Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Rileks dalam Beragama

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group
03/5/2023 05:00
Rileks dalam Beragama
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

BERAGAMALAH secara rileks. Bertuhanlah dengan riang, penuh sukacita. Jangan beragama secara tegang, berkerut, mudah mengafirkan yang berbeda karena Tuhan maha pengampun.

Sudah puluhan kali pesan itu digaungkan oleh sejumlah ulama dan ahli agama. Dasar utama pesan itu juga amat benderang: setiap agama meyakini Tuhan maha pengasih, maha penyayang, dan maha 'memaklumi' keterbatasan hamba-Nya.

Kendati begitu, masih ada sekelompok orang yang 'mengambil alih' porsi Tuhan, atau setidaknya mengatasnamakan perintah Tuhan, sambil meneror dan menyerang orang lain. Dalihnya macam-macam, tapi umumnya karena ada perbedaan atas interpretasi pemahaman keagamaan.

Kasus terakhir ialah teror penembakan di kantor pusat Majelis Ulama Indonesia. Seseorang yang mengaku nabi, bahkan terakhir meningkatkan klaimnya dengan mengaku sebagai Tuhan, memberondong Kantor MUI dengan tembakan, Selasa (2/5), kemarin.

Sebelum mengeklaim diri sebagai Tuhan, pelaku mengaku sebagai nabi dan sudah dua kali datang ke kantor MUI di Jakarta. Ia akhirnya datang kali ketiga dan melakukan aksi penembakan. Saat beraksi melakukan penembakan di kantor MUI, pria asal Lampung itu tak lagi mengaku nabi, tetapi mengaku sebagai Tuhan.

Dua pekan sebelumnya, seorang peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Andi Pangerang, mengancam siap membunuh satu per satu warga Muhammadiyah. Pangkal permasalahannya karena perbedaan penentuan Hari Raya Idul Fitri 1444 Hijriah. Sang pengancam emosional karena warga Muhammadiyah 'ngeyel' berlebaran lebih dulu daripada yang ditetapkan Kementerian Agama.

Itulah komplikasi dan risiko saat orang beragama secara tegang,  zakelijk (saklek), tekstual, skriptualis, sebagaimana kerap dikritik oleh sejumlah tokoh agama. Beragama menjadi kering. Agama seperti kehilangan spiritualitas. Kata seorang teman, "Tuhan dihadirkan dengan sangat menyeramkan."

Karena cara beragama yang kaku itulah, dalam beberapa tahun belakangan muncul dugaan tren peningkatan orang meninggalkan agama. Bukan agamanya yang salah, melainkan tafsir yang melahirkan ekspresi keagamaan jadi musababnya. Ada beberapa survei yang memaparkan fakta demikian.

Pada 2019, dalam survei BBC International menunjukkan terjadi peningkatan persentase penduduk yang tidak beragama, dari awalnya hanya 8% pada 2013 menjadi 13% pada 2019. Beberapa lembaga juga pernah melakukan jajak pendapat dalam tingkat regional. Di Iran, dalam risetIranian's Attitudes Toward Religion (2020) terungkap bahwa 47% dari 40 ribu responden mengaku telah beralih dari beragama menjadi ateis.

Di Turki, setali tiga uang. Ada peningkatan jumlah ateis dalam kurun 10 tahun terakhir. Dalam laporan lembaga survei Konda pada 2019, ditemukan jumlah orang Turki yang mengaku menganut Islam telah turun dari 55% menjadi 51%. Penurunan ini bukan beralih ke agama lain, tetapi menjadi ateis.

Adapun di Mesir, mengutip Deutsche Welle, Universitas Al-Azhar Kairo pada 2014 juga melakukan survei tentang topik serupa. Hasilnya menunjukkan bahwa 10,7 juta dari 87 juta penduduk Mesir mengaku menjadi ateis. Angka itu mencapai 12,3% dari total populasi Mesir. Hal sama juga terjadi di Arab Saudi. Dengan mengutip laporan Saudi Arabia 2021 International Religious Freedom Report (2021), tercatat ada 224 ribu yang memilih tidak beragama, baik ateis maupun agnostik.

Hannah Wallace dalam artikel Men without God: The Rise of Atheism in Saudi Arabia (2020) menjelaskan tren itu tidak terlepas dari sikap politik pemerintah yang menggunakan agama. Penduduk yang kritis menolak dan menganggap sikap seperti itu sebagai politisasi.

Kasus di Arab Saudi juga terjadi di Turki. Kepemimpinan Erdogan diklaim menggeser konsep beragama yang longgar menjadi amat ketat membuat sebagian penduduk mulai tidak nyaman.

Tamer Fouad, koresponden hubungan internasional Guardian berpendapat meningkatnya orang meninggalkan agama akibat adanya pandangan negatif terhadap agama karena pemberitaan buruk. Mulai penghancuran masjid, pembakaran gereja, hingga aksi kekerasan lain atas nama agama.

Survei-survei di atas kiranya menjadi genderang peringatan keras, khususnya bagi para tokoh agama, untuk terus menyebarluaskan dan menghadirkan cara beragama yang sejuk. Ajakan agar kita bertuhan secara riang, rileks, penuh toleransi tidak boleh senyap dalam pesan-pesan komunikasi keagamaan.

Menyeru bahwa perbedaan pendapat dalam keyakinan keagamaan ialah rahmat, bukan laknat, mesti meninggalkan jejak yang pasti di kalangan umat. Biar tidak ada lagi ancaman pembunuhan karena perbedaan, apalagi penembakan karena klaim berlebihan sebagai nabi, bahkan Tuhan.



Berita Lainnya
  • Mudarat Paling Kecil

    27/1/2026 05:00

    RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.

  • Pengawas Mati, Korupsi Tumbuh

    26/1/2026 05:00

    KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.

  • Rupiah Vs IHSG

    23/1/2026 05:00

    ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.

  • OTT Tepat Waktu

    22/1/2026 05:00

    BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.

  • Pesta Elite, Nestapa Rakyat

    21/1/2026 05:00

    REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk. 

  • Vietnam Melaju Kencang

    20/1/2026 05:00

    KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.

  • Suara Profesor 15 Januari

    19/1/2026 05:00

    SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.

  • Setan pun Minder

    15/1/2026 05:00

    INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.

  • Regenerasi Koruptor

    14/1/2026 05:00

    Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.

  • Angka Tiga

    13/1/2026 05:00

    PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).

  • Burung Diadili, Bencana Dibiarkan

    12/1/2026 05:00

    PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah

  • Kutukan Ekonomi Ekstraktif

    09/1/2026 05:00

    VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai

  • Maduro dan Silfester

    08/1/2026 05:00

    APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.

  • Negara Bahagia

    07/1/2026 05:00

    INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.

  • Angka Lima

    06/1/2026 05:00

    ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.

  • Demokrasi Donat Pilkada tanpa Rakyat

    05/1/2026 05:00

    SEPERTI kue donat yang berlubang di tengah. Begitulah demokrasi negeri ini akan tampak jika pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota dikembalikan kepada DPRD.