Headline

Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.

Ancaman Ngeri Deflasi

11/9/2024 05:00
Ancaman Ngeri Deflasi
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

DALAM kamus ekonomi, bukan hanya inflasi yang patut diwaspadai. Perkembangan dan dampak deflasi atau penurunan harga juga patut diperhatikan dan diwaspadai.

Pasalnya, bahaya deflasi sama atau sebangun dengan inflasi. Apalagi bila deflasi itu berlangsung berbulan-bulan seperti yang terjadi di negeri ini dalam empat bulan berturut-turut. Dampaknya pada kondisi perekonomian amat sangat penting untuk diwaspadai.

Bahkan, sejumlah ekonom menyebut fenomena deflasi yang empat bulan berturut-turut terjadi kali ini mirip dengan peristiwa saat krisis menerpa ekonomi Indonesia. Alarm darurat ekonomi Indonesia pun kembali menyala. Peringatan itu bukan bermaksud menakut-nakuti, melainkan memang begitulah yang terjadi.

Baca juga : Jadi Mantan Presiden, Enak?

Ada yang menyebut fenomena deflasi merupakan salah satu penyakit yang menggerogoti negara di tengah ancaman jatuh ke jurang krisis. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia sering berada di fase tersebut. Setidaknya, ada tiga waktu berbeda ketika fenomena deflasi selama beberapa bulan beruntun melanda ekonomi Indonesia dan semua berkaitan dengan krisis.

Saat krisis moneter (krismon) 1998, krisis ekonomi global 2008, dan saat pandemi covid-19 menyerang, deflasi beruntun dalam beberapa bulan juga menjadi penanda. Ketika krisis moneter 1998, misalnya, ketika itu Indonesia mengalami deflasi tujuh bulan berturut-turut, Maret 1999-September 1999. Hal itu imbas depresiasi nilai tukar dan penurunan harga sejumlah barang.

Periode deflasi lainnya terjadi pada Desember 2008 dan Januari 2009. Selama krisis finansial global itu, deflasi terjadi karena penurunan harga minyak dunia, juga permintaan domestik yang melemah. Deflasi beruntun terulang saat Indonesia mengalami covid-19 sehingga daya beli masyarakat turun. Pada 2020, terjadi deflasi tiga bulan berturut-turut sejak Juli sampai September 2020.

Baca juga : Sean Gelael Optimistis Raih Podium di Sao Paolo

Ada empat kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi kala itu. Deflasi terjadi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau; pakaian dan alas kaki; transportasi; serta informasi, komunikasi, dan jasa keuangan.

Pada 2024 kali ini, fenomena deflasi beruntun didukung sisi penawaran atau supply side. Deflasi pada Agustus 2024 sebesar 0,03% secara bulanan (month to month) menjadi yang keempat sepanjang tahun ini. Fenomena itu sudah terjadi sejak Mei 2024 sebesar 0,03%, semakin dalam pada Juni 2024 ke level 0,08%, dan tambah parah pada Juli 2024 yang menembus 0,18%.

Deflasi berturut-turut itu disumbang karena penurunan harga pangan, seperti produk tanaman pangan, hortikultura, dan peternakan, baik karena biaya produksinya yang turun, juga harga di tingkat konsumen ikut turun. Sejauh ini, berbagai analisis menduga deflasi terjadi karena konsumen menahan konsumsi untuk menjaga daya beli, khususnya untuk konsumsi makanan.

Baca juga : SDN 085 Ciumbuleuit dan SDN 043 Cimuncang Raih Podium Teratas

Karena itu, mestinya ada perlakuan berbeda dalam menyikapi fenomena deflasi pada 2024 ini. Apalagi, kondisi deflasi sekarang lebih banyak dipengaruhi faktor domestik, berbeda dengan krisis ekonomi yang menimpa dunia beberapa waktu lalu. Saat ini, faktor deflasi banyak disebabkan pelemahan daya beli akibat kebijakan yang kurang pas.

Kebijakan itu, misalnya, berbagai penaikan harga, misalnya harga bahan bakar minyak bersubsidi (menghilangkan premium dan menggantinya dengan pertalite yang harganya lebih tinggi). Bantuan sosial yang cuma menyasar kelas bawah juga bentuk lain dari pengabaian kelompok menengah ekonomi. Pelemahan daya beli kelas menengah kian paripurna ketika terjadi pelemahan industri, ditambah investasi yang seret.

Jadilah deflasi kali ini sebagai sumbu bagi lesunya perekonomian Indonesia. Bahkan, ada yang menyebutnya deflasi kali ini jadi biang melambatnya perekonomian kita. Perlambatan itu dihitung dari fakta terjadinya pengurangan permintaan 4,8%-5%.

Baca juga : Semangat Juang Jadi Modal bagi Nizar Raih Podium Bali Trail Run Ultra 2024

Masyarakat kelas menengah yang jadi andalan pertumbuhan permintaan justru sedang terjepit dan tak punya pilihan selain makan tabungan. Banyaknya cicilan utang membuat kelas menengah jauh dari asa untuk terus menabung.

Tidak kalah mengkhawatirkan ialah bila deflasi tidak diatasi, bahayanya bisa merembet ke lembaga keuangan. Deflasi bisa berdampak pada menyusutnya dana pihak ketiga dan naiknya non-performing loan (NPL) perbankan. Jika hal itu terus dibiarkan, akan terjadi penurunan kepercayaan masyarakat yang berefek meliuk-liuk seperti spiral dan bisa liar ke mana-mana.

Kita tidak ingin gejala Chilean Paradox terjadi. Situasi paradoks Cile itu terjadi ketika ekonomi negara Cile tumbuh tinggi, tapi kelas menengah terjepit dengan daya beli mereka longsor. Situasi itu membuat kelas menengah Cile marah karena merasa tidak diacuhkan.

Gelombang protes di mana-mana, ujung-ujungnya seantero Cile kena imbasnya, yakni ekonomi merosot karena instabilitas. Jangan terjadi di sini, ah....

 



Berita Lainnya
  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."