Headline
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Kumpulan Berita DPR RI
BERAGAMALAH secara rileks. Bertuhanlah dengan riang, penuh sukacita. Jangan beragama secara tegang, berkerut, mudah mengafirkan yang berbeda karena Tuhan maha pengampun.
Sudah puluhan kali pesan itu digaungkan oleh sejumlah ulama dan ahli agama. Dasar utama pesan itu juga amat benderang: setiap agama meyakini Tuhan maha pengasih, maha penyayang, dan maha 'memaklumi' keterbatasan hamba-Nya.
Kendati begitu, masih ada sekelompok orang yang 'mengambil alih' porsi Tuhan, atau setidaknya mengatasnamakan perintah Tuhan, sambil meneror dan menyerang orang lain. Dalihnya macam-macam, tapi umumnya karena ada perbedaan atas interpretasi pemahaman keagamaan.
Kasus terakhir ialah teror penembakan di kantor pusat Majelis Ulama Indonesia. Seseorang yang mengaku nabi, bahkan terakhir meningkatkan klaimnya dengan mengaku sebagai Tuhan, memberondong Kantor MUI dengan tembakan, Selasa (2/5), kemarin.
Sebelum mengeklaim diri sebagai Tuhan, pelaku mengaku sebagai nabi dan sudah dua kali datang ke kantor MUI di Jakarta. Ia akhirnya datang kali ketiga dan melakukan aksi penembakan. Saat beraksi melakukan penembakan di kantor MUI, pria asal Lampung itu tak lagi mengaku nabi, tetapi mengaku sebagai Tuhan.
Dua pekan sebelumnya, seorang peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Andi Pangerang, mengancam siap membunuh satu per satu warga Muhammadiyah. Pangkal permasalahannya karena perbedaan penentuan Hari Raya Idul Fitri 1444 Hijriah. Sang pengancam emosional karena warga Muhammadiyah 'ngeyel' berlebaran lebih dulu daripada yang ditetapkan Kementerian Agama.
Itulah komplikasi dan risiko saat orang beragama secara tegang, zakelijk (saklek), tekstual, skriptualis, sebagaimana kerap dikritik oleh sejumlah tokoh agama. Beragama menjadi kering. Agama seperti kehilangan spiritualitas. Kata seorang teman, "Tuhan dihadirkan dengan sangat menyeramkan."
Karena cara beragama yang kaku itulah, dalam beberapa tahun belakangan muncul dugaan tren peningkatan orang meninggalkan agama. Bukan agamanya yang salah, melainkan tafsir yang melahirkan ekspresi keagamaan jadi musababnya. Ada beberapa survei yang memaparkan fakta demikian.
Pada 2019, dalam survei BBC International menunjukkan terjadi peningkatan persentase penduduk yang tidak beragama, dari awalnya hanya 8% pada 2013 menjadi 13% pada 2019. Beberapa lembaga juga pernah melakukan jajak pendapat dalam tingkat regional. Di Iran, dalam risetIranian's Attitudes Toward Religion (2020) terungkap bahwa 47% dari 40 ribu responden mengaku telah beralih dari beragama menjadi ateis.
Di Turki, setali tiga uang. Ada peningkatan jumlah ateis dalam kurun 10 tahun terakhir. Dalam laporan lembaga survei Konda pada 2019, ditemukan jumlah orang Turki yang mengaku menganut Islam telah turun dari 55% menjadi 51%. Penurunan ini bukan beralih ke agama lain, tetapi menjadi ateis.
Adapun di Mesir, mengutip Deutsche Welle, Universitas Al-Azhar Kairo pada 2014 juga melakukan survei tentang topik serupa. Hasilnya menunjukkan bahwa 10,7 juta dari 87 juta penduduk Mesir mengaku menjadi ateis. Angka itu mencapai 12,3% dari total populasi Mesir. Hal sama juga terjadi di Arab Saudi. Dengan mengutip laporan Saudi Arabia 2021 International Religious Freedom Report (2021), tercatat ada 224 ribu yang memilih tidak beragama, baik ateis maupun agnostik.
Hannah Wallace dalam artikel Men without God: The Rise of Atheism in Saudi Arabia (2020) menjelaskan tren itu tidak terlepas dari sikap politik pemerintah yang menggunakan agama. Penduduk yang kritis menolak dan menganggap sikap seperti itu sebagai politisasi.
Kasus di Arab Saudi juga terjadi di Turki. Kepemimpinan Erdogan diklaim menggeser konsep beragama yang longgar menjadi amat ketat membuat sebagian penduduk mulai tidak nyaman.
Tamer Fouad, koresponden hubungan internasional Guardian berpendapat meningkatnya orang meninggalkan agama akibat adanya pandangan negatif terhadap agama karena pemberitaan buruk. Mulai penghancuran masjid, pembakaran gereja, hingga aksi kekerasan lain atas nama agama.
Survei-survei di atas kiranya menjadi genderang peringatan keras, khususnya bagi para tokoh agama, untuk terus menyebarluaskan dan menghadirkan cara beragama yang sejuk. Ajakan agar kita bertuhan secara riang, rileks, penuh toleransi tidak boleh senyap dalam pesan-pesan komunikasi keagamaan.
Menyeru bahwa perbedaan pendapat dalam keyakinan keagamaan ialah rahmat, bukan laknat, mesti meninggalkan jejak yang pasti di kalangan umat. Biar tidak ada lagi ancaman pembunuhan karena perbedaan, apalagi penembakan karena klaim berlebihan sebagai nabi, bahkan Tuhan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.
POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita
SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved