Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Ruang Kritik

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group
25/3/2023 05:00
Ruang Kritik
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

BANYAK orang mulai merasakan ruang kritik yang kian sumpek. Meskipun alam demokrasi semakin terbuka, tidak sedikit pejabat bersikap resisten terhadap kritik. Padahal, kritik dalam demokrasi merupakan manifestasi daulat rakyat.

Sesungguhnya, rakyatlah yang memberi kuasa kepada pemerintah. Seyogianya bila pemerintah, dalam berbagai tingkatan dan institusi, tidak tipis kuping terhadap kritik. Sekeras dan selantang apa pun kritik itu mestinya para pemimpin mesti berlapang dada. Tidak boleh ciut hati.

Maka, wajar belaka bila banyak yang kecewa saat ada kepala daerah baper ketika disapa dengan sebutan maneh atau 'kamu'. Sang kepala daerah mempersoalkan sapaan, bukan substansi kritik yang disampaikan. Ia baper. Terlalu sensitif.

Menyaksikan Muhammad Sabil Fadhillah, guru honorer di Cirebon, dipecat oleh yayasan tempat ia mengajar gara-gara mengkritik Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil di Instagram, hati ini menjadi kecut. Sabil secara terbuka mengomentari unggahan video Ridwan Kamil saat pemberian hadiah kepada anak SMP yang patungan untuk membelikan sepatu bagi temannya.

Dalam komentarnya, Sabil menyoal jas warna kuning yang dikenakan Ridwan Kamil. Warna jas itu dinilai identik dengan warna Partai Golkar, tempat Ridwan Kamil menjadi pengurus di partai tersebut. Sabil lantas bertanya, dalam acara tersebut Ridwan Kamil berposisi sebagai Gubernur Jabar, kader Golkar, ataukah sebagai pribadi.

Dalam unggahan Instagram-nya, pria yang akrab disapa Kang Emil tersebut mengunggah video saat sedang melakukan zoom bersama siswa-siswi SMPN 3 Kota Tasikmalaya. Kemudian Sabil berkomentar dalam unggahan Ridwan Kamil.

“Dalam zoom ini, maneh teh keur jadi Gubernur Jabar ato kader partai ato peribadi @ridwankamil?" tulis @sabilfadhillah, yang dalam bahasa Indonesia bisa diartikan ia bertanya dalam zoom tersebut Ridwan Kamil menjadi gubernur atau kader partai atau pribadi.

Sontak, komentar Sabil langsung dibalas oleh Ridwan Kamil. "@sabilfadhillah ceuk maneh kumaha (menurut kamu gimana)?”

Selain memberi balasan, Ridwan Kamil juga memberikan pin pada komentar Sabil tersebut sehingga komentar tersebut berada di posisi teratas kolom komentar. Oleh sebagian warganet, komentar Sabil dinilai tak pantas karena menggunakan kata maneh yang dianggap tidak sopan.

Bersamaan dengan itu, beredar pula tangkapan layar yang memperlihatkan Emil mengirimkan bukti komentar dari Sabil melalui Direct Message (DM) Instagram ke akun SMK Telkom Sekar Kemuning, sekolah tempat Sabil mengajar. Tangkapan layar itu diunggah oleh akun Twitter @zanatul_91.

"Tidak pantas seorang guru seperti itu," tulis Emil setelah mengirim bukti komentar itu.

Pihak sekolah pun merespons dengan permohonan maaf atas nama institusi dan menyebut akan menindak Sabil secara tegas dan terukur. “Hatur nuhun. Sekolahnya jadi kebawa-bawa oleh netizen," balas Emil.

Hingga pada akhirnya, setelah berkomentar seperti itu, Sabil dipecat dari sekolah tempatnya mengajar. Jagat maya pun riuh. Pihak sekolah lalu menganulir keputusan pemecatan tersebut begitu kegaduhan mencapai titik didihnya. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Sabil menolak kembali. Ia memilih tetap di luar. Ia merasa tidak ada yang salah dari sikap kritisnya.

Saya menjadi ingat pernyataan seorang Indonesianist, William Liddle, dalam ceramahnya di Jakarta, empat tahun lalu. Liddle menyebut empat ancaman demokrasi dengan tindak pidana korupsi sebagai bahaya paling mengerikan bagi demokrasi. Namun, Liddle sepertinya luput memasukkan 'pembonsaian' kebebasan berpendapat sebagai ancaman yang tidak kalah berbahayanya bagi demokrasi kita.

Saat ruang kritik kian sempit, orang mulai bertanya ke mana keterbukaan pergi? Masih di jalur yang tepatkah demokrasi? Orang-orang mulai bercakap, "Kita ingin tempat di mana percakapan warga tidak dicurigai. Kita ingin tumbuh di tempat di mana akal sehat menjadi tuntunan."

Ada banyak cara kekuasaan mengepung pikiran kita. Namun, pikiran selalu bisa lolos. Apalagi, kalau yang terbentuk ialah kumpulan pikiran, bukan sekadar kumpulan orang. Demokrasi akan tetap mekar bila lalu-lalang yang terbentuk ialah lalu-lalang pikiran, bukan sekadar lalu-lalang tubuh.

Sabil ialah bagian kecil dari lalu-lalang pikiran itu. Ia membuka ruang kritis. Bila banyak Sabil lainnya, ruang kritis akan meluas kembali. Demokrasi berkecambah lagi. Akal sehat menjadi penuntun lagi.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.