Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Becermin dari India

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group
01/7/2023 05:00
Becermin dari India
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

PEKAN lalu, media foreignpolicy.com menurunkan sebuah artikel menggugah berjudul Will India Surpass China to Become the Next Superpower?. Graham Allison, guru besar bidang pemerintahan di Harvard Kennedy School, memotret bagaimana India punya potensi menyalip Tiongkok menjadi pemimpin ekonomi dunia.

Potensi itu ia apungkan ketika India mengambil alih posisi Tiongkok untuk menjadi negara terpadat di dunia, April lalu. Populasi India mencapai 1,428 miliar orang, atau 3 juta orang lebih banyak ketimbang penduduk Tiongkok yang mencapai 1,425 miliar orang.

Para pengamat pun bertanya-tanya, akankah New Delhi melampaui Beijing untuk menjadi negara adidaya global berikutnya? Tingkat kelahiran India hampir dua kali lipat dari Tiongkok. Selain itu, India telah melampaui Tiongkok dalam pertumbuhan ekonomi selama dua tahun terakhir (PDB India tumbuh 6,1% pada kuartal terakhir, sedangkan Tiongkok 4,5%).

Sekilas, statistik itu terlihat menjanjikan. Pertanyaan Allison kian relevan ketika Perdana Menteri India Narendra Modi bertemu dengan Presiden Amerika Serikat Joe Biden di Washington, pekan ini. Dari sudut pandang AS, jika India benar-benar dapat mengalahkan Tiongkok, itu akan menjadi 'sesuatu yang patut diteriakkan dengan gegap gempita'.

India adalah musuh alami Tiongkok. Semakin besar dan kuat pesaing Tiongkok di Asia, semakin besar prospek keseimbangan kekuatan yang menguntungkan Amerika Serikat. Namun, sebelum menghirup terlalu dalam narasi tentang India yang bangkit dengan cepat, tulis Allison, kita harus berhenti sejenak untuk merenungkan sejumlah fakta yang tidak menyenangkan.

Fakta itu di antaranya analisis yang salah tentang kebangkitan India di masa lalu. Pada 1990-an, para analis meneriakkan pertumbuhan populasi muda India yang akan mendorong liberalisasi ekonomi untuk menciptakan 'keajaiban ekonomi'.

Salah satu analis yang juga jurnalis Fareed Zakaria mencatat dalam kolomnya di Washington Post bahwa dia terjebak dalam gelombang kedua euforia ini pada 2006, ketika Forum Ekonomi Dunia di Davos menyatakan India sebagai 'demokrasi pasar bebas dengan pertumbuhan tercepat di dunia' dan Menteri Perdagangan India saat itu mengatakan ekonomi India akan segera melampaui Tiongkok. Faktanya, kendati ekonomi India tumbuh, Zakaria menunjukkan prediksi tersebut tidak menjadi kenyataan.

Salah satu persoalan krusial ialah perbedaan kualitas tenaga kerjanya. Tenaga kerja Tiongkok lebih produktif ketimbang India. Tiongkok secara 'ajaib' telah menghilangkan kemiskinan. Sebaliknya, India terus memiliki tingkat kemiskinan dan kekurangan gizi yang tinggi. Pada 1980, 90% dari 1 miliar warga Tiongkok memiliki pendapatan di bawah ambang batas kemiskinan versi Bank Dunia. Hari ini, angka kemiskinan itu mendekati nol.

Sebaliknya, lebih dari 10% dari 1,4 miliar penduduk India terus hidup di bawah garis kemiskinan ekstrem Bank Dunia. Sebanyak 16,3% populasi India juga kekurangan gizi pada 2019-2021, sedangkan Tiongkok kurang dari 2,5% populasi, menurut laporan United Nations State of Food Security and Nutrition in the World baru-baru ini. India juga memiliki salah satu tingkat kekurangan gizi anak terburuk di dunia.

Bapak pendiri dan pemimpin Singapura Lee Kuan Yew, yang sangat menghormati orang India, punya cerita. Lee yang bekerja dengan Perdana Menteri India berturut-turut, termasuk Jawaharlal Nehru dan Indira Gandhi, berharap dapat membantu mereka membuat India cukup kuat untuk menjadi pengawas serius di Tiongkok.

Tetapi, seperti yang dijelaskan Lee dalam serangkaian wawancara yang diterbitkan pada 2014, setahun sebelum kematiannya, ia menganalisis bahwa kombinasi dari sistem kasta yang mengakar di India yang merupakan musuh meritokrasi, juga birokrasi yang masif dan keengganan para elitenya untuk mengatasi klaim persaingan dari berbagai kelompok etnik dan agama, membuat India sulit menyerupai Tiongkok.

India pun terjebak menjadi negara berpendapatan menengah secara 'permanen'. Situasi seperti itu amat ditakuti negara-negara yang diprediksi menjadi negara maju dalam beberapa dekade mendatang, termasuk Indonesia.

Secara jumlah penduduk, India boleh saja melampaui Tiongkok, tapi secara ekonomi dan produksi masih terlampau berat. Banyak yang terus dan terus berharap India menjadi negara maju, tapi semakin ke sini semakin seperti fatamorgana.

Akankah kita, Indonesia, bernasib sama seperti India? Apalagi, berkali-kali Presiden dan sejumlah menteri kerap mengutip narasi bahwa dalam dua dekade ke depan Indonesia bakal menjadi negara maju. Di sisi lain, problem struktural kita yang mirip dengan India tidak pernah dibereskan secara tuntas.

Kita sering diberi harapan tinggi, tapi diam-diam dicekam ketakutan terkena jebakan sebagai negara berpendapatan menengah tanpa sanggup mengetahui dari mana titik jebakan itu bisa diurai. Atau, kita berada di dalam labirin yang terus berputar-putar tidak menemukan jalan keluar.



Berita Lainnya
  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.