Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
APA yang mesti dilakukan setelah tragedi Kanjuruhan? Pertanyaan itu terus mengemuka seiring dengan lantunan doa dukacita yang tidak ada putus-putusnya. Memang begitulah seharusnya.
Tragedi kemanusiaan menerbitkan pelajaran. Tujuannya agar tidak ada lagi petaka serupa. Cukuplah kematian sebagai pemberi nasihat. Menukil dari Ebiet G Ade, 'mumpung masih ada waktu, kita mesti berbenah'.
Salah satu hal mendasar yang mendesak untuk dirombak ialah tata kelola sepak bola kita. Seruan itu sebenarnya sudah disampaikan berulang-ulang dalam berbagai kesempatan. Apalagi, korban kematian di sepak bola kita terjadi bukan cuma sekali.
Namun, gerakan perombakan tata kelola akhirnya sepi setelah dukacita terlewati. Istilah saat ini, 'semua kembali ke setelan pabrik'. Kita memang cepat lupa. Amnesia dalam kurun seketika. Benar kata Milan Kundera, perjuangan melawan 'kuasa' ialah perjuangan melawan lupa.
Saya sepenuhnya sepakat dengan desakan masyarakat sepak bola Indonesia bahwa ini saatnya merombak tata kelola. Kita berkejaran dengan waktu, berlari melawan momentum. Mulailah dari keberanian federasi untuk jujur mengakui banyak yang belum beres dengan tata kelola sepak bola.
Soal verifikasi stadion, misalnya. Tragedi Kanjuruhan menunjukkan bagaimana operator liga yang diamanati PSSI tidak melaksanakan tugasnya secara sungguh-sungguh. Stadion itu tidak diverifikasi lagi setelah terakhir dilakukan PSSI pada 2020. Padahal, mestinya tiap kompetisi hendak digelar, verifikasi stadion wajib dilakukan.
Hasil verifikasi stadion mestinya juga disampaikan secara terbuka. Mengapa stadion A layak, stadion Z tidak layak, jangan disembunyikan. Kesan seperti itu sempat muncul saat PSSI tidak merestui Persija menggunakan Jakarta International Stadium (JIS) sebagai kandang dengan alasan tidak jelas.
Begitu pula saat PSSI membatalkan penggunaan JIS untuk laga persahabatan timnas melawan Curacao tempo hari. Alasannya berubah-ubah. Awalnya JIS dianggap tidak berstandar FIFA, lalu diralat, terus diralat lagi, terus diralat lagi. Itu memantik kecurigaan publik ada yang disembunyikan dari pembatalan penggunaan JIS itu.
Belum lagi soal standar jaminan keamanan dan kenyamanan suporter yang amat jauh panggang dari api. Banyak yang mengkritik tidak adanya keseragaman standar baku antara tempat yang satu dan yang lainnya.
Aturan-aturan dasar pengamanan sebuah laga pun tidak dipahami secara merata. Ada sosialisasi yang tidak sampai. Bahkan, ada yang curiga tidak ada sosialisasi ihwal regulasi pengamanan pertandingan sepak bola sesuai dengan standar FIFA.
Apa saja langkah-langkah yang harus dilakukan saat ada gelagat yang mengarah ke situasi panas (misalnya muncul nyanyian-nyanyian kebencian, umpatan-umpatan, hingga gerakan tubuh), jangan-jangan tidak dikoordinasikan secara saksama.
Belum lagi soal bagaimana mestinya tampilan tim pengaman di dalam stadion. Mereka tidak boleh menunjukkan gestur keras. Bahkan, seragam pun mestinya disamarkan.
Menengok sejarah, sebetulnya kita termasuk negara yang paling awal memasuki sepak bola sebagai industri. Pada awal 1980, kita sudah punya kompetisi Galatama, saat negara seperti Jepang dan Korea Selatan belum sepenuhnya menata kompetisi mereka. Namun, kita tidak beranjak lagi. Kita berhenti, bahkan sempat mundur.
Menjadikan sepak bola sebagai sebuah industri tersendiri memang tidak bisa secara simsalabim. Namun, tata kelola dengan manajemen yang profesional sudah harus segera dilakukan tanpa menunda-nunda terus.
Saya teringat pernyataan mantan pelatih timnas yang kini menjadi Direktur Teknik PSSI Indra Sjafri. "Kita terlalu sering menonton liga-liga Eropa yang gemerlap sehingga kita ingin buru-buru meniru mereka, padahal kita hanya mengetahui kulit-kulitnya. Namun, jalan menuju ke sana harus kita mulai," kata Indra, enam tahun lalu.
Kini, perombakan tata kelola itu menjadi keniscayaan. Antusiasme publik terhadap sepak bola kita kian meningkat, hingga akhirnya tragedi Kanjuruhan mengempaskan optimisme itu ke titik nadir.
Namun, perombakan besar-besaran tata kelola sepak bola kita jangan-jangan memang harus dimulai saat berada di titik nadir itu. Duka masih menganga. Pelan-pelan kita menata semuanya agar tidak ada yang sia-sia.
RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.
KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.
ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.
BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.
REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk.
KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.
SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.
INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.
Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.
PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).
PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah
VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai
APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.
INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.
ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved