Headline

Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.

Bencana Pilkada

03/9/2024 05:00
Bencana Pilkada
Ade Alawi Dewan Redaksi Media Group(MI/EBET)

PEMILIHAN kepala daerah secara langsung kembali menghampiri rakyat. Pesta yang berlangsung saban lima tahun sekali itu merupakan salah satu amanat reformasi karena selama era Orde Baru kepala daerah ditunjuk pemerintah, selanjutnya memasuki era reformasi sempat dipilih DPRD.

Atas desakan rakyat, dilakukan pilkada langsung pertama pada Juni 2005. Dasarnya ialah Undang-Undang No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, yang menggantikan UU No 22 Tahun 1999.

Namun, pilkada langsung belum memberikan penguatan kepada kualitas demokrasi dan belum menghadirkan kesejahteraan kepada rakyat. Pilkada baru ingar-bingar pestanya elite politik, belum menjadi pestanya rakyat.

Baca juga : Jadi Mantan Presiden, Enak?

Rakyat masih menjadi objek penderita dalam pilkada. Bukan subjek yang menentukan proses terpilihnya sebuah calon pemimpin daerah yang mereka dambakan. Proses terpilihnya calon kepala daerah bukan menjaring aspirasi dari bawah (bottom up), melainkan dari atas (top down).

Alhasil, muncullah para calon kepala daerah 'aneh-aneh' tanpa rekam jejak yang baik dan pernah berkontribusi kepada rakyat. Mereka yang terpilih ialah yang memiliki modal dan koneksi kepada elite politik. Tak sedikit di antara mereka ialah keluarga sang elite, apakah istri, anak, atau mantu.

Mereka terpilih bukan karena pilihan sejati rakyat, melainkan mereka membeli suara rakyat dengan money politics, sembako, dan sebagainya. Modal yang dikeluarkan sang calon sangat besar dari puluhan hingga ratusan miliar rupiah.

Baca juga : Sean Gelael Optimistis Raih Podium di Sao Paolo

Tak semuanya modal dari kocek calon kepala daerah, bahkan modal lebih besar dari rekanan pemerintah daerah atau pengusaha tertentu yang memberikan ijon politik kepada calon kepala daerah. Biaya yang besar untuk memenangkan kontestasi kepala daerah (political cost) dan sokongan fulus dari rekanan atau pengusaha membuat kepala daerah terpilih harus mengembalikan modal dengan beribu jurus.

Proyek-proyek pemerintah yang seharusnya dikelola berdasarkan prinsip-prinsip good governance, yakni akuntabilitas, transparansi, dan partisipasi, semuanya diatur sedemikian rupa sehingga yang mendapat proyek ialah orang-orang tertentu yang tidak memiliki kinerja yang baik untuk mengerjakan proyek. Ada pula proyek kemudian dilimpahkan kepada orang lain karena sang pemenang proyek sebenarnya ialah calo proyek.

Jika proses demokrasi cacat, baik cacat etik atau hukum, hasilnya pun tak bakal jauh berbeda. Pemimpin daerah yang terpilih ialah mereka yang tidak memedulikan etika dan hukum. Kepemimpinan yang mereka bangun seperti 'kerajaan'. Kepemimpinan menara gading yang mengabaikan denyut nadi rakyat. Mereka tak peduli dengan penderitaan rakyat.

Baca juga : SDN 085 Ciumbuleuit dan SDN 043 Cimuncang Raih Podium Teratas

Mereka baru peduli apabila kasus yang menimpa rakyat, kemalangan, dan kesusahan rakyat terekspos di media sosial. Mereka mau bantu rakyat yang kesusahan dengan ekspos yang besar di media sosial dan media mainstream. Mereka membantu rakyat bukan karena sesuai dengan tugas, pokok, dan fungsi mereka.

Tak pelak pilkada melahirkan maling. Berdasarkan data Indonesia Corruption Watch (ICW), sebanyak 61 kepala daerah ditetapkan sebagai tersangka korupsi oleh penegak hukum pada 2021 hingga 2023. Praktik rasuah yang mereka lakukan mayoritas suap-menyuap, penyalahgunaan APBD, dan jual beli jabatan aparatur sipil negara. Bahkan, mereka tega memalak seorang guru yang ingin menjadi kepala sekolah. Jika ditotal sejak dimulainya pilkada, sudah ratusan kepala daerah yang menghuni hotel prodeo.

Celakanya, kekuatan politik uang dan pencitraan mampu membuat rakyat terbius, terpana, dan terpesona dengan figur calon kepala daerah yang berasal dari keluarga koruptor. Ayah atau ibu mantan kepala daerah yang terjerat korupsi, malah ada yang masih di penjara, anak atau mantu berani mencalonkan diri sebagai kepala daerah.

Baca juga : Semangat Juang Jadi Modal bagi Nizar Raih Podium Bali Trail Run Ultra 2024

Pengabaian para elite politik kepada kepantasan, kepatutan, dan semangat memberantasan korupsi sebagai extraordinary crime, dalam memilih calon, menyebabkan korupsi langgeng di daerah.

Tak mengherankan korupsi kepala daerah bikin melongo publik karena nilai uang negara yang digarong sangat fantastis, seperti kasus korupsi Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari (2010-2015 dan 2016-2021) dengan kerugian negara sebesar Rp469 miliar, dan kasus korupsi Bupati Bangkalan Fuad Amin Imron (2003-2008 dan 2008-2013) dengan nilai korupsi mencapai Rp441 miliar.

Kini, rakyat akan mengikuti pilkada pada 27 November 2024. Pilkada kali ini disebut 'rasa pilpres' karena nuansa rivalitas pilpres pada 14 Februari lalu yang belum selesai. Pilkada akan dihelat di 37 provinsi, 415 kabupaten, dan 93 kota.

Demokrasi akan menjadi bencana apabila demos (rakyat) tidak berdaya. Sejatinya, kata George Bernard Shaw, demokrasi ialah sebuah alat yang menjamin kita akan diperintah dengan sebaik-baiknya. Tabik!



Berita Lainnya
  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."