Headline

Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.

Berebut Panggung Jakarta

05/9/2024 05:00
Berebut Panggung Jakarta
Ahmad Punto Dewan Redaksi Media Group(MI/EBET)

DARI sekian ratus daerah, baik provinsi maupun kabupaten/kota, yang bakal menggelar pilkada serentak 2024 pada 27 November mendatang, Pilkada DKI Jakarta tampaknya tetap menjadi yang paling membetot perhatian. Bukan cuma perhatian publik, melainkan juga perhatian para elite politik nasional.

Kalau pilkada serentak diibaratkan festival musik, Pilkada Jakarta ialah panggung utamanya. Daerah-daerah lain mungkin cukup tampil di panggung-panggung kecil di sekelilingnya. Panggung utama akan menyedot atensi paling besar karena punya daya tarik paling kuat. Sorotan lampu dan bidikan kamera pun sudah pasti akan lebih terfokus ke sana.

Lantas apa sebetulnya daya tarik yang tersisa dari Jakarta? Bukankah sebentar lagi ibu kota negara akan berpindah ke Ibu Kota Nusantara (IKN)? Jawabannya simpel, Jakarta dengan sejarah panjangnya tidak segampang itu tergantikan sebagai sentra bisnis, ekonomi, dan bahkan politik. Kota yang sudah menjelma menjadi megaurban itu tidak pernah gagal menawarkan peluang sekaligus mimpi utopia.

Baca juga : Jadi Mantan Presiden, Enak?

Boleh saja nanti, cepat atau lambat, pusat pemerintahan bakal berpindah ke IKN. Namun, daya magis Jakarta sebagai pusat perputaran uang tidak akan hilang. Sebagian kekuatan Jakarta yang katanya ingin dilepaskan dengan status barunya yang tak lagi menjadi ibu kota kiranya juga tidak akan signifikan memengaruhi daya tarik megapolitan itu di mata para elite baik penguasa politik maupun ekonomi.

Itu sebabnya, dalam konteks politik, Jakarta juga diperebutkan secara mati-matian. Buktinya ada. Keriuhan drama dan kencangnya dinamika pencalonan Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta yang kita saksikan, beberapa waktu lalu, nyata-nyata menunjukkan 'penguasaan' atas panggung Jakarta dianggap sebagai kunci kekuasaan di level nasional.

Jakarta akan tetap menjadi episentrum politik nasional. Karena itu, panggung Pilkada Jakarta betul-betul menjadi magnet. Sejumlah pakar bilang kontestasi di Jakarta sangat strategis sebagai batu loncatan menuju level kontestasi demokrasi yang lebih tinggi, yaitu pemilihan presiden (pilpres).

Baca juga : Sean Gelael Optimistis Raih Podium di Sao Paolo

Joko Widodo (Jokowi), Anies Baswedan, dan Sandiaga Uno ialah contoh pemimpin-pemimpin Jakarta yang dalam satu dekade ini mampu 'naik kelas' dengan menjadi calon presiden dan calon wakil presiden. Jokowi, kendati baru merasakan dua tahun sebagai Gubernur DKI Jakarta, bahkan berhasil memenangi Pilpres 2014 dan Pilpres 2019.

Bisa dikatakan Pilkada Jakarta merupakan politik elektoral level daerah yang punya pengaruh paling kuat terhadap dinamika politik nasional. Teori itu semakin terasa dan berlaku pada Pilkada Jakarta tahun ini. Seluruh kekuatan politik nasional seakan tercurah untuk kepentingan pemenangan di Jakarta.

Itu pula yang menjadi jawaban mengapa perebutan penguasaan panggung utama itu tidak hanya berjalan sengit, tapi juga kotor. Tidak semata diisi dengan perang strategi, tetapi juga dalam prosesnya kerap ditingkahi dengan sikut-menyikut, ganjal-mengganjal, bahkan sandera-menyandera dan jegal-menjegal.

Baca juga : SDN 085 Ciumbuleuit dan SDN 043 Cimuncang Raih Podium Teratas

Bahkan, representasi dinasti politik penguasa pun sempat akan dicoba 'disusupkan' menjadi kandidat di Pilkada Jakarta meski rencana itu kemudian pupus, terutama setelah Mahkamah Konstitusi pada 20 Agustus 2024 mengeluarkan Putusan Nomor 70/PUU-XXII/2024 yang mengatur soal syarat usia pencalonan.

Pilkada Jakarta sejatinya selalu dituntut bisa menjadi contoh dari kedewasaan berdemokrasi bangsa ini. Namun, yang terjadi saat ini sebaliknya, malah menjadi contoh buruk penerapan demokrasi. Jakarta kini tak hanya tersandera oleh polusi udara, tapi juga polusi politik yang menghamba pada kekuasaan.

Para elitelah yang mengendalikan semuanya, tentu demi kepentingan mereka. Masa bodoh dengan suara dan aspirasi masyarakat. Mereka lupa bahwa hakikat pilkada bukan semata ajang mencari pemenang dan menyingkirkan yang kalah, melainkan arena memilih pemimpin mumpuni untuk memuliakan daerah tersebut.

Baca juga : Semangat Juang Jadi Modal bagi Nizar Raih Podium Bali Trail Run Ultra 2024

Jakarta akan menuju status kekhususan yang baru di era gubernur dan wakil gubernur yang dihasilkan dari kontestasi pilkada tahun ini. Akan seperti apa Jakarta dengan status barunya, itu sangat bergantung pada kecakapan pemimpin yang baru nanti.

Akan tetapi, kalau melihat proses yang terjadi sepanjang tahapan pilkada, saya, kok, tidak yakin Jakarta akan banyak berubah. Boleh jadi, Jakarta dengan kekhususannya nanti hanya akan dijadikan objek untuk memenuhi kepentingan politik dan ekonomi para penguasa. Bukan sebagai subjek untuk memanusiakan dan membahagiakan seluruh warganya.

Namun, itu sebatas dugaan saya sebagai orang awam. Di balik itu saya masih punya simpanan asa akan hadirnya Jakarta yang lebih baik, yang lebih human. Pemimpin Jakarta harus lebih banyak menyerap aspirasi warga dalam menelurkan setiap program dan kebijakan, alih-alih menuruti kemauan dan kepentingan tuan yang mengusung mereka.



Berita Lainnya
  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."