Headline
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Kumpulan Berita DPR RI
ANIES Baswedan sedang diterpa dua persoalan. Pertama, kredibilitasnya digoyang terkait dengan utang kala berkompetisi di Pilkada DKI Jakarta 2017. Kedua, kesetiaannya pada janji dipertanyakan menyangkut deal politik dengan Prabowo Subianto.
Erwin Aksa-lah yang awalnya mengungkap utang Anies. Dalam sebuah podcast, dia menyebut ada perjanjian utang piutang antara Anies dan Sandiaga Uno ketika keduanya berpasangan di Pilkada DKI.
Erwin yang kini menjabat Wakil Ketua Umum Partai Golkar ialah pendukung Anies-Sandi saat itu. Menurutnya, agar logistik lancar, Sandi yang punya duit memberikan pinjaman kepada Anies. Jumlahnya terbilang besar, mencapai Rp50 miliar. Apakah utang piutang itu sudah dilunasi? Erwin bilang, barangkali belum.
Benarkah Anies pernah berutang Rp50 miliar seperti kata Erwin? Sandi mengamini. Apakah Anies sudah membayar utangnya? Sandi tak memberikan jawaban pasti. Dia kemudian bahkan memilih untuk tidak memperpanjang masalah itu lagi. Dia mengaku telah salat Istikharah, telah berkonsultasi dengan keluarga.
Sebagai pihak yang memulai, semestinya Erwin dan Sandi yang mengakhiri. Namun, keduanya bersikap setengah hati. Keduanya enggan menuntaskan cerita nan sensitif itu. Keduanya seirama bahwa Anies pernah berutang, juga senada untuk tak memberikan kepastian apakah Anies sudah melunasi kewajibannya.
Erwin dan Sandi memilih meninggalkan tanda tanya di ruang publik. Keduanya memilih menyisakan kecurigaan yang memercikkan stigma ke wajah Anies. Perhatikan saja, bak mendapatkan amunisi baru, buzzer-buzzer pembenci Anies, lawan-lawan politik Anies, langsung menyerang Anies habis-habisan.
Ketika kisah utang piutang hanya diungkap setengah, ia tak berdampak apa-apa bagi yang mengungkap, bagi yang punya piutang. Namun, ia punya efek jelek bagi yang lain, bagi yang berutang.
Situasi yang sama terkait dengan soal perjanjian politik antara Anies, Sandi, dan Prabowo. Sandi sendiri yang mengungkap adanya deal itu, juga dalam sebuah podcast pada 26 Januari silam. Kata dia, perjanjian itu ditulis Fadli Zon jelang Pilgub DKI 2017 dan masih berlaku sehingga harus dipatuhi semua yang menandatangani.
Namun, sama seperti soal utang piutang, detail perjanjian tak dibeberkan. Tak jelas apakah di dalamnya termasuk kesepakatan bahwa Anies tidak akan nyapres jika Prabowo masih nyapres. Atau, apakah kesepakatan soal itu hanya berlaku untuk Pilpres 2019 yang telah dipatuhi Anies?
Fadli Zon yang ditanya kemudian pun enggan memberikan penjelasan terperinci. Padahal, dia tahu betul item per item karena dialah yang mengedraf dan menulisnya. Fadli hanya menyebutkan ada tujuh poin, urusannya urusan pilkada. Itu saja.
Begitulah, semuanya dibiarkan abu-abu, padahal kalau mau, sangat gampang membuatnya terang. Pihak Anies memang sudah mencoba meluruskan duduk persoalan. Menurut mereka, utang piutang itu betul ada, tetapi sudah selesai. Perjanjiannya utang dianggap lunas jika Anies-Sandi menang. Sejarah mencatat Anies-Sandi menjadi kampiun Pilkada DKI 2017.
Namun, pembelaan dari yang terstigma tak berarti banyak ketika narasi negatif telanjur menyebar ke publik. Pelurusan masalah hanya efektif jika dilakukan pihak yang memunculkan permasalahan. Actori incumbit probatio, actori onus probandi. Siapa yang mendalilkan, dia harus membuktikan, prinsip itulah yang semestinya dipatuhi Erwin dan Sandi. Sayang, hingga detik ini, keduanya tak melakukannya.
Publik butuh kejelasan. Kiranya rakyat tak akan suka dengan calon pemimpin yang ngemplang utang, yang suka berkhianat. Dalam khazanah Jawa, orang seperti itu akan terkena sengkolo sambit. Dia sial seumur hidup akibat tak mau bayar utang.
Namun, jangan pula memolitisasi utang piutang. Kalau Anies memang belum melunasi utang, mengingkari perjanjian, perlihatkan buktinya, tunjukkan dokumennya. Kebalikannya, kalau Anies memang sudah melunasi utang, katakan sejujurnya. Itu baru namanya berpolitik bermartabat, yang menjunjung tinggi etika.
Erwin, Sandi, dan Anies sudah lama berkawan dan saya yakin secara personal kini tetap teman. Namun, ketiganya kini berbeda haluan politik. Konon dalam politik, dulu kawan sekarang bisa menjadi lawan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.
POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita
SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved