Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Kebaikan Pura-Pura

Ahmad Punto Dewan Redaksi Media Group
21/12/2023 05:00
Kebaikan Pura-Pura
Ahmad Punto Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

BELAKANGAN ada anekdot sarkasme yang kerap berseliweran di berbagai platform media sosial. Bahkan ada sebagian orang yang menuliskannya di bagian punggung kaus mereka. Tulisannya berbunyi, "Teruslah berbuat baik sampai orang mengira kamu nyaleg."

Bila dilihat dari momentumnya, kemunculan anekdot itu di tahun politik jelas menyiratkan sindiran keras kepada orang-orang yang kini sedang nyaleg, mungkin juga kepada politisi pada umumnya, bahwa mereka sering berbuat baik kalau ada maunya saja. Apa maunya? Apalagi kalau bukan untuk mendapatkan simpati dan suara masyarakat dalam pemilihan umum nanti.

Demi upaya menjaring suara itu, orang yang sedang nyaleg alias mereka yang menjalankan 'kerja' sebagai calon legislatif (caleg), mau tidak mau memang harus berbuat baik kepada sebanyak-banyaknya orang. Syukur-syukur bisa baik ke semua orang, tapi minimal kebaikan itu harus diberikan kepada orang-orang yang ada di daerah pemilihannya.

Muncul pertanyaan, masa orang berbuat baik tidak boleh sampai harus disindir-sindir segala? Ya, boleh-boleh saja, bahkan bagus kalau semua caleg, juga calon presiden (capres), calon wakil presiden (cawapres), dan semua politikus bisa mengirim kebaikan kepada masyarakat. Bukankah pada hakikatnya berpolitik itu menebar kebaikan? Justru aneh kalau ada yang melarang mereka berbuat baik.

Lagi pula, secara sifat dan karakter, kebaikan orang Indonesia tak perlu diragukan lagi. Sedari dulu masyarakat Indonesia dikenal dengan budaya gotong-royong dan tolong-menolong. Dua budaya tersebut merupakan bentuk aplikatif dari konsep kebaikan yang sejak awal tertanam di hati dan benak masyarakat Tanah Air.

Kebaikan orang Indonesia dari sisi kedermawanan juga tinggi bahkan mendapat pengakuan dari lembaga internasional. Lembaga survei World Giving Index (WGI) baru-baru ini kembali menobatkan Indonesia sebagai negara paling dermawan sedunia. Hasil itu menempatkan Indonesia sebagai juara selama enam tahun berturut-turut, yakni dari 2018-2023.

Tahun ini, berdasarkan hasil survei yang melibatkan 147.186 responden dari 142 negara pada 2022, Indonesia mendapat skor tertinggi 68, jauh di atas skor kedermawanan global yang hanya 39. Jika dirinci indikatornya, Indonesia meraih 61% dalam aspek membantu orang tak dikenal, 82% dalam hal donasi uang, dan 61% dalam hal kesediaan menjadi relawan.

Namun, bukan di situ persoalannya. Nilai kebaikan tentu tak lepas dari konteksnya. Dari banyak pengalaman yang sudah-sudah, kebaikan yang digondeli kepentingan politik seperti yang tecermin dari perilaku para politikus dan caleg akhir-akhir ini patut dicurigai tidak tulus. Kebaikan yang mengandung pamrih.

Pun layak diduga kebaikannya tidak autentik, lebih cenderung dibuat-buat untuk mengejar keuntungan politik sesaat. Seringkali kebaikan juga hanya untuk pencitraan atau topeng, berpura-pura baik demi mendulang suara.

Kebaikan, dalam konteks itu, juga menjadi sekadar perilaku musiman. Tempo-tempo muncul, tempo-tempo hilang. Pada musim kampanye pemilu, kebaikan bertebaran, tetapi begitu pemilu usai, kebaikannya juga ikut selesai. Saat tahun politik, mereka aktif mendekati rakyat. Namun, ketika tahun politik berganti, mereka mulai melupakan, bahkan menjauh dari rakyat.

Sulit untuk tidak mengatakan kebaikan kerap dimanfaatkan, bahkan disalahgunakan untuk memanipulasi opini publik dalam kancah pertarungan politik. Nilai kebaikan yang mestinya luhur karena bersumber dari hati, tergerus menjadi sekadar gimik politik yang kerap muncul tanpa nilai.

Kuncinya, lagi-lagi, memang ada pada masyarakat yang terus digerojogi kebaikan semu, atau bahkan palsu dari para pemain politik itu. Saringannya ada di masyarakat, apakah mereka akan menelan mentah-mentah kebaikan itu dan menuruti apa pun mau para caleg dan politisi, atau mereka akan memilah dulu kebaikan-kebaikan itu berdasarkan motifnya.

Jika masyarakat kritis, kedok orang-orang yang hanya berpura-pura baik itu pada akhirnya bakal terkuak dengan sendirinya. Jika publik selektif, niscaya akan ketahuan siapa politisi yang benar-benar berbuat kebaikan untuk kepentingan rakyat dan siapa yang gemar bersandiwara menjual kebaikan hanya untuk kepentingan diri dan kelompoknya.

Jangan sampai publik terus dilenakan dengan kebaikan yang pura-pura. Itu jeratan yang meninabobokkan yang pada ujungnya nanti bakal membanting mereka dengan keras.

Lagi pula, kan, memang lebih baik tangan di atas daripada tangan di bawah. Artinya, daripada hanya menunggu kebaikan orang, apalagi itu kebaikan palsu, akan jauh lebih baik kalau kita mengukir kebaikan kita sendiri. "Teruslah berbuat baik, tak perlu menunggu kamu nyaleg."



Berita Lainnya
  • Mudarat Paling Kecil

    27/1/2026 05:00

    RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.

  • Pengawas Mati, Korupsi Tumbuh

    26/1/2026 05:00

    KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.

  • Rupiah Vs IHSG

    23/1/2026 05:00

    ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.

  • OTT Tepat Waktu

    22/1/2026 05:00

    BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.

  • Pesta Elite, Nestapa Rakyat

    21/1/2026 05:00

    REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk. 

  • Vietnam Melaju Kencang

    20/1/2026 05:00

    KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.

  • Suara Profesor 15 Januari

    19/1/2026 05:00

    SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.

  • Setan pun Minder

    15/1/2026 05:00

    INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.

  • Regenerasi Koruptor

    14/1/2026 05:00

    Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.

  • Angka Tiga

    13/1/2026 05:00

    PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).

  • Burung Diadili, Bencana Dibiarkan

    12/1/2026 05:00

    PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah

  • Kutukan Ekonomi Ekstraktif

    09/1/2026 05:00

    VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai

  • Maduro dan Silfester

    08/1/2026 05:00

    APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.

  • Negara Bahagia

    07/1/2026 05:00

    INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.

  • Angka Lima

    06/1/2026 05:00

    ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.

  • Demokrasi Donat Pilkada tanpa Rakyat

    05/1/2026 05:00

    SEPERTI kue donat yang berlubang di tengah. Begitulah demokrasi negeri ini akan tampak jika pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota dikembalikan kepada DPRD.