Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

(Jangan) Berharap Banyak pada Erick

Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group
17/2/2023 05:00
(Jangan) Berharap Banyak pada Erick
Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

KETIKA Azwar Anas mundur dan menyerahkan kursi Ketua Umum PSSI kepada Agum Gumelar pada 1999, harapan publik, termasuk saya, bahwa sepak bola nasional akan kembali berprestasi membubung tinggi. Agum diyakini sosok paling pas saat itu untuk membenahi sepak bola di Tanah Air.

Agum ialah perwira tinggi TNI bintang tiga. Dia dikenal gila bola dan sangat peduli pada sepak bola. Namun, fakta berbicara, selama empat tahun memimpin PSSI, tak ada prestasi puncak yang dipersembahkan.

Ketika Nurdin Halid menggantikan Agum pada 2003, harapan publik, termasuk saya, bahwa sepak bola nasional akan unjuk gigi pun meroket. Nurdin ialah pengusaha dan politikus penggila bola. Dia lama mengurus klub-klub besar. Dia juga organisatoris yang mumpuni. Namun, selama tujuh tahun menjadi Ketua Umum PSSI, Nurdin gagal mengembalikan kejayaan sepak bola Indonesia.

Harapan demi harapan itu terus mengemuka acap kali Ketua Umum PSSI bersulih nama. Asa demi asa dititipkan di pundak Djohar Arifin Husin (2011-2015), La Nyalla Mattalitti (2015-2016), Edy Rahmayadi (2016-Januari 2019), hingga Mochamad Iriawan (2019-2023).

Namun, tak satu pun di antara mereka bisa mengakhiri paceklik prestasi. Timnas kita tetap saja nirgelar sejak terakhir kali menyabet medali emas di SEA Games 1991 tatkala PSSI dipimpin Kardono.

Kini, harapan lama itu disandarkan kepada Erick Thohir, yang kemarin terpilih sebagai Ketua Umum PSSI periode 2023-2027. Erick menang telak dalam Kongres Luar Biasa PSSI di Hotel Shangri-La, Jakarta. Dari total 86 voter, Erick yang juga menteri BUMN itu meraup 64 suara, unggul jauh atas rivalnya, Ketua DPD RI La Nyalla Mattalitti, yang meraih 22 suara. Dia pun tercatat sebagai ketua umum ke-20 sejak PSSI didirikan pada 1930.

Erick kaya pengalaman di dunia olahraga. Dia menjadi Ketua Umum PP Perbasi 2004-2006 serta Presiden Asosiasi Bola Basket Asia Tenggara selama tiga periode. Di sepak bola, Erick pernah membeli raksasa Italia, Inter Milan, dan klub AS, DC United. Dia kini pemegang mayoritas saham klub Inggris, Oxford United, dan bersama putra Jokowi, Kaesang Pangarep, menjadi pemilik Persis Solo.

Dengan pengalaman seperti itu, wajar jika ada yang menganggap Erick tumpuan harapan baru. Pertanyaannya, akankah harapan akan kembali berakhir dengan kekecewaan seperti yang dulu-dulu?

Saya tidak ingin bicara soal janji dan program Erick. Janji-janji itu, program-program itu, bukan hal baru. Membenahi kompetisi, pembinaan usia dini, memperbaiki wasit, membangun training camp timnas, dan seterusnya juga menjadi jualan ketua-ketua umum sebelumnya. Pun, membersihkan persepakbolaan nasional dari tangan-tangan kotor, dari cengkeraman mafia, ialah cerita lama.

Kata Erick, membenahi sepak bola butuh nyali. Itu bagus. Namun, kurang bernyali apa Agum, Edy Rahmayadi, Iwan Bule? Ketiganya ialah para jenderal yang kalau bicara keberanian boleh dikata selangkah di depan.

Sebagai organisasi olahraga, PSSI lain daripada yang lain. Ia miskin prestasi, tetapi begitu seksi karena uang yang berputar di dalamnya luar biasa besar.

Begitu banyak petualang yang mengincar cuan tanpa peduli apakah sepak bola berprestasi, sekarat, atau mati suri. Petualang yang berwatak rumongso iso, bukan iso rumongso. Mereka tetap ingin bercokol di PSSI meski sudah terbukti gagal total. PSSI juga lapangan ideal untuk memupuk popularitas demi politik dan kekuasaan.

Oleh karena itu, butuh figur yang betul-betul kuat luar dalam untuk menyelamatkan PSSI dari penguasaan orang-orang jahat. Apakah orang itu Erick Thohir? Tentu, tidaklah fair jika kita menegasikan komitmen dan kapasitasnya.

Erick belum bekerja, belum unjuk kemampuan. Namun, bagi saya, tak perlu pula kita terlalu berharap kepadanya. Kata petuah; jangan percaya terlalu banyak, jangan mencintai terlalu banyak, jangan berharap terlalu banyak, sebab terlalu banyak akan melukai begitu banyak pula.

Sudah teramat kerap publik sepak bola berharap kepada Ketua Umum PSSI, tapi sekerap itu juga kekecewaan yang didapat. ''Harapan ialah akar dari semua rasa sakit di hati,'' begitu William Shakespeare bilang.

Karena itu, daripada kecewa lagi, ketimbang sakit hati lagi, lebih baik harapan kita kepada Erick sewajarnya saja. Jangan euforia. Persis dengan lagu yang dipopulerkan Vetty Vera; Sedang-Sedang Saja.

Biarkan Erick memenuhi janji-janjinya, membuktikan nyalinya. Soal apakah nanti dia bisa membuat bangsa ini akhirnya tertawa atau sebaliknya, lagi-lagi bermuram durja, biar waktu yang berbicara.



Berita Lainnya
  • Noel agak Laen

    28/1/2026 05:00

    IMANUEL 'Noel' Ebenezer memang bukan sembarang terdakwa korupsi.

  • Mudarat Paling Kecil

    27/1/2026 05:00

    RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.

  • Pengawas Mati, Korupsi Tumbuh

    26/1/2026 05:00

    KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.

  • Rupiah Vs IHSG

    23/1/2026 05:00

    ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.

  • OTT Tepat Waktu

    22/1/2026 05:00

    BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.

  • Pesta Elite, Nestapa Rakyat

    21/1/2026 05:00

    REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk. 

  • Vietnam Melaju Kencang

    20/1/2026 05:00

    KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.

  • Suara Profesor 15 Januari

    19/1/2026 05:00

    SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.

  • Setan pun Minder

    15/1/2026 05:00

    INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.

  • Regenerasi Koruptor

    14/1/2026 05:00

    Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.

  • Angka Tiga

    13/1/2026 05:00

    PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).

  • Burung Diadili, Bencana Dibiarkan

    12/1/2026 05:00

    PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah

  • Kutukan Ekonomi Ekstraktif

    09/1/2026 05:00

    VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai

  • Maduro dan Silfester

    08/1/2026 05:00

    APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.

  • Negara Bahagia

    07/1/2026 05:00

    INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.

  • Angka Lima

    06/1/2026 05:00

    ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.