Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMERINTAH memang belum menaikkan harga bahan bakar minyak bersubsidi. Pemerintah juga belum mencabut subsidi BBM nonsubsidi yang disubsidi oleh Pertamina. Namun, hawa hangat soal rencana penaikan harga energi fosil itu sudah mulai terasa.
Ada politisi yang mulai ngegas kepada pemerintah agar jangan coba-coba menaikkan harga BBM sekarang. Ada yang sudah menyiapkan amunisi aksi. Bahkan, sudah ada yang mulai mengecek 'ombak' dengan menggelar aksi kecil-kecilan.
Fakta bahwa kuota BBM bersubsidi bakal habis dua bulan lagi; kenyataan bahwa subsidi bisa jebol hingga Rp600 triliun; serta data bahwa 80% penikmat subsidi ialah mereka yang mampu dan kaya tidak digubris. Pokoknya kalau pemerintah menaikkan harga BBM, mereka siap berteriak dan menggelar aksi berhari-hari.
Namun, saya tetap menganggap bahwa penaikan harga BBM kali ini sudah niscaya. Demi keadilan sosial dan ekonomi, demi menyelamatkan rakyat yang berhak menikmati subsidi, pemerintah sebaiknya tidak beringsut oleh gertakan apa pun dan dari mana pun. Yang penting, bantalan bantuan bagi yang paling terdampak sudah siap, kalkulasinya jelas, dan penjelasannya pas, jalan terus.
Hanya itu cara bagi kita untuk keluar dari jebakan subsidi energi. Hanya dengan begitu kita bisa memutus mata rantai simalakama subsidi barang atau komoditas. Lalu, kita menuju trek yang benar sesuai peta jalan pembebasan dari energi fosil.
Sekaranglah momentum yang tepat, yakni saat harga minyak dunia sedang tinggi-tingginya. Dalam kondisi seperti itu, argumentasi menaikkan harga BBM bersubsidi demi ketahanan fiskal dan keadilan sosial sangatlah masuk akal.
Jika tidak sekarang, boleh jadi kita bakal ketinggalan momentum. Bukan tidak mungkin, untuk beberapa waktu mendatang, harga minyak terjun bebas. Bila itu yang terjadi, akan sulit bagi kita membicarakan peta jalan keluar dari ketergantungan pada energi fosil.
Selain itu, momentum lainnya ialah perekonomian kita juga tengah menggeliat kembali. Dalam dua triwulan awal tahun ini, ekonomi kita tumbuh 5,1% di triwulan pertama dan 5,4% di triwulan kedua. Tingkat inflasi juga relatif terjaga di kisaran 4%.
Neraca perdagangan kita apalagi, surplus dalam 27 bulan berturut-turut. Utang luar negeri pemerintah juga relatif terkendali, bahkan rasionya terhadap produk domestik bruto mulai turun. Investasi juga mengalir deras ke Tanah Air. Tanda bahwa kita dipercaya.
Maka, dengan momentum seperti itu, mestinya tidak ada lagi sikap ragu-ragu. Bila mitigasinya pas, penaikan harga BBM justru membuat pekerjaan rumah permanen kita bisa tuntas.
Tirulah Norwegia, negara di Skandinavia yang tidak pernah memberikan subsidi energi kendati mereka eksportir energi nomor delapan di dunia. Mereka bersetia pada peta jalan green economy dengan memangkas emisi dari penggunaan BBM melalui kebijakan harga mahal.
Di negara ini, BBM dijual dengan harga US$2,68 atau sekitar Rp40.200 per liter. Dengan banderol sebesar itu, negara di Skandinavia ini menempati posisi kedua dengan harga BBM termahal di dunia setelah Hong Kong.
Padahal, tahun 2011, Norwegia ialah pengekspor minyak mentah terbesar kedelapan di dunia dan pengekspor minyak sulingan terbesar ke-9. Norwegia juga pengekspor gas alam terbesar ketiga di dunia, memiliki cadangan gas yang signifikan di Laut Utara. Norwegia juga memiliki beberapa cadangan batu bara terbesar di dunia yang berpotensi dapat dieksploitasi.
Namun, negara itu punya komitmen kuat menjadikan listrik bertenaga air sebagai bahan energi utama, termasuk penggerak mobil. Maka, jadilah Norwegia sebagai negara dengan persentase pengguna kendaraan listrik terbesar di dunia, hingga mencapai 81% dari total kendaraan di seluruh negeri.
Insentif pajak menjadi kunci, selain harga mahal BBM. Ada kampanye go electric or pay tax yang sangat efektif membuat rakyat Norwegia memilih kendaraan listrik ketimbang mobil berbahan bakar energi fosil. Ada pembebasan pajak jalan, bebas dari pajak pembelian dan penjualan, serta bebas dari tarif tol untuk pengguna mobil listrik.
Kini, saat harga minyak dunia tinggi, Norwegia tidak dibuat pusing. Mereka malah beruntung karena minyak mereka bisa diekspor tersebab kebutuhan dalam negeri sudah diatasi oleh energi listrik. Tentu, itu bukan dengan cara simsalabim. Itu cara cerdas dan pas dalam memanfaatkan momentum.
RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.
KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.
ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.
BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.
REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk.
KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.
SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.
INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.
Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.
PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).
PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah
VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai
APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.
INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.
ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved