Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Oposisi Loyal

25/9/2024 05:00
Oposisi Loyal
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

TEMAN saya, seorang aktivis prodemokrasi, sedang galau berat. Musababnya, pemerintahan ke depan di bawah duet Prabowo-Gibran, kata dia, ada tendensi merangkul semua kekuatan politik. Bentuk 'rangkulan' itu ialah posisi kursi menteri di kabinet.

Saya lalu mengatakan kepadanya untuk tidak usah risau. Justru, bila kekuatan politik dirangkul, stabilitas akan tercipta. Program-program Prabowo-Gibran akan mulus dijalankan. Tidak ada yang merecoki, tidak gaduh, tidak berisik. Semua akan adem ayem.

Sang teman lalu menanggapi pernyataan saya dengan curiga. Ia berkata, "Kamu ini serius menanggapi atau sekadar menguji? Sekadar menyindir atau memang sudah lelah? Atau, malah-malah sudah frustrasi? Wkwkwk...."

Baca juga : Jadi Mantan Presiden, Enak?

Meski begitu, sang teman tetap menanggapi pernyataan saya dengan superserius. Menurut dia, apabila Prabowo merangkul seluruh partai ikut menjadi bagian pemerintahan, kekuatan oposisi akan sulit untuk menyeimbangkan kinerja pemerintah.

Jika daya dorong oposisi lemah, pemerintah berpotensi bekerja dengan minim pengawasan karena kekuatan oposisi yang tidak seimbang dengan pemerintah. Implikasi logisnya, jelas dia, akan muncul peluang lahirnya berbagai kebijakan kontroversial dari pemerintah yang tidak melalui proses-proses demokratis sebagaimana mestinya.

"Konstitusi Indonesia memang tidak mengenal istilah oposisi. Sistem politik Indonesia adalah presidensial. Pada sistem itu, kekuasaan presiden menjadi mutlak dalam menjalankan pemerintahan. Sistem politik Indonesia tidak seperti Inggris dan negara-negara Eropa Barat yang berbentuk parlementer, ketika kekuatan oposisi diakui secara resmi dalam konstitusi," sang teman menjelaskan panjang lebar.

Baca juga : Sean Gelael Optimistis Raih Podium di Sao Paolo

Meski tidak dikenal dalam sistem kita, ia menambahkan, bukan berarti oposisi bisa dinegasikan perannya dalam sistem pemerintahan presidensial. Pasalnya, esensi dasar dari demokrasi ialah kompetisi yang meniscayakan adanya persaingan dari orang-orang yang hidup dalam demokrasi.

Persaingan bisa muncul apabila ada kekuatan setara yang bisa menyeimbangkan dan mengontrol kekuasaan. Kekuatan semacam itu dapat tumbuh jika mekanisme politik oposisi terwujud dengan semestinya. "Bila oposisi hilang atau perannya justru minim, kompetisi tidak dapat terwujud, Bro," sang teman kian bersemangat menjelaskan.

Kompetisi dalam demokrasi ini penting karena memungkinkan untuk melahirkan pandangan-pandangan sosial-politik alternatif atas berbagai kebijakan negara. Produk-produk politik yang dihasilkan lewat mekanisme kompetisi jauh lebih baik daripada produk politik yang dihasilkan monopoli satu pihak. Produk politik dari hasil kompetisi yang sehat ialah produk politik yang telah melewati pertarungan gagasan antara kelompok berkuasa dan oposisi. "Artinya produk yang dihasilkan telah diuji secara konseptual oleh kedua pihak yang berseberangan," terangnya.

Baca juga : SDN 085 Ciumbuleuit dan SDN 043 Cimuncang Raih Podium Teratas

Selain itu, kompetisi dalam demokrasi berguna untuk memastikan agar kekuasaan tidak jatuh dalam kemutlakan. Dengan oposisi, kekuasaan tidak menjadi absolut karena ada kekuatan yang menantang kekuasaan yang berkuasa. Sang teman lalu mengingatkan pengalaman 32 tahun dipimpin Orde Baru yang menjadi pelajaran berharga tentang bagaimana kekuasaan yang tidak diimbangi dengan kekuatan oposisi yang setara hanya akan melahirkan politik otoritarianisme.

Saya tidak menimpali penjelasan panjang lebar teman saya itu. Saya hanya memberikan emoticon jempol untuk pernyataan dan penjelasannya yang panjang lebar itu. Diam-diam saya jadi teringat cendekiawan muslim mendiang Nurcholish Madjid yang 30 tahun lalu mencetuskan perlunya oposisi loyal. Cak Nur, pernah menggegerkan jagat politik Tanah Air karena slogannya 'Islam yes, partai Islam no' di awal 1970-an.

Namun, pada 1977, Cak Nur tetap berkampanye untuk Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang notabene partai berasaskan Islam. Saat ditanya kenapa ia berkampanye untuk partai Islam yang bertentangan dengan slogan yang ia lontarkan hampir sewindu sebelumnya, Cak Nur mengatakan melakukan itu untuk 'memompa ban kempis'. Ia ingin keseimbangan terjaga. Karena itu, PPP tidak boleh dibiarkan terus mengempis atau dikempiskan.

Baca juga : Semangat Juang Jadi Modal bagi Nizar Raih Podium Bali Trail Run Ultra 2024

Sistem politik disebut demokratis, Cak Nur mengulas, jika terdapat wujud dinamika pengawasan dan pengimbangan (checks and balances). Dengan penegasan tersebut, bagi Cak Nur, tidaklah bisa dibenarkan dalam alam demokrasi jika tidak terdapat partai politik oposisi. Partai oposisi yang dimaksudkan Cak Nur ialah partai yang menjalankan ide checks and balances sehingga tidak berarti terus-menerus to oppose, tapi juga to support yang dapat dilakukan baik secara formal maupun nonformal.

Cak Nur menjelaskan oposisi ialah suatu kenyataan yang tak dapat dielakkan dalam demokrasi. Apabila peran oposisi tidak diakui, dapat mengakibatkan saling curiga sehingga beranggapan bahwa kelompok oposisi hadir sebagai suatu ancaman yang dapat merusak tatanan pemerintahan.

Ide Cak Nur soal oposisi loyal yang digemakan pada 1994 lalu itu kiranya masih amat relevan hingga kini. Apalagi, saat ini mulai muncul tudingan bahwa oposisi hanya membuat gaduh. Ia, bagi yang alergi, disejajarkan semacam 'hama' pengganggu 'tanaman' program pembangunan yang sedang disemai. Namun, siapa yang mengingatkan kita soal pentingnya oposisi loyal saat Cak Nur yang supercerdas dan mencerahkan itu sudah tiada?



Berita Lainnya
  • OTT Tepat Waktu

    22/1/2026 05:00

    BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.

  • Pesta Elite, Nestapa Rakyat

    21/1/2026 05:00

    REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk. 

  • Vietnam Melaju Kencang

    20/1/2026 05:00

    KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.

  • Suara Profesor 15 Januari

    19/1/2026 05:00

    SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.

  • Setan pun Minder

    15/1/2026 05:00

    INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.

  • Regenerasi Koruptor

    14/1/2026 05:00

    Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.

  • Angka Tiga

    13/1/2026 05:00

    PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).

  • Burung Diadili, Bencana Dibiarkan

    12/1/2026 05:00

    PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah

  • Kutukan Ekonomi Ekstraktif

    09/1/2026 05:00

    VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai

  • Maduro dan Silfester

    08/1/2026 05:00

    APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.

  • Negara Bahagia

    07/1/2026 05:00

    INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.

  • Angka Lima

    06/1/2026 05:00

    ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.

  • Demokrasi Donat Pilkada tanpa Rakyat

    05/1/2026 05:00

    SEPERTI kue donat yang berlubang di tengah. Begitulah demokrasi negeri ini akan tampak jika pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota dikembalikan kepada DPRD.

  • Pertobatan Ekologis

    03/1/2026 05:00

    ADAKAH berita baik di sepanjang 2025? Ada, tapi kebanyakan dari luar negeri. Dari dalam negeri, kondisinya turun naik

  • Tahun Lompatan Ekonomi

    02/1/2026 05:00

    SETIAP datang pergantian tahun, kita selalu seperti sedang berdiri di ambang pintu. Di satu sisi kita ingin menutup pintu tahun sebelumnya dengan menyunggi optimisme yang tinggi.

  • Tahun Baru Lagi

    31/12/2025 05:00

    SETIAP pergantian tahun, banyak orang memaknainya bukan sekadar pergeseran angka pada kalender, melainkan juga jeda batin untuk menimbang arah perjalanan bersama.