Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Demokrasi tanpa Kontestasi?

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group
29/4/2023 05:00
Demokrasi tanpa Kontestasi?
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

PEKAN lalu saya bertemu dengan kawan lama, seorang dosen. Ia tengah galau. Pangkal soal kegalauannya ialah arah demokrasi kita yang, menurut dia, kian tidak menentu. Ia membahasakannya: demokrasi kita 'dibajak' elitenya elite.

Dengan menggebu-gebu ia mengisahkan bagaimana elitenya elite itu mendiktekan capres-cawapres Pilpres 2024 sesuai kehendaknya. Ia juga bercuriga elitenya elite itu berusaha menggagalkan laju capres tertentu yang dianggap bisa membahayakan kelangsungan pemerintahan saat ini.

Maka, bagi sang teman, perhelatan demokrasi kita tahun depan terancam tanpa kontestasi. "Saya risau, para pemilih kita tidak punya pilihan alternatif. Kalau caranya begini, bisa-bisa kita hanya seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Dipaksa manut saja," sang teman memaparkan.

"Loh, bukannya sejumlah indikasi telah mengarah kepada munculnya sejumlah calon? Bukan calon tunggal?" Saya menyergahnya.

Ia menjawab bahwa sebagian calon yang ada sudah 'disediakan' oleh elitenya elite tadi. Di sisi lain, jalan calon alternatif dibikin sempit, terjal, licin, berbatu, dan seterusnya yang mengarah kepada penjegalan. Jika kondisi seperti itu terus berlangsung hingga hari H nanti, tegas sang teman, sama saja demokrasi kita tanpa kontestasi.

Padahal, ia meneruskan, demokrasi pada hakikatnya ialah menempatkan kedaulatan rakyat pada posisi tertinggi di pemerintahan. Hingga saat ini, demokrasi masih dianggap sebagai sebuah sistem politik yang terbaik di beberapa negara.

Sebagai bentuk dari sistem politik, demokrasi mensyaratkan adanya keterlibatan masyarakat dalam memilih calon pemimpin yang sedang bersaing memperebutkan jabatan publik di suatu pemerintahan sehingga dapat disimpulkan terdapat dua unsur penting dalam penerapan pemilihan umum, yaitu adanya unsur partisipasi masyarakat dan kontestasi dari para calon peserta pemilihan.

"Secara normatif, ketiadaan kontestasi dalam sebuah pemilihan (uncontested election) mencederai roh sebuah demokrasi. Sejatinya, rakyat diberikan hak dan kesempatan yang sama dalam memilih berbagai pilihan alternatif," sang teman yang dosen itu memberondong saya dengan penjelasan.

Ketiadaan kontestasi dalam pemilihan, ia melanjutkan, merupakan sebuah kebuntuan demokrasi yang perlu didobrak. Jangan sampai, jelasnya, demokrasi kita mengarah ke situasi post-democracy (istilah yang dipopulerkan oleh Colin Crouch, seorang sosiolog Inggris yang juga pengamat demokrasi).

Post-democracy memiliki kecenderungan di antaranya ialah kondisi ketika keterlibatan masyarakat dalam dunia politik bersifat terbatas atau artifisial saja. Hampir semua aspek kehidupan politik ditentukan oleh elite, khususnya elitenya elite (creme a la creme). Dalam situasi tersebut, visi dan gerak politik lebih ditentukan oleh saran-saran political advisor yang berorientasi mengakomodasi kepentingan elite dan oligarki ketimbang kepentingan riil masyarakat akar rumput.

Dalam post-democracy, terdapat kecenderungan menggunakan cara-cara populisme dan artifisial (post-truth) dalam berpolitik. Hal ini terjadi karena pada kondisi post-democracy, pertarungan ide tidak diperlukan. Yang terpenting ialah bagaimana membangun pencitraan dan memenangi emosi pemilih dengan janji-janji politik yang menggiurkan. Berkembang sebuah kontestasi seputar meningkatkan citra diri dan menjatuhkan kelompok lawan, yang akhirnya berujung pada pembodohan dan penurunan kualitas demokrasi.

"Saya takut, kegalauan saya ini juga menggelayuti pikiran banyak orang. Bisa-bisa muncul gejala people ignorance. Dalam banyak momen politik, antusiasme berpolitik masyarakat akan menurun," tanpa henti sang teman nyerocos dengan aura pesimisme yang, menurut saya, kelewat batas.

Selama tiga jam, saya menjadi pendengar setia. Kopi hitam sudah berkali-kali kami seruput, hampir menyisakan cekakik (ampas kopi). Gerah juga mendengarkan orang berbicara pesimistis sepanjang pertemuan.

Dengan kalimat singkat, saya menyela, "Politik kita itu dinamis. Kerap zigzag dan penuh kejutan. Jangan melihat politik kita linear seperti rel kereta api. Politik kita kerap seperti hujan sehari yang menghapus panas setahun. Jadi, ojo nggumunan, ojo kagetan (jangan cepat takjub, jangan mudah terkejut)."



Berita Lainnya
  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.