Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Setelah Pesta Usai

Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group
19/8/2022 05:00
Setelah Pesta Usai
Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

KATA banyak orang, bahagia itu sederhana. Bahagia bisa didapat tanpa harus jauh-jauh berwisata, bermewah-mewah, dan menghabiskan banyak biaya. Bahagia bisa dinikmati di sekitar kita bersama orang-orang terdekat atau tetangga.

Kebahagiaan yang sederhana itulah yang baru saja kita rasakan. Tidak hanya orang per orang, kelompok per kelompok, komunitas per komunitas, seluruh anak bangsa menikmatinya. Semua sama, sama-sama bahagia di hari kemerdekaan kita.

Ya, dua hari lalu, tepatnya pada Rabu Kliwon, 17 Agustus 2022, negara kita tepat berusia 77 tahun. HUT kemerdekaan sebenarnya ritual biasa. Saban tahun kita rayakan. Namun, HUT ini lain. Terasa berbeda. Terasa lebih bermakna. Penyebabnya, baru tahun inilah ia bisa dirayakan kembali secara bebas setelah selama dua tahun sebelumnya terpenjara virus korona.

Euforia menggelora di mana-mana. Di seluruh penjuru Tanah Air, semua orang berpesta. Pesta sebagai ungkapan syukur, juga pengingat bahwa sudah 77 tahun Indonesia berdiri sebagai bangsa yang berdaulat.

Wajar, sangat wajar, jika keceriaan begitu kentara. Upacara yang kemudian disusul dengan beragam lomba seperti peringatan HUT kemerdekaan di masa normal sebelumnya sungguh menggembirakan.

Rakyat dari pelosok hingga para pejabat di halaman istana, semua bahagia. Masyarakat dari anak-anak sampai dewasa, dari balita hingga warga lansia, bahagia dengan tarik tambang, panjat pinang, balap karung, makan kerupuk, dan menu-menu wajib lomba Agustusan lainnya. Yang berlomba senang, yang nonton senang.

Di istana, saking senangnya, para menteri, para petinggi negeri ini, tak malu-malu berdangdut ria selepas upacara. Penampilan Farel Prayoga, bocah asal Banyuwangi, Jawa Timur, mampu menggerakkan tangan, kaki, dan pinggul mereka. Tembang Ojo Dibandingke yang dilantunkan Farel bahkan membuat Ibu Negara Iriana Jokowi tak kuasa untuk tak bergoyang.

Sungguh menyenangkan melihat suasana itu. Tidak ada sekat, tidak ada jarak, tidak ada pembedaan di antara kita. Di masyarakat, cebong dan kadrun luruh dalam semangat yang sama, semangat nasionalisme, semangat mencintai bangsa ini. Di istana, perbedaan partai politik pergi entah ke mana. Yang tersisa hanya satu, pargoy, partai goyang.

HUT kali ini terasa kian spesial dengan datangnya kabar-kabar gembira. Untuk kali pertama, Pondok Pesantren Al Mukmin Ngruki, Sukoharjo, Jawa Tengah, menghelat upacara besar-besaran memperingati kemerdekaan RI. Sekitar 800 santri dan pengasuh pondok dengan khidmat mengikuti upacara. Jelas, itu fenomena yang luar biasa.

Sudah 50 tahun pesantren besutan Ustaz Abu Bakar Ba'asyir beroperasi. Namun, selama itu pula mereka tak pernah menggelar upacara HUT kemerdekaan RI. Pesantren Ngruki selama ini disebut-sebut anti Pancasila, anti NKRI. Ba'asyir pun baru delapan bulan bebas dari LP karena kasus terorisme. Kalau akhirnya kini mereka menunjukkan kecintaan kepada bangsa dan negara, nikmat apa lagi yang kita ingkari?

Kabar bahagia datang pula dari Tasikmalaya, Jawa Barat. Di sini, di Ponpes Hamalatul Quran, 75 eks napi teroris menjadi petugas dan pengibar bendera merah putih dalam upacara HUT kemerdekaan.

Di Sulawesi Tengah, 15 mantan teroris berikrar setia kepada NKRI. Begitu juga 40 napiter di LP Khusus Gunungsindur, Bogor. Ah, semakin banyak saja para penyimpang yang kembali ke jalan yang lurus. Semoga postulat bahwa pada waktunya semua akan NKRI benar adanya.

Kita layak bahagia di hari kemerdekaan. Namun, apa faedahnya kalau kebahagiaan itu hanya sesaat? Cuma sementara? Menjelang dan saat perayaan HUT kemerdekaan, nasionalisme setiap orang meledak-ledak. Namun, setelah pesta usai, masih menggebukah semangat itu?

Menjelang dan saat perayaan HUT kemerdekaan, ikatan kita sebagai sesama anak bangsa terasa begitu kuat. Namun, setelah pesta berakhir, masih adakah ikatan itu?

Mencintai negeri untuk mengisi kemerdekaan gampang diucapkan, tapi teramat sulit direalisasikan. Bagaimana bisa dibilang cinta bangsa ini kalau masih ada pejabat yang doyan menyengsarakan rakyat? Bagaimana bisa disebut cinta negara ini kalau penginnya bertengkar terus dengan saudara sebangsa?

Kita memang sudah tujuh dekade lebih lepas dari penjajahan bangsa asing. Namun, penjajahan oleh bangsa ini dalam berbagai wujud kiranya masih terjadi. Berlaku tidak adil dan mempermainkan hukum ialah bentuk penjajahan. Menggunakan kekuasaan dan kewenangan secara sewenang-wenang juga bentuk penjajahan.

Teramat sulit untuk diterima di negara merdeka, misalnya, masih ada jenderal di lembaga penegak hukum yang begitu kejam membunuh anak buahnya dengan cara yang sangat kejam. Akan sangat sulit diterima pula jika institusi tempat sang jenderal bernaung tak mampu karena tak mau menindak siapa pun yang terlibat dalam kekejaman tiada tara itu.

Kita berhak berbahagia di hari kemerdekaan. Namun, yang lebih penting, kebahagiaan yang abadi. Bukan hanya saat ini, melainkan juga di hari-hari nanti. Bung Hatta bilang, “Indonesia merdeka bukan tujuan akhir kita. Indonesia merdeka hanya syarat untuk bisa mencapai kebahagiaan dan kemakmuran rakyat.”

Pesta sudah usai. Marilah kita kembali ke dunia nyata, dunia yang tak sepenuhnya merepresentasikan hakikat merdeka.



Berita Lainnya
  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

Opini
Kolom Pakar
BenihBaik