Headline

Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.

Antara Iqbal, Armand, dan Kaesang

30/8/2024 05:00
Antara Iqbal, Armand, dan Kaesang
Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group(MI/EBET)

SETIDAKNYA ada tiga orang yang hari-hari ini menjadi atensi. Mereka disandingkan, lalu dibanding-bandingkan. Ada anak muda yang idealis, ada yang bersahaja, ada pula yang suka-suka.

Anak muda pertama ialah Iqbal Ramadhan. Sosok yang satu ini menyedot perhatian setelah ditangkap dan menjadi korban kekerasan aparat saat ikut demonstrasi menentang akal-akalan DPR terkait dengan RUU Pilkada di Jakarta, Kamis (22/8). Iqbal kian menjadi perhatian sebab dia ternyata bukan anak sembarangan. Dia anak Moerdiono, letnan jenderal TNI purnawirawan. Pensiunan tentara dengan tiga bintang.

Bagi generasi now, Moerdiono mungkin agak asing di telinga. Sekadar gambaran, Moerdiono ialah menteri sekretaris negara 1988-1993 dan 1993-1998 di era Orde Baru. Dia penyambung lidah Pak Harto. Soal kewenangan dan kekuasaannya? Jangan ditanya.

Baca juga : Jadi Mantan Presiden, Enak?

Namun, tak semua anak suka memanfaatkan nama besar orangtua mereka. Termasuk Iqbal. Dia mengaku lahir dari rahim seorang perempuan yang penuh perjuangan. Ibunya, pedangdut Machica Mochtar, harus bekerja keras merawat dan membesarkannya tanpa kehadiran sosok ayah. Memang ada persoalan dalam hubungan cinta Moerdiono dan Machica.

"Saya tidak pernah menggunakan nama besar almarhum ayah saya untuk kepentingan pribadi. Saya menjaga rapat latar belakang kedua orangtua saya. Bahkan, ketika saya berada pada situasi yang sangat mengerikan di hadapan aparat bersenjata yang melecehkan, memukul, menendang kepala saya," begitu Iqbal bilang.

Iqbal berujar dirinya bukan anak yang hidup dalam kemewahan dan kekuasaan. Sejak kecil dia berjuang melawan ketidakadilan. "Di saat yang lain memanfaatkan nama besar orangtuanya agar mendapatkan kedudukan dan jabatan, ada banyak orangtua dan pemuda yang berjuang untuk membayar biaya pendidikan yang mencekik, mencari kerja untuk menjadi tulang punggung keluarga, dan menjadi ojol hanya untuk bertahan hidup sehari.''

Baca juga : Sean Gelael Optimistis Raih Podium di Sao Paolo

Itulah Iqbal, anak muda yang kiranya masih idealis. Semoga idealismenya tak luruh oleh godaan dan rayuan baik harta maupun kuasa.

Sosok kedua ialah Armand Wahyudi Hartono. Usianya sebenarnya tak lagi muda, sudah 49 tahun, tapi saga inspiratifnya semasa muda kembali mengemuka. Kesederhanaannya diangkat-angkat lagi. Kisahnya naik pesawat komersial kelas ekonomi diviralkan lagi. Kepatuhannya untuk menapaki jalan normal seperti menjalani tes pada umumnya dalam meniti karier di perusahaan keluarga disebarkan lagi.

Armand bukan orang sembarangan. Dia anak Robert Budi Hartono, pemilik BCA dan perusahaan rokok Djarum. Keluarga Hartono salah satu orang terkaya di Indonesia. Hartanya ratusan triliun rupiah. Tak habis 10 turunan. Tapi, ya itu tadi, Armand yang kini menjabat Deputi Presiden Direktur BCA tetap bersahaja. Ketika ditanya dalam sebuah wawancara soal apakah keluarganya punya jet pribadi, dia tegas menjawab itu privasi. Tak perlu dipublikasikan. Dia suka pakai pesawat komersial.

Baca juga : SDN 085 Ciumbuleuit dan SDN 043 Cimuncang Raih Podium Teratas

Jejak kesederhanaan Armand juga ada pada keluarganya. Sang paman, Michael Bambang Hartono, amsalnya, masih suka makan di warung. Penyumbang medali perunggu buat Indonesia dari cabang bridge di Asian Games 2018 itu pelanggan setia tahu pong di Semarang. Saban jajan, penampilannya biasa saja. Benar-benar biasa, bukan demi citra.

Anak muda yang juga menjadi sorotan ialah Kaesang Pangarep. Kaesang juga bukan anak sembarangan. Dia putra bungsu orang paling berkuasa di Indonesia dalam 10 tahun terakhir hingga saat ini, Presiden Jokowi. Namun, beda dengan Iqbal dan Armand, Kaesang dipandang berkebalikan.

Oleh sebagian rakyat, dia dinilai aji mumpung. Mumpung bapaknya berkuasa, dia punya hasrat tinggi untuk berkuasa pula. Baru dua hari menjadi anggota kemudian ujug-ujug menjadi Ketua Umum PSI adalah indikasinya. Meski belum cukup umur, berambisi menjadi gubernur atau wakil gubernur ialah indikasi yang lain.

Baca juga : Semangat Juang Jadi Modal bagi Nizar Raih Podium Bali Trail Run Ultra 2024

Dia seperti masnya, Gibran Rakabuming Raka, yang juga belum cukup usia, tapi mau menjadi wakil presiden. Bedanya, kalau sang kakak berhasil setelah aturan diutak-atik di Mahkamah Konstitusi, Kaesang tidak. Kali ini, akal bulus untuk kembali mengubah ketentuan mendapat penentangan luar biasa. Iqbal dan kawan-kawan berada di garis depan perlawanan.

Soal kekayaan, perihal gaya hidup, Kaesang juga disoal. Kesukaan sang istri, Erina Gudono, memamerkan kemewahaan alias flexing membuat rakyat marah, geram. Sulit dimaklumi, seorang anak presiden bepergian keluar negeri dengan pesawat pribadi. Biayanya diperkirakan hampir Rp9 miliar. Kalau bayar, dari mana uang sebanyak itu? Kalau gratis, siapa yang membayari? Kiranya KPK perlu serius mengusut itu.

Sulit diterima, keluarga presiden memamerkan makan roti seharga Rp400 ribu, atau beli stroller bayi puluhan juta rupiah. Bukankah masih banyak rakyat yang untuk makan saja sehari-hari saja berat? Bukankah Presiden Jokowi berulang kali meminta jajarannya untuk tidak hedonistik?

Pemuda ialah tulang punggung negara, tapi bisa juga menjadi beban bangsa. Tak bosan saya menyitir kata-kata Bung Karno soal pentingnya pemuda. ''Beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.''

Tentu pemuda yang dimaksud Bung Karno ialah yang beridealisme, setia pada jalan perjuangan menentang ketidakadilan dan kesewenang-wenangan. Bukan yang mengandalkan kekuasaan atau kekayaan orangtua, yang gemar bermewah-mewah, bukan pula yang tunaempati atas situasi negeri.



Berita Lainnya
  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."