Headline
Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.
Kumpulan Berita DPR RI
SINDIR-MENYINDIR dalam dunia politik itu sudah lumrah. Dalam ilmu komunikasi, sindiran bahkan dikategorikan sebagai salah satu bentuk komunikasi tidak langsung yang paling efektif. Sindiran ialah cabang dari seni beretorika yang dianggap lebih aman dituturkan ketimbang langsung mengkritik, apalagi mengejek atau mencaci.
Saling sindir di antara para aktor politik, terutama pada saat musim pemilu, sudah teramat biasa kita temukan. Bahkan sepertinya gaya sindiran sudah menjadi strategi yang umum dipakai untuk mencuri perhatian publik luas. Dengan gaya bahasa ironi, sinisme, sarkasme, kadang-kadang dibumbui dengan humor, mereka bisa menohok lawan politik tanpa perlu memukul secara langsung.
Begitu pula dalam relasi publik dengan pemerintah atau penguasa. Sindiran menjadi salah satu saluran yang mereka pilih untuk menyuarakan kegelisahan, juga kedongkolan atas kebijakan pemerintah, isu sosial yang terjadi, ataupun perilaku para pejabat dan elite.
Baca juga : Jadi Mantan Presiden, Enak?
Terlebih saat ini, perkembangan media sosial telah membuat saluran itu menjadi sangat lebar. Tidak ada yang bisa memungkiri, kritik dan unek-unek melalui bahasa sindiran kini begitu mudah dilemparkan dan disebarluaskan. Siapa saja bisa melempar sindiran, pun kepada siapa saja sindiran itu bisa ditujukan.
Akan tetapi, bagaimana bila yang melempar sindiran itu ialah penegak hukum dengan materi sindiran terkait dengan kasus yang sedang mereka tangani? Nah, bingung, kan? Terus terang saya juga bingung ketika membaca berita bahwa Ketua sementara KPK Nawawi Pomolango, di satu acara, melempar sindiran dalam bentuk pantun yang sepertinya diarahkan ke satu nama tenar. Siapa dia, mari kita simak dua pantun Nawawi yang lagi ramai itu.
Sang anak jualan pisang
Baca juga : Sean Gelael Optimistis Raih Podium di Sao Paolo
Si bapak pengusaha terasi
Jangan naik pesawat terbang
Kalau tiketnya dari gratifikasi
Baca juga : SDN 085 Ciumbuleuit dan SDN 043 Cimuncang Raih Podium Teratas
Burung Pipit burung merpati
Bersiul riang di atas dahan
Baca juga : Semangat Juang Jadi Modal bagi Nizar Raih Podium Bali Trail Run Ultra 2024
Jangan mimpi naik jet pribadi
Kalau cuma jualan pisang
Ada beberapa kata kunci yang membuat orang yang mendengar atau membacanya akan dengan mudah mengaitkan pantun itu sebagai sentilan kepada Kaesang Pangarep, putra bungsu Presiden Jokowi dan Ketua Umum PSI. Setidaknya tiga kata kunci yang meyakinkan, yaitu pisang, jet pribadi, dan gratifikasi.
Apalagi, saat membacakan pantun itu Nawawi sengaja meminta peserta acara tidak merespons tiap baitnya dengan kata 'cakep' seperti lumrahnya, tapi dengan kata 'coi'. Ia bilang 'coi' ialah singkatan dari conflict of interest. Dus, semakin mengerucutlah kepada siapa pantun itu ditujukan.
Lalu apa persoalannya? Ini bukan tentang Nawawi boleh melempar sindiran atau tidak. Aksi sindir Nawawi jadi terasa aneh karena pada saat yang sama, KPK, lembaga antirasuah yang ia pimpin, justru terlihat gagap menangani kasus dugaan gratifikasi yang melibatkan Kaesang. Dugaan gratifikasi muncul setelah Kaesang kedapatan terbang ke Amerika Serikat bersama istrinya menggunakan jet pribadi.
KPK bahkan sejak awal sudah ragu memanggil Kaesang untuk memberikan klarifikasi terkait dengan tuduhan gratifikasi. Belakangan malah anak ragil Jokowi itu mendatangi KPK yang ia klaim atas inisiatif sendiri, bukan atas pemanggilan KPK. Setelah klarifikasi Kaesang pun, sampai saat ini KPK belum memberikan tanggapan atau keputusan. Yang terjadi malah saling lempar tanggung jawab antarpemimpin lembaga itu.
Makanya, menjadi lucu ketika kemudian pucuk pimpinan KPK tiba-tiba melempar sindiran di forum terbuka, yang sebetulnya kalau kita cermati, isinya mengisyaratkan Kaesang memang bersalah. "KPK, kok, beraninya nyindir doang?" begitu kata netizen yang budiman di kolom komentar salah satu unggahan berita tentang pantun Nawawi.
Tidak salah juga mereka berkomentar seperti itu. Nawawi dan lembaga yang dipimpinnya punya kuasa, punya wewenang untuk membuat dugaan dan prasangka itu jadi terang seterang-terangnya. "Kenapa dia enggak fokus saja di area kewenangannya itu, sih, malah lempar sindiran seperti masyarakat pada umumnya?" timpal netizen yang lain.
Karena itu, jelas, dalam konteks ini, sindiran Nawawi menjadi tidak punya makna apa-apa. Selain hanya jadi lucu-lucuan, itu malah mengonfirmasi kecilnya nyali KPK saat berhadapan dengan kasus yang melibatkan penguasa. Kalau KPK betul punya keberanian, ya beranilah bertindak, jangan cuma berani menyindir.
Semakin miris lagi karena ketika pihak yang satu masih diselubungi ketakutan, pihak yang lain malah kian berani mengumbar psy-war. Di hari yang sama dengan Nawawi melontarkan sentilan, Kaesang dengan gagahnya blusukan ke Tangerang dengan memakai rompi bertuliskan 'Putra Mulyono'. Jadi, ya sudahlah. Untuk urusan keberanian, KPK kalah telak.
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.
POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita
SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan
PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik.
"SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved