sebuah kemenangan.

Kini, saat ribuan orang di Tel Aviv lari tunggang langgang karena ketakutan oleh serangan rudal Iran, sebagian orang di belahan dunia lain merayakan ketakutan itu sebagai kemenangan balas dendam. Televisi pemerintah Iran menyiarkan gambar-gambar penduduk Mashhad, kota terbesar kedua di Iran, yang merayakan serangan rudal tersebut di jalan-jalan, mengibarkan bendera kuning Hizbullah dan potret pemimpin Hizbullah yang terbunuh, Hassan Nasrallah.

Baca juga : Jadi Mantan Presiden, Enak?

Perayaan serupa juga berlangsung di ibu kota Iran Teheran dan beberapa kota provinsi. Serangan Selasa merupakan serangan kedua Iran terhadap Israel. Serangan rudal dan drone sebelumnya terjadi pada April lalu sebagai pembalasan atas serangan udara Israel yang mematikan terhadap konsulat Iran di Damaskus.

Maka, kita terbiasa menyaksikan bahwa di sana, di Timur Tengah, tidak lagi bisa dibedakan dalam saat apa orang mesti bergembira. Tidak juga diketahui pada momen seperti apa orang harus bersedih. Kekerasan ialah menu sehari-hari. Kekerasan dibalas dengan kekerasan: mata dibalas mata, telinga dibalas telinga, ketakutan dibalas nyawa orang-orang sipil sekalipun.

Benar belaka kata-kata Dom Helder Camara. Pejuang kemanusiaan dan aktivis antikekerasan asal Brasil itu mengingatkan bahwa ketika kekerasan susul-menyusul dan silih berganti, dunia jatuh ke dalam spiral kekerasan. Kekerasan yang belakangan ini terjadi di Israel, Gaza, Libanon, juga Iran berada pada level yang belum pernah kita saksiksan selama bertahun-tahun.

Baca juga : Sean Gelael Optimistis Raih Podium di Sao Paolo

Di tempat itu, kekerasan terus meletup dan berpotensi meningkat secara dramatis sehingga menyebabkan lebih banyak luka dan derita pada semua pihak. Di tengah kekerasan yang membawa kehancuran, termasuk pembunuhan berencana terhadap warga sipil dan pengeboman di kawasan permukiman, muncul sebuah pertanda yang mengkhawatirkan karena hanya ada sedikit suara yang menyerukan deeskalasi kekerasan.

Berdasarkan pengalaman selama ini, meningkatnya retorika perang hanya akan berujung pada penderitaan warga sipil yang kian besar. Palang Merah Internasional yang hadir secara permanen di Israel dan wilayah-wilayah pendudukan sejak 1967 telah lama menjadi saksi atas pembunuhan dahsyat terhadap warga sipil yang berujung pada spiral kekerasan dan kebencian. Apabila tidak segera menahan diri, begitu peringatan Palang Merah Internasional itu, kita sedang menuju ke bencana kemanusiaan.

Di Israel sendiri, ada sejumlah pejabat yang mengingatkan rezim Zionis itu untuk menyetop spiral kekerasan. Anggota Knesset (parlemem) Israel, Ahmed Tibi, mengatakan kebijakan Israel untuk membunuh seseorang tidak akan pernah memberi keamanan karena, “Masyarakat tidak dapat dan tidak boleh dibunuh,” serunya.

Baca juga : SDN 085 Ciumbuleuit dan SDN 043 Cimuncang Raih Podium Teratas

Saat berbicara di Knesset pada awal pekan ini, Tibi mengatakan pada 1992 Israel membunuh Abbas Al-Musawi, mantan Sekretaris Jenderal Hizbullah. Pada saat itu diyakini konflik dengan Hizbullah telah berakhir. Namun, setelah Al-Musawi dibunuh dan tewas, Hassan Nasrallah mengambil alih kepemimpinan Hizbullah dan bersikap lebih radikal terhadap Israel jika dibandingkan dengan pendahulunya.

Tibi memperingatkan bahwa setelah Israel membunuh Nasrallah pada Jumat, pekan lalu, kelompok tersebut kini berencana menunjuk Hashem Safieddine yang lebih radikal daripada pendahulunya. Maka, spiral kekerasan hampir pasti akan terjadi. Kebencian terus beranak pinak dan bersemi, lalu tumbuh lagi dan lagi.

Tibi mengatakan pada 2002, Israel juga menangkap Raed Karmi, pemimpin Brigade Martir Al-Aqsa di Palestina. Aksi itu pun memicu gerakan intifada baru. Atas gerakan itu, Israel menggencarkan serangan dan membunuh wakil panglima Brigade Qassam, Ahed Al-Jabari, yang lagi-lagi membawa masuk intifada baru pimpinan Ketua Hamas Yahya Sinwar.

Baca juga : Semangat Juang Jadi Modal bagi Nizar Raih Podium Bali Trail Run Ultra 2024

Kini, bangsa Iran yang meradang dan merasa ditantang berusaha keras membalas sebagai bentuk membentengi harga diri. Seperti yang pernah ditulis penyair Iran legendaris, Abolqasem Ferdowsi, ketika mencatat ‘pertempuran hebat dan kecemburuan kecil’. Ia mencatat kekejaman dan keindahan di halaman yang sama.

Ia mengakhiri buku besarnya, yang disebut Shahnameh, dengan kata-kata berikut:

‘Aku telah mencapai akhir dari sejarah yang hebat ini

Dan, seluruh negeri akan membicarakanku

Aku tidak akan mati, benih yang aku tabur ini akan menyelamatkan

Nama dan reputasiku dari kubur

Dan orang-orang yang berakal sehat dan bijaksana akan menyatakan Ketika aku pergi, pujian dan ketenaranku’.

Ferdowsi tidak sedang membual karena kata-katanya menjadi kenyataan. Bukunya tetap ada di banyak rumah dan hati orang Iran. Itulah yang memantik harga diri. Lalu, meluncurlah sekitar 200 rudal ke Tel Aviv, memburu sasaran ‘strategis’. Sirene meraung-raung. Orang-orang lari menuju persembunyian. Siapa menabur kekerasan demi kekerasan akan menuai kekerasan.



Berita Lainnya
  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."