Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Berani Jujur soal Kemiskinan

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group
13/5/2023 05:00
Berani Jujur soal Kemiskinan
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

RIUHNYA kembali perdebatan tentang batas orang miskin antara versi Bank Dunia dan versi Indonesia mestinya ditanggapi dengan tenang oleh pemerintah. Sikap yang terbaik ialah mengambil jalan tengah: pemerintah merevisi batas ukuran kemiskinan kendati belum bisa menyentuh ukuran versi terbaru Bank Dunia.

Saya sepenuhnya sepakat dengan ide Center of Economic and Law Studies (Celios) yang menilai standar ukuran garis kemiskinan yang digunakan pemerintah tergolong rendah. Akibatnya, banyak penduduk miskin tidak tercakup dalam program pemerintah seperti bantuan sosial. Bagi Celios, ukuran garis kemiskinan yang dipatok Bank Dunia lebih rasional.

Dalam peluncuran laporan Indonesia Poverty Assessment: Pathways Towards Economic Security, Bank Dunia menyarankan Indonesia mengubah ukuran garis kemiskinan dari standar US$1,9 per orang per hari menjadi US$3,2 per orang per hari. Bank Dunia pun merekomendasikan kepada pemerintah Indonesia supaya mengubah acuan tingkat garis kemiskinan yang diukur melalui paritas daya beli atau purchasing power parity itu. Ukuran yang dipakai Indonesia diberlakukan sejak 2011.

Respons pemerintah atas saran Bank Dunia itu sama dengan sebelum-sebelumnya, yakni menangkis. Kata Menteri Keuangan Sri Mulyani, ukuran garis kemiskinan yang disarankan Bank Dunia itu belum bisa menggambarkan kondisi perekonomian masyarakat Indonesia sesungguhnya.

Sri Mulyani menganggap, ukuran itu tidak bisa seketika digunakan di Tanah Air. Penyebabnya ialah setiap wilayah di Indonesia memiliki struktur harga yang berbeda antata satu dan lainnya sehingga, pengeluaran masyarakat untuk biaya hidup bisa berbeda antara satu wilayah dan wilayah lain.

"Saat Anda bepergian saat Ramadan, mudik Lebaran, seperti saya ke Semarang dan berkeliling menikmati restoran lokal, harganya sangat murah. Ini di Semarang, salah satu kota besar. Jika ke tempat yang lebih rendah, itu akan lebih murah," kata Sri Mulyani, tengah pekan ini.

Selain itu, jika ukuran garis kemiskinan dinaikkan, jumlah orang miskin di Indonesia bisa membengkak menjadi 40% dari populasi. Bisa sampai 110 juta orang. Ini soal 'citra bangsa'. Ini tentang citra politik pemerintah yang sudah 'berusaha keras' menekan angka kemiskina. Dengan ukuran kemiskinan yang dipakai saat ini, jumlah orang miskin Indonesia bisa 'ditekan' menjadi 9,57%.

Apa boleh buat, cara pandang terhadap kemiskinan masih condong ke menghindari 'citra buruk' ketimbang memberantasnya. Dengan standar sekarang, potensi untuk merealisasikan janji menghapuskan kemiskinan ekstrem 0% pada 2024 masih bisa ditunaikan walau berat. Kalau standar dinaikkan, citra politik pemerintah bisa runtuh, bahkan bisa dianggap gagal merealisasikan janji pengentasan masyarakat dari kemiskinan.

Padahal, jika pemerintah mau berkompromi dengan saran Bank Dunia soal ukuran kemiskinan, upaya untuk mengatasi kemiskinan bakal lebih jelas. Apalagi, kondisi saat ini, jangankan menuju kemiskinan ekstrem nol persen pada 2024, untuk mencegah tidak terjadi penambahan penduduk miskin pascapandemi saja cukup berat.

Perhitungan ukuran garis kemiskinan yang dilakukan Bank Dunia kiranya bisa mengubah cara pandang pemerintah Indonesia terkait penyebaran bantuan sosial. Kita mesti jujur mebgakui jumlah penduduk miskin bukan sekadar 26 juta, melainkan jauh lebih banyak. Saat ini, jumlah kelas menengah rentan di Indonesia ada 115 juta orang. Mereka rentan menjadi orang miskin baru bila ada gejolak ekonomi.

 

Dengan berkompromi terhadap saran Bank Dunia, jumlah distribusi bantuan sosial memang bakal membengkak. Lalu ada pertimbangan apakah anggaran pemerintah dengan bantuan sosial di dalamnya saat ini mampu menopang jika garis kemiskinan berubah? Seharusnya bisa, tapi harus menggeser banyak anggaran lain yang belum prioritas.

Saya setuju kita butuh ikon, prasasti, penanda, simbol, atau apa pun penamaannya untuk ditunjukkan kepada dunia bahwa kita negara yang segera mendekap kemajuan, tapi tidak dengan meninggalkan orang miskin dan rentan miskin. Pemindahan ibu kota baik, tapi apakah ia tidak bisa dikompromikan waktunya?

Pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung juga baik. Apalagi, negeri ini hendak menuju negara maju. Tidak pantas rasanya bila tidak punya kereta cepat. Namun, apakah itu prioritas mendesak? Ditambah lagi, biaya pembangunan kereta cepat membengkak Rp18 triliun, yang separuh di antaranya mesti ditanggung negara.

Yang dibutuhkan ialah kejujuran bahwa sebenarnya jumlah orang miskin masih sangat banyak. Yang paling penting pemerintah sanggup mengalokasikan bantuan sosial lebih besar. Dengan mengakui jumlah orang miskin di Indonesia sangat banyak, kebijakan lintas sektoral untuk menekan angka kemiskinan secepat mungkin bisa terlaksana.

Ada pesan menohok dari ekonom Amartya Sen. Sen mengatakan negara harus paham bahwa kapabilitas untuk menjalankan fungsi-fungsi dalam kehidupan seharusnya juga dijadikan kriteria untuk menilai standar hidup dan menentukan batasan kemiskinan. Tanggalkan pencitraan, hapuskan gengsi, segera perbaiki cara-cara mengatasi kemiskinan.



Berita Lainnya
  • Mudarat Paling Kecil

    27/1/2026 05:00

    RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.

  • Pengawas Mati, Korupsi Tumbuh

    26/1/2026 05:00

    KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.

  • Rupiah Vs IHSG

    23/1/2026 05:00

    ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.

  • OTT Tepat Waktu

    22/1/2026 05:00

    BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.

  • Pesta Elite, Nestapa Rakyat

    21/1/2026 05:00

    REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk. 

  • Vietnam Melaju Kencang

    20/1/2026 05:00

    KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.

  • Suara Profesor 15 Januari

    19/1/2026 05:00

    SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.

  • Setan pun Minder

    15/1/2026 05:00

    INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.

  • Regenerasi Koruptor

    14/1/2026 05:00

    Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.

  • Angka Tiga

    13/1/2026 05:00

    PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).

  • Burung Diadili, Bencana Dibiarkan

    12/1/2026 05:00

    PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah

  • Kutukan Ekonomi Ekstraktif

    09/1/2026 05:00

    VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai

  • Maduro dan Silfester

    08/1/2026 05:00

    APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.

  • Negara Bahagia

    07/1/2026 05:00

    INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.

  • Angka Lima

    06/1/2026 05:00

    ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.

  • Demokrasi Donat Pilkada tanpa Rakyat

    05/1/2026 05:00

    SEPERTI kue donat yang berlubang di tengah. Begitulah demokrasi negeri ini akan tampak jika pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota dikembalikan kepada DPRD.