Headline
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Kumpulan Berita DPR RI
ENTAH salah apa hingga Jakarta International Stadium alias JIS selalu dirundung masalah. Entah siapa yang salah hingga stadion nan megah itu tak lepas dari polemik, bahkan begitu akrab dengan tendensi politik.
JIS ialah stadion kebanggaan warga Jakarta, juga Indonesia. Tak banyak stadion di seantero jagat yang berdaya tampung lebih dari 80 ribu orang, dan JIS termasuk satu di antara yang sedikit itu.
Desain dan fasilitas JIS apik, canggih, mewah. Yang terpenting JIS ialah mahakarya anak bangsa sendiri. Akan tetapi, nasib JIS tak berbanding lurus dengan kemegahannya. Kalau meminjam judul novel karangan Sutan Takdir Alisjahbana, ia tak putus dirundung malang.
JIS terlihat wah hanya untuk dipandang.
Sejak peresmian pada 24 Juli 2022, JIS jarang sekali digunakan. Jangankan untuk menggelar laga internasional, hamparan rumputnya tak pernah diinjak pemain lokal. Kemegahan dan kemewahannya justru menjadi arena perdebatan, ajang silang pendapat, medan egoisme kebenaran.
Banyak yang berusaha meyakinkan bahwa tiada unsur politik di JIS. Namun, banyak yang justru yakin politik lebih melatari perdebatan JIS, terutama apakah ia sesuai standar FIFA atau belum. Penyebabnya, apalagi kalau bukan karena JIS dibuat di era Gubernur Anies Baswedan.
Dulu, ketika diwacanakan sebagai arena FIFA matchday antara Timnas Indonesia dan Curacao, PSSI memvonis JIS belum memenuhi standar FIFA. Sebaliknya, pengelola amat yakin bahwa JIS dibangun seusai FIFA Football Stadiums Guidelines. Singkat cerita, PSSI akhirnya menggelar uji coba lawan tim Karibia itu ke Stadion Pakansari, Bogor.
Kini, ketika Indonesia butuh stadion pengganti Stadion Utama Senayan sebagai venue Piala Dunia U-17, silang pendapat soal JIS kembali mengemuka. Lagi-lagi antara PSSI dan pengelola. Lagi-lagi antara pihak yang sekubu dan yang berseberangan dengan Anies. Lebih ramai lagi, kini ada unsur pemerintah yang, tentu saja, sekubu dengan PSSI.
Pembangun dan pengelola JIS masih dalam keyakinan semula, yakin bahwa JIS telah sesuai standar FIFA. Direktur Proyek PT Jakpro yang membangun JIS, Arry Wibowo, secara rinci menjelaskan betapa patuhnya mereka pada ketentuan FIFA. Konsultan asal Inggris yang berpengalaman membangun stadion-stadion tenar di dunia, Buro Happold, dilibatkan.
Tak ada keraguan dalam diri mereka bahwa JIS sesuai pakem FIFA. Benarkah? Saya bukan ahlinya. Saya cuma ingin main logika. Amatlah naif, konyol, sinting, bodoh, bahlul, jika dengan dana Rp4,5 triliun, mereka membangun JIS ala kadarnya. Pandir nian Buro Happold kalau dia mempertaruhkan reputasinya dengan asal-asalan memberikan pendampingan.
Di lain sisi, PSSI juga bergeming pada klaim semula bahwa JIS belum sesuai standar FIFA. Dua hari lalu, Ketua Umum PSSI Erick Thohir bahkan berani menyebut, kalau FIFA datang hari ini, JIS pasti dicoret karena tidak layak untuk menghelat Piala Dunia U-17.
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono ogah ketinggalan. Saat meninjau JIS bersama Erick dan Pj Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono, dia berani mengatakan rumput lapangan JIS tak sesuai standar FIFA. Kata siapa? Menurut dia, kata Chairman PT Karya Rama Prima Qamal Mustaqim yang katanya ahli agronomi untuk stadion. Singkat cerita, rumput diganti dengan biaya Rp6 miliar. Belum lagi pembenahan di beberapa sektor lain. Proyek lagi.
Serahkan urusan kepada ahlinya. Erick memang Ketua Umum PSSI, orang bola, tapi apakah dia ahli dalam menentukan sesuai tidaknya stadion dengan standar FIFA? Kiranya tidak. Pak Basuki memang jago membangun infrastruktur, tapi apakah dia ahli soal rumput? Kiranya tidak. Qamal bisa jadi paham rerumputan, tapi apakah dia punya otoritas untuk memastikan rumput lapangan JIS tak sesuai FIFA? Rasanya juga tidak.
Hanya FIFA yang berkompeten, yang punya otoritas, menentukan status stadion. Jadi, kalau mau fair, datangkan saja FIFA, minta fatwa mereka. Jangan dulu ada pembenahan dengan rupa-rupa alasan, biarkan apa adanya, agar keputusan FIFA apa adanya pula. Kalau layak, teruskan dan disempurnakan. Kalau tak layak, benahi. Kalau tak cukup waktu, tinggalkan saja JIS. Gitu aja kok repot.
Piala Dunia U-17 paling perlu empat stadion, sementara masih ada lima stadion lagi yang sedianya untuk Piala Dunia U-20. Piala Dunia U-17 tak butuh stadion dengan kapasitas besar. Jangan bayangkan penontonnya seantusias Piala Dunia beneran. Bahkan, Piala Dunia U-20 yang akhirnya diselenggarakan di Argentina hanya disaksikan langsung 692.084 pasang mata atau 13.309 orang per pertandingan.
Harapan Mas Erick, Mas Menpora Dito Ariotedjo agar JIS tak dijadikan polemik politik patut diamini. Namun, bagi saya, langkah mereka buru-buru merenovasi JIS malah memperlebar ruang polemik. Bukankah renovasi dengan dalih subjektif bisa membuahkan stigma negatif buat Anies?
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.
POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita
SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved