Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Pengorbanan Negarawan

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group
28/6/2023 05:00
Pengorbanan Negarawan
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

SELEPAS zuhur (habis asar WIB) kemarin, sekitar 2,1 juta jemaah haji melakukan wukuf di Arafah, Arab Saudi. Wukuf di Arafah ialah penahbisan haji. Di tengah cuaca terik, di bawah suhu lebih dari 40 derajat celsius, para jemaah itu sedang mengkhidmati makna pengorbanan.

Mereka telah berkoban harta demi bisa berangkat ke Tanah Suci. Mereka menabung dari waktu ke waktu demi bisa mewujudkan niat mulia untuk berhaji. Mereka berkorban kesabaran untuk menunggu bertahun-tahun, bahkan banyak yang puluhan dan belasan tahun, untuk dapat menunaikan panggilan Tuhan itu.

Beberapa di antara jemaah itu para pejabat, calon pejabat, bahkan bakal calon presiden. Mereka para pemimpin publik. Kita bersyukur, banyak pemimpin kita menunaikan haji. Jika rumus bahwa berhaji sama dengan kesiapan melakukan pengorbanan, mestinya sepulang haji banyak pemimpin yang siap berkorban. Seperti garis lurus.

Saya jadi teringat artikel di jurnal Prisma nomor 8 edisi 1977. Di jurnal itu, Mohammad Roem menulis sebuah artikel berjudul 'Haji Agus Salim, Memimpin adalah Menderita'. Roem mengutip pepatah Belanda kuno leiden is lijden, itu untuk disematkan kepada negarawan yang sangat sederhana: Haji Agus Salim.

Agus Salim diplomat ulung dan disegani, tetapi sangat sederhana dan sangat terbatas dari sisi materi. Kendati tiga kali menjadi menteri luar negeri, ia tidak punya rumah hingga akhir hayat. Ia pun kerap mengutip pepatah Belanda 'memimpin ialah menderita' untuk 'membela diri' atas pilihan hidupnya.

Agus Salim sudah lima kali naik haji. Kesempatan itu ia dapat saat ia merantau di Arab Saudi. Sembari memperdalam ilmu agama, Agus Salim ikut terlibat menjadi pelayan para jemaah haji. Dari lima kali berhaji itu pulalah, Agus Salim amat mendalami pentingnya pengorbanan pemimpin.

Kehidupan Agus Salim jauh dari keadaan nyaman: kurang uang belanja untuk hidup, pindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain. Hal itu biasa bagi dia dan keluarganya. Ia pernah tinggal di rumah kontrakan di Tanah Tinggi yang jalannya berlumpur di musim hujan, atau menumpang di rumah seorang kawannya. Padahal, Sarekat Islam yang dia pimpin termasuk partai besar di zaman kolonial.

Namun, Salim tahu bagaimana menikmati hidup. Itu termasuk bagaimana tinggal di hunian yang jelek dan bocor ketika hujan. Saat hujan, Salim bersama anak-anaknya menampung air hujan dalam baskom yang kemudian digunakan untuk main kapal-kapalan. Begitulah caranya menghibur sekaligus mendidik anak-anaknya dalam kesederhanaan.

Mohamad Roem dan Kasman Singodimedjo muda (keduanya pentolan Partai Masjumi) pernah mengunjungi bedeng kontrakan Salim pada 1920-1930-an. Pengalaman itulah yang ditulis Roem di Prisma. Bagi mereka, Agus Salim ialah contoh pemimpin yang berani susah. Kasman, seperti diingat Roem, mengambil kesimpulan: “Jalan pemimpin bukan jalan yang mudah. Memimpin adalah jalan yang menderita."

Jika dicermati, ungkapan tersebut sangat sarat makna. Memimpin ialah amanah, bukan hadiah. Memimpin ialah sacrificing, berkorban, bukan demanding, menuntut. Memimpin ialah berkorban, bukan menuntut.

Diperlukan pengorbanan utama, yakni kerelaan meninggalkan zona nyaman. Bahkan, zona nyaman pemimpin ialah kerelaan berkorban. Bung Hatta tidak akan jadi tokoh besar jika hanya sibuk menghitung-hitung besar uang saku yang diterima dari Yayasan Van Deventer yang memberinya beasiswa.

Bung Hatta besar karena tidak menuntut. Ia menolak rupa-rupa fasilitas negara untuk keperluan pribadi dan keluarganya kendati ia seorang wakil presiden. Bung Hatta menolak 'hadiah' naik haji bersama keluarga dengan fasilitas negara. Bung Hatta pun berhaji dengan menggunakan uang dari kantong pribadi yang ditabungnya dari waktu ke waktu.

Dua sosok negarawan yang sudah berhaji dan memaknai haji hingga ke tulang sumsum itu kiranya layak menjadi teladan bangsa. Apalagi pada situasi saat ini, ketika kita mendapati banyak pemimpin di berbagai level lebih kerap menuntut ketimbang berkorban. Pemimpin minta dilayani, alih-alih melayani.

Haji Agus Salim dan Bung Hatta, juga sejumlah tokoh pemimpin pendiri Republik ini, menabalkan semangat bahwa memimpin ialah jalan yang menderita. Seperti bunyi pepatah kuno Belanda: leiden is lijden--memimpin adalah menderita.

Memimpin itu tidak memperturutkan keinginan karena, sebagaimana nukilan lirik lagu berjudul Seperti Matahari karya Iwan Fals, 'Keinginan adalah sumber penderitaan. Tempatnya di dalam pikiran'.



Berita Lainnya
  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.