Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
KEBENCIAN tidak memiliki akar dalam demokrasi. Bahkan, kebebasan yang menjadi inti dari demokrasi dilekati oleh tanggung jawab. Kebebasan itu paralel dengan kenyamanan, alih-alih ketakutan.
Tapi, di tangan Rasmus Paludan, kebebasan menghadirkan rasa takut. Ketakutan yang dipicu ulah politikus 'ekstrem kanan' Denmark itu serupa teror. Bahkan, teror untuk dirinya sendiri. Ia pun mengakui hadirnya rasa takut itu.
Tindakan Paludan membakar kitab suci Al-Qur’an di depan Kedutaan Besar Turki di Stockholm--di bawah perlindungan polisi dan izin dari otoritas setempat--akhir pekan lalu, sudah seperti kepongahan atas nama kebebasan. Wajar bila aksi itu memicu gelombang kecaman dan protes dari dunia Arab dan Islam.
Saya sepenuhnya sependapat dengan pernyataan Ketua Dewan Komunitas Yahudi di Stockholm, Lena Posner-Korosi. Kepada Anadolu Agency ia mengatakan bahwa Swedia memiliki undang-undang mengenai kebebasan berekspresi dan protes, tetapi aturan tersebut seharusnya tidak melewati batas hingga mengarah pada ujaran kebencian.
Sambil mengacu pada UU terkait kejahatan dan ujaran berdasarkan kebencian, Posner-Korosi menyebut tindakan itu dengan kalimat 'mengerikan dan menakutkan' bahwa aturan tersebut membolehkan orang melakukan tindakan-tindakan yang menyerang Al-Qur’an, Alkitab, dan Taurat.
Meskipun pelaku memiliki hak hukum, polisi seharusnya tidak mengizinkan orang yang bersangkutan melakukan tindakan tersebut di depan Kedutaan Besar Turki di Stockholm. Tindakan itu pun menyulut ketidaknyamanan, suatu keadaan yang bertolak belakang dari tujuan demokrasi.
“Tindakan itu jelas adalah provokasi. Ia bebas melakukannya di Swedia, tetapi ia tidak bisa memilih di mana akan dilakukan, itu seharusnya tidak diizinkan. Itu adalah kesalahan besar,” terangnya.
Posner-Korosi menegaskan bahwa kejadian tersebut tidak dapat diterima dan juga merupakan ancaman bagi demokrasi. Karena, siapa pun, mestinya merasa aman sebagai minoritas dalam masyarakat demokrasi. Itulah yang ia dan komunitas minoritas Yahudi di Swedia perjuangkan.
Posner-Korosi lalu menunjukkan peristiwa di Malmo, Swedia selatan, saat seorang perempuan menjadi sasaran kejahatan kebencian. Sang muslimah itu memakai jilbab dan jilbabnya coba dilepas. Perlakuan serupa juga dialami oleh seorang pria Yahudi yang mengenakan kipah (tutup kepala yang dipakai laki-laki Yahudi).
Pada situasi seperti itu, demokrasi sedang menghadapi dilema. Saya ingin mengutip pernyataan aktivis sosial dan perburuhan Kanada, Diane Kalen Sukra, bahwa demokrasi bukanlah 'sesuatu yang kita warisi sebagai hak suci'.
Demokrasi menuntut keberadaan para warga negara yang mau terlibat aktif, memiliki informasi yang baik, dan bertujuan mencapai kebaikan bersama (common good). Bukan hanya berusaha agar kepentingan kelompoknya sendiri berjaya.
Demokrasi akan mengalami distorsi atau penyelewengan makna yang berdampak buruk manakala sekadar direduksi sebagai alat. Sebab, di dalam demokrasi sejatinya ada nilai-nilai dasar, etika, bahkan etiket yang mesti diikuti.
Rasmus Paludan sudah terlampau jauh. Maka, ketika kini merasa takut, Paludan sebetulnya sedang memanen atas benih kebencian yang disemainya. Ia memilih jalan yang menjauh dari kearifan dalam universalitas kebebasan.
Tapi, itu bukan lantas memberi kita, atau siapa pun yang menolak aksi Paludan, 'cek kosong' untuk membalas dengan cara serupa. Kita kiranya lebih memilih jalan elok nan arif untuk menyikapi provokasi Paludan.
Apalagi, dalam kitab suci yang dibakar Paludan itu terdapat ajaran mulia: wajadilhum billati hiya ahsan. Makna bebasnya kira-kira: dan apabila kamu mendebat (tidak bersetuju), pakailah cara-cara yang baik, dengan metode elegan nan beradab.
RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.
KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.
ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.
BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.
REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk.
KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.
SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.
INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.
Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.
PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).
PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah
VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai
APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.
INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.
ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved